Cillian Murphy menegaskan bahwa film terbaru Peaky Blinders: The Immortal Man tidak dibuat untuk menggurui penonton meski mengangkat tema sensitif tentang Nazi di era Perang Dunia II.
Dalam wawancara dengan The Telegraph yang dilansir Mashable Indonesia, Murphy menekankan bahwa film seharusnya tidak mendikte emosi audiens, melainkan memantik pertanyaan dan refleksi. Film ini dijadwalkan tayang di Netflix pada 20 Maret 2026 dan menjadi kelanjutan kisah Tommy Shelby setelah serial Peaky Blinders berakhir.
Film tersebut membawa cerita gangster Birmingham itu memasuki periode Perang Dunia II, dengan plot yang menampilkan kolaborasi antara gangster Inggris dan Nazi demi mengguncang perekonomian Inggris.
Ketika ditanya mengenai relevansi tema tersebut di tengah meningkatnya diskursus ekstrem di media sosial, termasuk sosok seperti Nick Fuentes yang secara terbuka mengaku selaras dengan Nazi, Murphy mengaku prihatin.
“Itu sangat mengganggu,” ujar Murphy. Namun ia menegaskan bahwa pendekatan film ini berbeda dari karya berat yang secara eksplisit menguliti horor Nazi.
“Tetapi film ini membawanya dengan ringan. Oni bukan ‘The Zone of Interest,’ begitulah kira-kira,” katanya, merujuk pada film bertema Holocaust yang dikenal dengan pendekatan serius dan intens.
Murphy menolak anggapan bahwa film dengan latar sejarah kelam harus selalu tampil sebagai ceramah moral. Menurutnya, kekuatan sinema justru terletak pada kemampuannya mengajak penonton berpikir tanpa memaksakan kesimpulan.
“Hal terakhir yang ingin saya terlibat adalah karya yang menggurui atau dogmatis, karena film seharusnya tidak pernah memberi tahu Anda bagaimana harus merasa. Film seharusnya hanya mengajukan pertanyaan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Peaky Blinders: The Immortal Man dirancang sebagai film aksi yang menghibur dengan emosi yang kuat, namun tetap menyimpan lapisan makna bagi penonton yang ingin menggali lebih dalam.
“Ini harus menjadi film aksi yang menghibur dengan hati yang besar, tetapi jika Anda ingin melihat lebih dekat, film ini juga bisa terasa provokatif. Hiburan arus utama terbaik bekerja secara bersamaan di level-level tersebut,” paparnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan konsistensi Murphy dalam memilih proyek yang memiliki dimensi intelektual sekaligus daya tarik komersial.
Ia mencontohkan pengalamannya membintangi Oppenheimer garapan Christopher Nolan, film yang mengisahkan penciptaan bom atom dan membawanya meraih Oscar Aktor Terbaik. Menurut Murphy, film itu juga dapat dinikmati dalam dua cara berbeda.
“Jika Anda ingin berbicara tentang posisi dunia saat ini dan melihat betapa dekatnya kita dengan kiamat nuklir, Anda bisa memikirkan ‘Oppenheimer’ dengan cara itu. Tetapi jika Anda hanya ingin menonton film hebat dengan ledakan besar, itu juga tidak masalah,” ujarnya.
Dalam Peaky Blinders: The Immortal Man, Murphy kembali memerankan Tommy Shelby, karakter ikonik yang telah melekat kuat sejak serialnya pertama kali tayang.
Film ini memperkenalkan Barry Keoghan sebagai Duke Shelby, putra tidak sah Tommy yang kini memimpin geng Peaky Blinders. Kehadiran Duke menandai babak baru dalam dinamika keluarga Shelby sekaligus membuka potensi konflik internal di tengah gejolak perang global.
Sejumlah wajah lama juga kembali meramaikan cerita, termasuk Stephen Graham sebagai Hayden Stagg dan Ned Dennehy sebagai Charlie Strong. Sementara itu, jajaran pemain baru seperti Rebecca Ferguson dan Jay Lycurgo turut bergabung, memperluas spektrum karakter dalam semesta Peaky Blinders.
Dengan latar Perang Dunia II dan intrik politik-ekonomi yang lebih luas, film ini diproyeksikan menghadirkan skala cerita yang lebih besar dibandingkan serialnya.
Meski demikian, Murphy memastikan esensi emosional yang menjadi kekuatan Peaky Blinders tetap terjaga. Pendekatan yang tidak menggurui, menurutnya, justru memberi ruang bagi penonton untuk menilai sendiri relevansi kisah tersebut dengan situasi dunia saat ini.
Rilis Peaky Blinders: The Immortal Man di Netflix pada 20 Maret menjadi salah satu peluncuran film paling dinantikan tahun ini, terutama bagi penggemar setia Tommy Shelby.
Dengan kombinasi aksi, drama sejarah, dan komentar sosial yang subtil, film ini berpotensi memperluas warisan Peaky Blinders ke level yang lebih besar tanpa kehilangan identitasnya sebagai hiburan arus utama yang cerdas.