Sebuah studi besar terbaru mengungkap hubungan kuat antara status pernikahan dan risiko kanker, dengan temuan bahwa individu yang belum pernah menikah cenderung memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit tersebut dibandingkan mereka yang sedang atau pernah menikah.
Penelitian yang menganalisis lebih dari 4 juta kasus kanker dari populasi lebih dari 100 juta orang di 12 negara bagian Amerika Serikat sepanjang periode 2015 hingga 2022 ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan berdasarkan status hubungan.
Para peneliti menemukan bahwa kelompok yang belum pernah menikah memiliki “tingkat yang jauh lebih tinggi” dalam risiko kanker seumur hidup.
“Ini adalah sinyal yang jelas dan kuat bahwa beberapa individu berada pada risiko yang lebih besar,” ujar Dr. Paulo Pinheiro, salah satu penulis studi, dalam pernyataannya yang dilansir Mashable Indonesia dari New York Post.
Studi ini berfokus pada orang dewasa berusia 30 tahun ke atas dan membagi mereka ke dalam dua kelompok besar, yakni mereka yang pernah atau sedang menikah, termasuk yang bercerai maupun duda/janda, serta mereka yang belum pernah menikah sama sekali. Sekitar 20 persen dari total partisipan diketahui belum pernah menikah.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kesenjangan risiko kanker paling mencolok terlihat pada jenis kanker yang berkaitan dengan faktor gaya hidup.
Kebiasaan seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta risiko infeksi menular seksual disebut lebih umum terjadi pada kelompok yang tidak menikah, sehingga berkontribusi pada meningkatnya angka kanker.
Sebagai gambaran, pria yang belum pernah menikah tercatat memiliki risiko kanker anus hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan pria yang menikah.
Sementara itu, perempuan yang tidak menikah menghadapi kemungkinan hampir tiga kali lipat lebih besar untuk terkena kanker serviks dibandingkan mereka yang memiliki riwayat pernikahan.
Kedua jenis kanker tersebut berkaitan erat dengan infeksi HPV, yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi. Namun, faktor perilaku dan akses terhadap layanan kesehatan turut memengaruhi tingkat risiko tersebut.
Untuk jenis kanker yang telah memiliki program skrining luas seperti kanker payudara, prostat, dan tiroid, perbedaan antara kelompok menikah dan belum menikah tidak terlalu mencolok. Hal ini menunjukkan bahwa akses dan kepatuhan terhadap pemeriksaan kesehatan rutin juga memainkan peran penting.
Peneliti juga menyoroti faktor biologis dan sosial yang mungkin berkontribusi. Perempuan yang menikah cenderung memiliki lebih banyak anak, yang dalam dunia medis dikenal sebagai faktor “paritas”, dan diketahui dapat menurunkan risiko kanker tertentu seperti kanker ovarium dan endometrium.
Selain itu, stabilitas emosional dan finansial yang kerap dikaitkan dengan pernikahan diduga turut membantu individu menjalani gaya hidup yang lebih sehat serta lebih disiplin dalam melakukan pemeriksaan kesehatan.
Dari sisi gender, penelitian ini menemukan bahwa pria yang belum pernah menikah memiliki risiko kanker sekitar 70 persen lebih tinggi dibandingkan pria menikah. Sementara itu, perempuan yang belum menikah memiliki risiko 85 persen lebih tinggi dibandingkan perempuan yang pernah atau sedang menikah.
Temuan ini cukup menarik karena berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya menunjukkan bahwa pria mendapatkan manfaat kesehatan lebih besar dari pernikahan dibandingkan perempuan.
Perbedaan juga terlihat berdasarkan ras. Pria kulit hitam yang belum menikah tercatat memiliki tingkat kanker tertinggi secara keseluruhan.
Namun, pria kulit hitam yang menikah justru memiliki tingkat kanker lebih rendah dibandingkan pria kulit putih yang menikah, menunjukkan adanya kemungkinan bahwa pernikahan memberikan dampak protektif yang lebih besar pada kelompok tertentu.
Selain risiko, penelitian ini juga menguatkan temuan sebelumnya bahwa individu yang menikah cenderung mendapatkan diagnosis kanker lebih awal dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Hal ini diduga karena adanya dukungan sosial yang lebih kuat serta kepatuhan yang lebih baik terhadap pengobatan.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa pernikahan bukanlah jaminan perlindungan terhadap kanker.
“Artinya, jika Anda tidak menikah, Anda harus lebih memperhatikan faktor risiko kanker, melakukan skrining yang diperlukan, dan tetap mengikuti perkembangan layanan kesehatan,” kata Dr. Frank Penedo.
Ia menambahkan bahwa hasil studi ini penting untuk menjadi dasar dalam menyusun strategi pencegahan kanker yang lebih tepat sasaran.
“Untuk upaya pencegahan, temuan kami menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran risiko kanker dan strategi pencegahan dengan mempertimbangkan status pernikahan,” ujarnya.
Penelitian ini juga memiliki sejumlah keterbatasan, termasuk kemungkinan bahwa individu yang lebih sehat dan memiliki gaya hidup baik memang cenderung lebih mungkin menikah.
Meski begitu, hubungan antara status pernikahan dan risiko kanker terlihat paling kuat pada kelompok usia di atas 50 tahun.
“Temuan ini menunjukkan bahwa faktor sosial seperti status pernikahan dapat menjadi penanda penting risiko kanker pada tingkat populasi,” kata Pinheiro.
Ke depan, para peneliti berencana melakukan studi jangka panjang untuk memahami lebih dalam bagaimana perubahan status pernikahan sepanjang hidup memengaruhi risiko kanker. Mereka juga menilai penting untuk memasukkan kelompok yang belum menikah tetapi berada dalam hubungan serius dalam penelitian selanjutnya.
Temuan ini muncul di tengah tren menurunnya angka pernikahan di Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan bahwa pada 2024 hanya 66 persen warga berusia 15 tahun ke atas yang pernah menikah, turun signifikan dibandingkan 85 persen pada tahun 1960.