Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapannya membuka jalur dialog dengan Iran di tengah eskalasi konflik bersenjata yang kian meluas di Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan setelah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang disebut-sebut menargetkan pusat kekuasaan rezim di Teheran.
Berbicara kepada majalah The Atlantic, Trump mengatakan dirinya tidak menutup pintu komunikasi dengan kepemimpinan baru Iran yang tersisa.
“Mereka ingin berbicara, dan saya sudah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka,” ujarnya dikutip Mashable Indonesia dari The Guardian.
“Seharusnya mereka melakukannya lebih awal. Mereka seharusnya memberikan apa yang sangat praktis dan mudah dilakukan sejak awal. Mereka menunggu terlalu lama,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut muncul saat serangan udara dan rudal balasan terus mengguncang kawasan. Pada hari kedua pemboman intensif, sejumlah kota besar Iran dilaporkan menjadi sasaran.
Media pemerintah Iran menyebut sedikitnya 165 orang tewas dalam serangan bom di sebuah sekolah dasar putri di Minab, wilayah selatan negara itu. Secara keseluruhan, ratusan warga sipil dilaporkan menjadi korban tewas maupun luka-luka.
Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, menuduh serangan AS dan Israel dengan sengaja menyasar kawasan permukiman.
Sementara itu, konflik meluas ke Lebanon setelah kelompok Hizbullah meluncurkan rudal dan drone ke wilayah utara Israel sebagai respons atas tewasnya Khamenei. Israel kemudian membalas dengan menggempur target-target Hizbullah.
Sejumlah laporan media Amerika Serikat menyebut Badan Intelijen Pusat (CIA) telah memantau pergerakan Khamenei selama berbulan-bulan.
The New York Times melaporkan bahwa CIA memberikan informasi kepada Israel ketika Khamenei menggelar pertemuan penting dengan pejabat pertahanan di kompleksnya di Teheran, yang kemudian memicu keputusan untuk melakukan serangan.
Stasiun televisi Israel Channel 12 melaporkan militer Israel menjalankan operasi pengelabuan sebelum serangan dilancarkan.
Disebutkan bahwa sejumlah pejabat tinggi militer Iran tewas dalam hitungan detik pertama serangan udara tersebut. Trump, dalam wawancaranya dengan Fox News, mengklaim 48 pemimpin Iran tewas dalam dua hari pertama pemboman.
Ia juga menyatakan sembilan kapal perang Iran telah ditenggelamkan dan markas angkatan laut dihancurkan, meski klaim itu belum diverifikasi secara independen.
Korban juga jatuh di pihak Israel dan Amerika Serikat. Sembilan warga Israel dilaporkan tewas akibat serangan balasan rudal Iran. Militer AS mengonfirmasi tiga tentaranya tewas dan lima lainnya terluka akibat serpihan ledakan, tanpa merinci lokasi kejadian.
Ketegangan turut berdampak pada negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Bandara di Kuwait, Abu Dhabi, dan Dubai dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan rudal dan sempat ditutup, memicu gangguan besar pada lalu lintas penerbangan internasional.
Sekitar 150 kapal tanker minyak dilaporkan memilih berlabuh dan tidak melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Perusahaan pelayaran global seperti MSC dan Maersk menghentikan operasional di kawasan tersebut, memicu lonjakan harga minyak dunia.
Di tengah situasi yang memanas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan meningkatkan serangan terhadap Iran. Trump sendiri menyatakan akan melihat perkembangan situasi sebelum memutuskan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan mendukung pemberontakan rakyat Iran terhadap rezim.
“Saya akan melihat situasi pada saat itu terjadi,” katanya. Ia juga memperingatkan kemungkinan jatuhnya lebih banyak korban dari pihak Amerika dan menegaskan akan membalas setiap kematian warga AS.
Pemerintah Iran menegaskan kematian Khamenei tidak akan melemahkan tekad mereka. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Netanyahu dan Trump telah melewati garis merah dan akan membayar harganya, menurut laporan media pemerintah Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara yang akan menjalankan tugas pemimpin tertinggi hingga pengganti resmi ditunjuk.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan proses penunjukan pemimpin baru akan dipercepat mengingat kondisi darurat.
“Tentu saja tidak ada batas waktu tetap. Mereka bisa memutuskan secepat mungkin. Saya rasa tidak akan memakan waktu lama karena kami berada dalam situasi kritis akibat perang agresi yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan Israel. Jadi saya kira prosesnya akan dipercepat,” ujarnya.
Dampak politik konflik ini juga terasa di dalam negeri Amerika Serikat. Trump mengklaim perekonomian negaranya tetap kuat meski perang berlangsung.
“Kita memiliki ekonomi terbaik yang pernah kita miliki,” ujarnya.
Namun jajak pendapat Reuters-Ipsos menunjukkan hanya sekitar seperempat warga Amerika yang menyetujui serangan terhadap Iran, bahkan sebelum dampak inflasi akibat kenaikan harga minyak dirasakan secara luas.
Dengan eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda, peluang dialog antara Amerika Serikat dan Iran kini menjadi sorotan utama dunia. Pernyataan Trump membuka kemungkinan jalur diplomasi di tengah konflik bersenjata yang berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah dan mengguncang ekonomi global.