Sidang ulang kasus kematian legenda sepak bola Diego Maradona di Buenos Aires, Argentina, telah mengungkap serangkaian tuduhan mengejutkan terhadap tim medis yang merawatnya.
Jaksa penuntut menyatakan bahwa Maradona “dibiarkan mati,” dengan dokter-dokter yang digambarkan sebagai “sekelompok amatir” yang mengabaikan banyak tanda peringatan serius. Pengacara Fernando Burlando, yang mewakili kedua putrinya, Dalma dan Gianinna, bahkan menyatakan dengan blak-blakan: “Dia dibunuh.”
Tujuh anggota tim medis, termasuk dokter, perawat, dan psikolog, didakwa dengan pembunuhan karena kelalaian setelah Maradona meninggal pada tahun 2020 akibat serangan jantung pada usia 60 tahun. Saat itu, ia sedang dalam masa pemulihan setelah menjalani operasi otak untuk mengangkat gumpalan darah.
Menurut dakwaan, tempat Maradona menerima perawatan digambarkan sebagai “rumah horor” karena ia tidak menerima perawatan medis yang layak. Pemeriksaan mengungkapkan jantungnya berukuran dua kali lipat dari ukuran normal, dan ia menderita kardiomiopati dilatasi, miokarditis, dan sirosis. Yang perlu diperhatikan, Maradona dilaporkan terbaring kesakitan selama berjam-jam di ruangan gelap sebelum kematiannya.
Detail mengejutkan terus terungkap ketika Maradona masih diizinkan minum bir di pagi hari, mengonsumsi pil tidur yang dicampur alkohol di malam hari, dan bahkan mandi menggunakan selang air alih-alih menerima bantuan medis yang layak. Jaksa Patricio Ferrari menimbulkan sensasi dengan menunjukkan gambar-gambar saat-saat terakhir sang legenda yang penuh penderitaan, sebelum menekankan: “Tidak seorang pun (tim medis) melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.”
Persidangan ini berlangsung setelah persidangan sebelumnya dibatalkan karena skandal yang melibatkan Hakim Julieta Makintach. Ia adalah salah satu dari tiga hakim yang memimpin persidangan tim medis Maradona, tetapi ia terlibat dalam sebuah film dokumenter tentang kematian legenda sepak bola Argentina tersebut.
Cuplikan film tersebut menunjukkan hakim perempuan itu mengizinkan media untuk merekam dan mewawancarai tentang kasus tersebut, yang bertentangan dengan hukum. Ketika cuplikan film dokumenter itu ditayangkan di pengadilan, pengacara keluarga Maradona menyebut Hakim Makintach sebagai “sampah.” Akibatnya, ia harus mengundurkan diri.
Lebih dari lima tahun telah berlalu, dan dunia sepak bola masih memuja Maradona sebagai seorang jenius yang tak tertandingi. Namun, kebenaran tentang hari-hari terakhirnya yang menyakitkan, yang ditandai dengan pengabaian dan pelecehan, terus mengejutkan dunia.
Hampir 100 saksi, termasuk kerabat dan mantan rekan Maradona, diperkirakan akan memberikan kesaksian. Jika terbukti bersalah, para terdakwa dapat menghadapi hukuman penjara mulai dari 8 hingga 25 tahun. Dan setelah semua ini, keadilan untuk pahlawan Argentina itu belum juga ditegakkan.
Lahir pada tahun 1960, Maradona adalah ikon abadi sepak bola dunia, setelah memenangkan Piala Dunia 1986 dan mencetak dua mahakarya: “Tangan Tuhan” dan “Gol Abad Ini.” Namun di balik momen-momen gemilang itu tersembunyi perjuangan panjang melawan narkoba dan masalah kesehatan.
Ia diskors selama 15 bulan pada tahun 1991 karena doping, kemudian dilarang lagi dari Piala Dunia 1994 ketika sampelnya mengandung lima zat terlarang. Pada tahun 1997, tes doping ketiga menunjukkan hasil positif, yang sepenuhnya mengakhiri karier gemilang Maradona.
Pada 25 November 2020, Maradona meninggal dunia pada usia 60 tahun di sebuah rumah di Tigre, Argentina, saat sedang memulihkan diri dari operasi untuk hematoma otak. Otopsi mengungkapkan bahwa jantungnya berukuran dua kali lipat dari ukuran normal, bersamaan dengan kardiomiopati dilatasi, sirosis, dan miokarditis.