Donald Trump memastikan rencana pertemuannya dengan Xi Jinping di China akan berlangsung pada 14–15 Mei, setelah sebelumnya kunjungan tersebut ditunda akibat eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Trump, sekaligus menandai potensi pertemuan penting di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Kunjungan tersebut menjadi signifikan karena akan menjadi lawatan pertama presiden Amerika Serikat ke China dalam hampir satu dekade terakhir. Selain agenda di Beijing, Trump juga dijadwalkan menerima kunjungan balasan Xi di Washington DC pada akhir tahun ini.
Ia menyebut bahwa para pejabat dari kedua negara tengah menyelesaikan berbagai persiapan penting untuk memastikan kelancaran agenda diplomatik tersebut.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi jadwal kunjungan tersebut dan menjelaskan alasan di balik penundaan sebelumnya. Menurutnya, keputusan itu diambil karena situasi keamanan global yang mendesak, khususnya terkait operasi militer yang tengah berlangsung.
“Presiden Xi memahami bahwa sangat penting bagi presiden untuk tetap berada di sini selama operasi militer yang sedang berlangsung saat ini,” ujar Leavitt dalam keterangan kepada media yang dilansir Mashable Indonesia dari BBC.
Di sisi lain, pemerintah China belum secara resmi mengumumkan tanggal kunjungan tersebut. Namun, komunikasi antara kedua negara disebut tetap berjalan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa kedua pihak masih terus berkoordinasi terkait rencana kunjungan Trump.
Ia juga menegaskan pentingnya interaksi langsung antar pemimpin negara dalam menjaga stabilitas hubungan bilateral.
“Diplomasi tingkat pemimpin memiliki peran strategis yang tak tergantikan dalam hubungan bilateral,” kata Lin.
Awalnya, kunjungan Trump ke China dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret. Namun, agenda tersebut tertunda setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran, yang memicu respons keras dari negara tersebut.
Serangan balasan Iran menyasar Israel dan sejumlah negara sekutu AS di kawasan Teluk, serta berdampak pada penutupan Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi energi global.
Penutupan jalur tersebut memicu gangguan pasokan minyak dan gas alam cair dunia, hingga berujung pada krisis bahan bakar global.
Dalam situasi ini, Trump mendesak negara-negara sekutu untuk membantu membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Ia juga memberikan peringatan keras kepada Iran terkait potensi serangan terhadap infrastruktur energi jika akses tersebut tidak segera dipulihkan.
Menanggapi perkembangan konflik tersebut, Leavitt menyebut bahwa pemerintah AS telah memperkirakan durasi operasi militer berlangsung dalam rentang tertentu.
“Kami selalu memperkirakan sekitar empat hingga enam minggu, jadi Anda bisa menghitungnya sendiri,” ujarnya, merujuk pada kemungkinan meredanya konflik sebelum jadwal kunjungan Trump ke China.
Kunjungan ini juga menjadi sorotan karena hubungan antara Amerika Serikat dan China dalam beberapa tahun terakhir diwarnai berbagai ketegangan, mulai dari konflik perdagangan, persaingan teknologi, hingga isu geopolitik yang lebih luas.
Pertemuan antara Trump dan Xi dinilai berpotensi menjadi momentum untuk meredakan sebagian ketegangan tersebut, meskipun tantangan dalam hubungan kedua negara masih cukup kompleks.
Terakhir kali seorang presiden AS mengunjungi China terjadi pada November 2017, yang juga dilakukan oleh Trump pada masa jabatan pertamanya. Sementara itu, pertemuan terakhir antara Trump dan Xi berlangsung pada Oktober tahun lalu di Korea Selatan, di sela-sela forum APEC.
Menjelang rencana kunjungan ini, media pemerintah China turut memberikan sinyal positif dengan mendorong peningkatan interaksi antara pejabat kedua negara.
Sebuah editorial di Global Times menilai bahwa minimnya pertukaran langsung antara masyarakat dan pejabat kedua negara, serta absennya kunjungan presiden AS ke China dalam waktu lama, merupakan kondisi yang tidak ideal bagi hubungan bilateral.
Dengan latar belakang dinamika global yang kompleks, pertemuan Trump dan Xi pada Mei mendatang diperkirakan akan menjadi salah satu agenda diplomatik paling penting tahun ini, sekaligus menjadi indikator arah hubungan dua kekuatan besar dunia ke depan.