Tidak semua orang dilahirkan dengan tubuh tinggi menjulang. Di tengah standar kecantikan dan kepercayaan diri yang kerap mengagungkan postur tinggi, banyak orang bertubuh lebih pendek kerap merasa berada di posisi yang kurang diuntungkan.
Namun, di balik persepsi tersebut, sains justru menghadirkan sudut pandang yang berbeda, bahwa tinggi badan yang tidak terlalu menjulang bisa membawa sejumlah manfaat kesehatan yang jarang disadari.
Di Indonesia sendiri, tinggi badan rata-rata masyarakat cenderung lebih rendah dibandingkan negara-negara Barat. Meski begitu, hal ini bukan berarti menjadi sebuah kekurangan. Justru, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tubuh yang lebih pendek bisa memberikan keuntungan biologis tertentu, bahkan hingga memengaruhi harapan hidup.
Salah satu temuan yang cukup menarik datang dari penelitian besar yang mengaitkan tinggi badan dengan risiko kanker. Studi yang dilansir Mashable Indonesia dari New York Post tersebut menemukan bahwa setiap kenaikan tinggi sekitar 10 sentimeter berkorelasi dengan meningkatnya risiko kanker, baik pada pria maupun perempuan.
Para peneliti menduga hal ini terjadi karena orang yang lebih tinggi memiliki jumlah sel tubuh lebih banyak, sehingga peluang terjadinya mutasi sel, yang dapat berkembang menjadi kanker, juga meningkat. Selain itu, kadar hormon pertumbuhan yang lebih tinggi pada individu bertubuh tinggi diduga ikut berperan dalam proses tersebut.
Tidak hanya risiko terkena kanker, kemungkinan meninggal akibat penyakit tersebut juga disebut meningkat seiring tinggi badan. Temuan ini tentu menjadi pengingat bahwa faktor biologis yang tampak sederhana seperti tinggi badan ternyata memiliki dampak yang cukup kompleks terhadap kesehatan.
Keuntungan lain yang dimiliki oleh orang bertubuh lebih pendek berkaitan dengan risiko pembekuan darah. Dalam sebuah studi yang melibatkan jutaan partisipan, ditemukan bahwa individu dengan tinggi badan lebih rendah memiliki kemungkinan lebih kecil mengalami kondisi berbahaya yang dikenal sebagai venous thromboembolism (VTE), yakni pembekuan darah di pembuluh vena.
Para peneliti menjelaskan bahwa hal ini kemungkinan besar berkaitan dengan panjang kaki. Semakin panjang kaki seseorang, semakin panjang pula pembuluh darahnya. Kondisi tersebut dapat memperlambat aliran darah kembali ke jantung, yang pada akhirnya meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah.
Dalam keterangan resminya, peneliti utama studi tersebut menyampaikan, “Kami berharap tinggi badan nantinya bisa dimasukkan dalam penilaian risiko VTE,” meski ia juga menegaskan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan hubungan tersebut.
Selain itu, faktor tinggi badan juga ternyata berpengaruh pada risiko cedera serius, terutama pada usia lanjut. Patah tulang pinggul, misalnya, merupakan salah satu kondisi yang cukup berbahaya bagi lansia.
Dalam banyak kasus, cedera ini bahkan bisa berdampak fatal. Menariknya, orang bertubuh lebih pendek disebut memiliki risiko lebih rendah mengalami patah tulang jenis ini.
Penjelasan ilmiahnya berkaitan dengan pusat gravitasi tubuh. Individu yang lebih tinggi memiliki pusat gravitasi yang lebih tinggi pula, sehingga lebih rentan kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Ketika jatuh, energi benturan yang dihasilkan juga cenderung lebih besar dibandingkan dengan orang bertubuh pendek. Kombinasi dua faktor ini membuat risiko cedera serius menjadi lebih tinggi pada mereka yang memiliki postur tubuh tinggi.
Namun, mungkin manfaat yang paling menarik adalah kaitannya dengan umur panjang. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang bertubuh lebih pendek cenderung memiliki harapan hidup lebih lama, bahkan bisa mencapai selisih dua hingga lima tahun dibandingkan mereka yang lebih tinggi.
Salah satu penelitian yang sering dikutip dalam hal ini menemukan adanya hubungan antara tinggi badan dan gen tertentu yang berperan dalam umur panjang, yaitu FOXO3.
Dalam penelitian tersebut, individu dengan tinggi badan lebih pendek lebih sering memiliki varian gen yang dianggap protektif terhadap penuaan.
Seorang peneliti dalam studi tersebut menyatakan, “Kami membagi partisipan menjadi dua kelompok—yang memiliki tinggi sekitar 157 cm atau kurang, dan yang lebih tinggi. Kelompok yang lebih pendek ternyata hidup paling lama. Semakin tinggi seseorang, rata-rata usia hidupnya justru lebih pendek.”
Selain faktor genetik, tubuh yang lebih kecil juga diyakini memiliki metabolisme yang lebih efisien dan beban kerja organ yang relatif lebih ringan. Hal ini berpotensi mengurangi risiko berbagai penyakit kronis, terutama yang berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup, seperti penyakit jantung atau diabetes.
Meski demikian, para ahli sepakat bahwa tinggi badan bukanlah satu-satunya penentu kesehatan atau umur panjang. Gaya hidup tetap menjadi faktor utama yang memegang peranan besar.
Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang rutin, tidur yang cukup, serta menjaga berat badan ideal tetap menjadi kunci utama untuk hidup sehat, baik bagi mereka yang bertubuh pendek maupun tinggi.
Dengan kata lain, memiliki tinggi badan yang tidak terlalu menjulang bukanlah sesuatu yang perlu disesali. Di balik postur yang mungkin terlihat sederhana, tersimpan berbagai keunggulan yang justru bisa menjadi ‘modal’ untuk hidup lebih sehat dan panjang umur.