Pemerintah Vietnam resmi mengeluarkan instruksi besar-besaran untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Perdana Menteri Pham Minh Chinh memberikan mandat khusus untuk mempercepat adopsi panel surya atap (rooftop solar) dan penghematan energi guna menopang pertumbuhan ekonomi serta ekosistem kendaraan listrik (EV) yang tengah berkembang pesat di negara tersebut.
Langkah strategis ini diambil saat Vietnam menghadapi tekanan besar untuk menyediakan pasokan listrik yang stabil bagi industri manufaktur dan kebutuhan domestik, sembari mengejar target ambisius Net Zero Emission pada tahun 2050.
Melansir dari Solar Quarter, Senin (06/04/2026), PM Pham Minh Chinh menegaskan bahwa ketersediaan listrik yang andal adalah prioritas utama pemerintah. Hal ini menjadi krusial mengingat Vietnam kini menjadi salah satu pusat produksi otomotif di Asia Tenggara, terutama dengan ambisi mereka memimpin pasar kendaraan listrik melalui merk lokal seperti VinFast.
Pemerintah meminta seluruh sektor—mulai dari perkantoran, bisnis, hingga rumah tangga—untuk aktif mengurangi penggunaan energi guna menghindari krisis listrik pada masa beban puncak (peak demand). Budaya hemat energi ini diharapkan menjadi fondasi jangka panjang bagi stabilitas nasional.
Salah satu poin krusial dalam rencana ini adalah percepatan pengembangan sistem tenaga surya atap. Pemerintah berkomitmen menyederhanakan prosedur birokrasi dan menciptakan regulasi yang lebih suportif bagi individu maupun perusahaan yang ingin memasang panel surya.
Kebijakan baru ini menekankan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah mendorong konsep produksi dan konsumsi listrik secara mandiri, sehingga masyarakat dan pelaku usaha tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik utama.
Selain itu, terdapat peluang insentif ekonomi melalui skema penjualan kelebihan listrik ke jaringan nasional, yang memungkinkan pemilik panel surya memperoleh keuntungan finansial dari energi yang dihasilkan.
Tak hanya itu, pengembangan listrik tenaga surya atap juga diprediksi akan mempercepat adopsi kendaraan listrik di level rumah tangga, karena pemilik EV nantinya dapat mengisi daya kendaraan secara mandiri menggunakan energi matahari yang lebih hemat dan berkelanjutan.
Tak hanya soal sumber energi, Vietnam juga fokus pada perbaikan infrastruktur. Proyek jalur transmisi 500kV Circuit-3 menjadi sorotan utama. Jalur ini dirancang untuk mendistribusikan kelebihan listrik dari wilayah surplus ke daerah-daerah yang mengalami defisit pasokan.
Kementerian Perindustrian dan Perdagangan serta Vietnam Electricity (EVN) telah diinstruksikan untuk memacu pengerjaan proyek ini guna meminimalisir keterlambatan yang bisa mengganggu iklim investasi industri.
Meskipun gencar mempromosikan energi bersih, Vietnam tetap menerapkan strategi bauran energi yang seimbang. Pembangkit listrik tenaga air (hidro) dan termal tetap dipertahankan sebagai penyangga stabilitas guna mengurangi risiko fluktuasi harga bahan bakar global maupun perubahan cuaca yang ekstrem.
Langkah agresif Vietnam ini mengirimkan sinyal kuat bagi industri otomotif global yaitu Vietnam siap menjadi pusat manufaktur hijau di kawasan Asia. Dengan mengkombinasikan investasi infrastruktur jangka panjang dan aksi hemat energi jangka pendek, Vietnam optimis dapat membangun sistem energi yang tangguh demi masa depan mobilitas berkelanjutan.