Saham Hybe, perusahaan hiburan asal Korea Selatan yang menaungi BTS, mengalami penurunan tajam setelah konser comeback grup tersebut di Seoul menarik jumlah penonton yang jauh di bawah ekspektasi, meski di sisi lain justru mencatat angka fantastis dalam penayangan global melalui layanan streaming.
Penurunan ini terjadi pada Senin, ketika saham Hybe merosot hingga 15,5%, setelah konser gratis BTS di Gwanghwamun Square, Seoul, hanya dihadiri sekitar 104.000 penggemar.
Angka tersebut kurang dari setengah proyeksi awal yang mencapai 250.000 orang. Padahal, konser tersebut menjadi momen bersejarah karena menandai penampilan lengkap tujuh anggota BTS untuk pertama kalinya sejak mereka hiatus pada 2022 guna menjalani wajib militer.
Kontras dengan jumlah penonton langsung yang mengecewakan, siaran langsung konser bertajuk BTS the Comeback Live: Arirang justru mencetak rekor global.
Netflix mengumumkan bahwa tayangan tersebut meraih total 18,4 juta penonton, yang merupakan gabungan dari penonton real-time dan mereka yang menyaksikan ulang dalam 24 jam setelah siaran.
“Angka tersebut menggabungkan audiens langsung dan penonton dalam 24 jam setelah penayangan,” demikian keterangan resmi Netflix yang dikutip Mashable Indonesia dari Korea Times.
Program tersebut juga langsung menduduki posisi puncak dalam chart mingguan serial non-Inggris di platform tersebut, dengan perolehan 13,1 juta penayangan dalam periode yang berakhir pada 22 Maret.
Netflix menjelaskan bahwa perhitungan ini didasarkan pada total waktu tonton yang dibagi dengan durasi tayangan. Selain itu, konser comeback BTS berhasil menempati peringkat pertama di 24 negara, termasuk Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan, serta masuk dalam 10 besar di 80 negara secara keseluruhan.
Meski capaian digital ini sangat besar, pelaku pasar tetap bereaksi negatif terhadap rendahnya kehadiran fisik di lokasi konser.
Beberapa analis menilai bahwa kombinasi siaran global yang mudah diakses dan penerapan pengendalian massa yang ketat menjadi faktor utama yang menahan jumlah penonton datang langsung ke lokasi.
Netflix sendiri belum merilis data lengkap terkait distribusi penonton secara geografis, namun dijadwalkan akan mengungkap detail tambahan dalam waktu dekat.
Konser tersebut juga menjadi pembuka tur dunia BTS yang telah terjual habis dengan total 82 jadwal. Dalam penampilan di Gwanghwamun Square, grup ini membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka, Arirang, serta sejumlah hit global seperti Butter dan Dynamite.
Pada hari yang sama, Big Hit Music mengumumkan bahwa album Arirang berhasil terjual sebanyak 3,98 juta kopi hanya dalam hari pertama perilisannya.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa daya tarik BTS di pasar global masih sangat kuat, meskipun ekspektasi terhadap kehadiran fisik penggemar tidak terpenuhi.
Hal ini menjadi krusial bagi Hybe, mengingat BTS merupakan sumber pendapatan utama perusahaan. Selama masa hiatus grup, laba operasional Hybe dilaporkan mengalami tekanan signifikan.
Situasi ini juga terjadi di tengah persaingan industri K-pop yang semakin ketat. Sejak tur terakhir BTS pada 2019, popularitas K-pop terus melonjak secara global, dengan munculnya banyak pesaing baru yang memperebutkan perhatian penggemar.
Selain grup-grup populer lainnya, bahkan konten hiburan berbasis konsep K-pop seperti film fiksi juga mulai menjadi kompetitor dalam menarik audiens.
Di sisi lain, dampak digital dari konser comeback ini tidak bisa diabaikan. Netflix mencatat bahwa konten terkait BTS di kanal resminya menghasilkan hingga 2,62 miliar impresi. Tagar yang berkaitan dengan BTS dan platform streaming tersebut juga menjadi tren di berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat hingga Asia dan Eropa.
Netflix juga telah menyiapkan langkah lanjutan untuk mempertahankan momentum ini dengan merilis film dokumenter bertajuk BTS: The Return.
Film tersebut dijadwalkan tayang pada Jumat dan akan menampilkan proses di balik layar pembuatan album Arirang. “Film ini akan mengisahkan perjalanan kreatif di balik album terbaru mereka,” demikian pernyataan resmi yang dirilis.
Dengan respons pasar yang beragam, antara euforia digital dan kekhawatiran terhadap performa langsung, comeback BTS kali ini menegaskan bahwa lanskap industri musik global terus berubah. Keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari jumlah penonton di lokasi, tetapi juga dari jangkauan digital yang mampu menembus batas negara dan waktu.