Paus Leo melontarkan kritik keras terhadap para pemimpin dunia yang terlibat dalam peperangan dengan menyebut Tuhan tidak akan mendengarkan doa mereka yang tangannya berlumuran darah.
Pernyataan itu disampaikan dalam misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus dan dinilai sebagai sindiran terbuka terhadap kebijakan pemerintahan Donald Trump di tengah meningkatnya ketegangan global.
Dalam khotbahnya di hadapan puluhan ribu umat, Paus menegaskan bahwa konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan United States merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa dibenarkan atas nama agama. Ia secara tegas menyampaikan bahwa ajaran Yesus tidak pernah mendukung kekerasan.
“Inilah Tuhan kita: Yesus, raja damai, yang menolak perang, yang tidak bisa digunakan siapa pun untuk membenarkan perang. Dia tidak mendengarkan doa orang-orang yang berperang, melainkan menolaknya,” ujar Paus Leo seperti dikutip Mashable Indonesia dari The Guardian.
Pernyataan tersebut diperkuat dengan kutipan dari Alkitab yang menyoroti kecaman terhadap kekerasan. “Sekalipun kamu memperbanyak doa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh darah,” kata Paus, mengutip ayat suci untuk menegaskan pesannya.
Meskipun tidak menyebut nama secara langsung, komentar Paus muncul hanya beberapa hari setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan doa yang mengandung seruan kekerasan terhadap musuh.
Dalam sebuah acara ibadah di Washington, Hegseth mengatakan, “Biarlah setiap peluru menemukan sasarannya terhadap musuh kebenaran dan bangsa besar kita… dan berikan kekerasan tindakan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak layak mendapat belas kasihan.”
Ucapan tersebut memicu kontroversi luas karena dinilai mencampurkan keyakinan agama dengan kebijakan militer. Hegseth diketahui merupakan bagian dari komunitas gereja yang berafiliasi dengan Communion of Reformed Evangelical Churches, yang memiliki pandangan ideologis kuat terkait nasionalisme Kristen.
Ketegangan semakin meningkat ketika ribuan pasukan Amerika Serikat dikerahkan ke kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari persiapan operasi militer.
Sejumlah pejabat AS mengindikasikan bahwa Pentagon tengah merancang operasi darat yang bisa berlangsung selama beberapa pekan.
Dari pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan pernyataan keras bahwa pasukannya siap menghadapi kehadiran militer AS. Ia bahkan menyebut tentaranya menunggu untuk “membakar” pasukan Amerika jika konflik terus memanas.
Di tengah eskalasi tersebut, Paus kembali menegaskan bahwa kekerasan tidak pernah menjadi jalan keluar. Ia mengingatkan kisah dalam Alkitab ketika Yesus menegur murid yang menggunakan pedang untuk melawan penangkapan dirinya.
“Ia menunjukkan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri, ia membiarkan dirinya disalibkan,” ujar Paus.
Seruan perdamaian juga disampaikan Paus dengan mendesak penghentian serangan udara serta gencatan senjata di kawasan yang terdampak konflik. Ia menyampaikan kekhawatiran mendalam bahwa umat Kristen di wilayah tersebut terancam tidak dapat merayakan Paskah akibat situasi keamanan yang memburuk.
Situasi semakin kompleks setelah insiden di Yerusalem, di mana aparat kepolisian Israel mencegah Kardinal Pierbattista Pizzaballa memasuki Gereja Makam Kudus untuk memimpin misa. Kejadian itu langsung menuai kritik dari berbagai negara Barat.
Duta Besar AS Mike Huckabee menyebut tindakan tersebut sebagai “langkah yang disayangkan dan berlebihan”. Sementara itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menilai insiden tersebut sebagai “penghinaan bukan hanya bagi umat beriman tetapi juga bagi siapa pun yang menghormati kebebasan beragama”.
Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menegaskan bahwa kebebasan beribadah di Yerusalem harus dijamin untuk semua agama.
Menanggapi kritik tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tidak ada niat buruk dalam insiden tersebut dan menegaskan bahwa pembatasan dilakukan semata-mata karena alasan keamanan. Namun, ia kemudian menginstruksikan agar Kardinal Pizzaballa diberikan akses penuh ke lokasi ibadah tersebut.
Dengan meningkatnya ketegangan militer dan penggunaan narasi agama oleh berbagai pihak, pernyataan Paus menjadi sorotan global sebagai seruan moral yang kuat. Pesan yang disampaikan menekankan bahwa agama seharusnya menjadi jembatan perdamaian, bukan justifikasi untuk konflik bersenjata yang terus memakan korban.