Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran dengan menyatakan bahwa negaranya dapat melumpuhkan seluruh negara itu dalam satu malam apabila Teheran gagal memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Gedung Putih pada Senin (06/04/26) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa batas akhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima jatuh pada pukul 20.00 waktu Washington DC pada Selasa, atau sekitar pukul 00.00 GMT Rabu.
Kesepakatan yang dimaksud mencakup jaminan kelancaran arus energi di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi perhatian utama komunitas internasional.
“Seluruh negara itu bisa dilumpuhkan dalam satu malam — dan malam itu mungkin besok malam,” ujar Trump dalam konferensi pers dikutip Mashable Indonesia dari BBC.
Ia juga memperingatkan bahwa jika tenggat tersebut terlewati tanpa hasil, maka Iran akan menghadapi konsekuensi serius. “Mereka tidak akan punya jembatan. Mereka tidak akan punya pembangkit listrik,” katanya, menggambarkan potensi serangan terhadap infrastruktur vital.
Meski demikian, Trump tetap menyatakan keyakinannya bahwa sebagian pemimpin Iran masih bernegosiasi dengan itikad baik. “Kita akan lihat nanti,” ucapnya, menandakan bahwa hasil pembicaraan masih belum bisa dipastikan.
Pemerintah Iran sendiri sebelumnya menolak usulan gencatan senjata sementara yang diajukan pihak Amerika Serikat. Teheran justru menuntut penghentian konflik secara permanen serta pencabutan sanksi sebagai syarat utama menuju kesepakatan.
Perbedaan sikap ini membuat proses negosiasi berjalan alot dan belum menunjukkan titik temu yang jelas.
Konferensi pers tersebut turut dihadiri oleh Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Kehadiran keduanya menegaskan bahwa isu yang dibahas tidak hanya berkaitan dengan diplomasi, tetapi juga kesiapan militer Amerika Serikat.
Dalam kesempatan itu, Trump juga menyinggung keberhasilan operasi militer terbaru AS yang berhasil menyelamatkan dua awak jet tempur F-15 yang jatuh di wilayah selatan Iran. Ia menyebut misi tersebut sebagai aksi heroik, sekaligus menegaskan kemampuan militer negaranya dalam menjalankan operasi berisiko tinggi di wilayah konflik.
Namun, fokus utama tetap tertuju pada potensi eskalasi jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Trump kembali menegaskan bahwa opsi militer tetap berada di atas meja, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi dan transportasi Iran.
Ancaman ini memicu kekhawatiran global mengingat dampaknya bisa meluas, terutama terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Seorang pejabat regional yang mengetahui jalannya pembicaraan menyebutkan bahwa peluang tercapainya kemajuan signifikan dalam negosiasi masih kecil tanpa adanya gencatan senjata lebih dulu. Ia juga mengungkapkan bahwa komunikasi dengan pihak Iran menjadi tantangan tersendiri akibat gangguan jaringan yang sedang terjadi.
“Untuk menyampaikan pesan ke Iran, mendapatkan respons dalam waktu yang wajar tidak memungkinkan. Rata-rata waktu respons sekitar satu hari atau lebih,” ujar pejabat tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Upaya mediasi terus dilakukan oleh sejumlah negara, termasuk Pakistan, Turki, dan Mesir, guna meredakan ketegangan dan mendorong tercapainya solusi diplomatik. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa perundingan akan segera menghasilkan kesepakatan konkret.
Di sisi lain, para ahli hukum internasional mengingatkan bahwa serangan sistematis terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum perang.
Mereka menilai bahwa tindakan menghancurkan fasilitas seperti pembangkit listrik atau jembatan berpotensi menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa ia tidak khawatir dengan kemungkinan tersebut. Ia bahkan menyatakan bahwa rakyat Iran akan “bersedia menderita demi mendapatkan kebebasan”, meskipun ia menegaskan bahwa menggulingkan pemerintahan Iran bukanlah tujuan utama kebijakan AS saat ini.
Tak hanya itu, Trump juga melontarkan kritik terhadap sejumlah sekutu utama Amerika Serikat, termasuk Inggris, NATO, dan Korea Selatan, yang dinilainya tidak memberikan dukungan memadai selama konflik berlangsung.
“Itu adalah noda bagi NATO yang tidak akan pernah hilang,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak bergantung pada Inggris.
Menurut data terbaru dari Komando Pusat militer AS, lebih dari 13.000 serangan telah dilakukan di berbagai wilayah Iran sejak konflik dimulai. Angka ini menunjukkan intensitas operasi militer yang terus meningkat dan memperbesar risiko konflik berkepanjangan jika tidak segera ditemukan solusi diplomatik.