Masyarakat Indonesia baru-baru ini dikejutkan oleh beredarnya informasi viral di media sosial mengenai rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melonjak drastis per 1 April 2026. Dalam narasi yang beredar, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax disebut-sebut akan menembus angka Rp17.000 per liter.
Menanggapi kegaduhan tersebut, PT Pertamina (Persero) segera memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan simpang siur informasi yang meresahkan pengguna kendaraan bermotor di tanah air.
Infografis “Confidential” dan Spekulasi Harga Melambung
Isu ini memuncak setelah sebuah infografis berlabel “CONFIDENTIAL” tersebar luas di platform pesan singkat dan media sosial. Dokumen tersebut mengklaim adanya penyesuaian harga jual eceran BBM nonsubsidi yang sangat signifikan.
Pemicunya disebut-sebut adalah kondisi geopolitik global, terutama ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Dalam rincian yang beredar, harga Pertamax (RON 92) diproyeksikan melonjak menjadi Rp17.850 per liter, naik drastis dari harga Maret 2026 yang berada di angka Rp12.300 per liter.
Tak hanya Pertamax, produk bensin lainnya juga disebut akan merangkak naik, seperti Pertamax Green 95 menjadi Rp19.150 dan Pertamax Turbo menyentuh Rp19.450 per liter.
Lonjakan Harga Solar dan Dampak Nilai Tukar Rupiah
Proyeksi kenaikan paling ekstrem dalam informasi viral tersebut menyasar jenis solar nonsubsidi. Pertamina Dex diperkirakan naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.950 per liter, sementara Dexlite melonjak dari Rp14.200 menjadi Rp23.650 per liter.
Kenaikan yang nyaris menyentuh angka Rp10.000 per liter ini dikaitkan dengan pelemahan nilai tukar Rupiah yang berada di level Rp16.877 per dolar AS.
Selain itu, lonjakan Harga Indeks Pasar (HIP) BBM RON 92 yang diklaim naik hingga 62,44 persen (dari 73,91 dolar AS menjadi 120 dolar AS per barel) menjadi landasan argumen di balik angka-angka fantastis yang beredar di masyarakat tersebut.
Klarifikasi Pertamina: “Informasi Tidak Dapat Dipertanggungjawabkan”
Menyikapi hal ini, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pengumuman resmi terkait perubahan harga BBM per 1 April 2026. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah termakan isu yang sumbernya tidak jelas.
“Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April 2026. Proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar di media sosial tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Baron dalam keterangannya.
Baron juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan menggunakan energi secara bijak di tengah situasi ekonomi global yang dinamis.
Komitmen Pemerintah Jaga Harga BBM Bersubsidi
Di sisi lain, pemerintah memastikan akan terus berupaya melindungi daya beli masyarakat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan tengah mengupayakan agar harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami kenaikan.
Meskipun dunia tengah dibayangi krisis energi akibat gejolak di Timur Tengah, fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas harga energi domestik agar tidak membebani ekonomi rakyat kecil.
Masyarakat disarankan untuk selalu memantau kanal komunikasi resmi Pertamina atau kementerian terkait untuk mendapatkan update harga BBM yang valid dan akurat.
Kabar mengenai kenaikan harga Pertamax hingga Rp17 ribu per 1 April 2026 sejauh ini masih berstatus sebagai informasi yang tidak resmi. Pertamina meminta konsumen untuk tetap merujuk pada situs resmi perusahaan untuk setiap perubahan harga produk mereka.