Era digital bukan lagi masa depan, melainkan realitas yang harus dihadapi sekarang. Sebanyak 500 siswa di SMP Plus Muthahhari, Kabupaten Bandung, baru saja menyelami dunia kecerdasan artifisial melalui workshop bertajuk “Empowering Students for the Future: AI Literacy for a Digital ASEAN.”
Agenda kolaborasi apik antara ASEAN Foundation dan Google.org ini hadir sebagai jawaban atas tantangan transformasi digital yang kian masif di kawasan Asia Tenggara.
Urgensi Literasi AI untuk Talenta Muda
Workshop ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan bagian dari inisiatif regional AI Ready ASEAN. Tujuannya jelas: membekali Gen Z dengan kompas literasi agar tidak tersesat di tengah banjir teknologi.
Para siswa diajak memahami fundamental Artificial Intelligence (AI) sekaligus belajar bagaimana mengoptimalkan teknologi ini untuk mendukung proses belajar tanpa kehilangan jati diri sebagai pelajar yang kreatif.
Secara regional, dampak program ini sangat masif. Sejak pertama kali digulirkan, AI Ready ASEAN telah menjangkau lebih dari 6 juta penerima manfaat di seluruh Asia Tenggara.
Angka ini mencakup 100.000 peserta pelatihan mendalam serta lebih dari 3.500 Master Trainers yang siap menjaga keberlanjutan edukasi AI di sekolah-sekolah. Indonesia, dengan bonus demografi yang melimpah, menjadi titik fokus strategis dalam menciptakan ekosistem digital yang inklusif.
Pesan Wapres Gibran: AI Boleh Digunakan, Berpikir Kritis Tetap Utama
Kehadiran Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, memberikan bobot penting pada kegiatan ini. Dalam arahannya, Wapres menegaskan bahwa AI adalah alat pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Beliau menekankan pentingnya penguatan talenta digital yang diimbangi dengan tata kelola etis.
“AI tetap dapat dimanfaatkan, namun kemampuan berpikir kritis anak-anak harus tetap dijaga. Jangan sampai semua jawaban dicari dari AI hingga menimbulkan ketergantungan,” tegas Wapres Gibran.
Beliau juga mengingatkan bahwa peran guru dan orang tua menjadi krusial sebagai navigator bagi anak-anak agar tetap bijak dan tidak tertinggal oleh cepatnya arus teknologi. Computational thinking dan logika kritis harus menjadi prioritas utama di samping kecanggihan alat yang digunakan.
Membuka Pintu Peluang yang Sama
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam, menyoroti bahwa akses terhadap pengetahuan AI adalah hak setiap pelajar. Menurutnya, transformasi digital adalah tentang memberikan kesempatan bagi anak muda untuk bermimpi lebih besar dan menciptakan dampak nyata bagi komunitas mereka.
Melalui workshop yang aplikatif dan kontekstual, para siswa diajak berdiskusi langsung mengenai pemanfaatan AI yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Membangun Masa Depan Digital yang Inklusif
Sinergi antara institusi regional, pemerintah, dan sektor swasta seperti Google.org ini membuktikan bahwa pendidikan digital adalah tanggung jawab kolektif. Dengan fondasi literasi yang kuat sejak di bangku sekolah, generasi muda Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penonton atau konsumen teknologi, tetapi tumbuh menjadi inovator dan penggerak ekonomi digital di kancah global.
Workshop di Bandung ini menjadi bukti nyata bahwa literasi AI yang tepat dapat membangun rasa percaya diri siswa untuk menyongsong masa depan yang lebih cerdas, etis, dan berdaya saing.