Di tengah kelesuan pasar mobil listrik (EV) global yang membuat banyak raksasa otomotif menarik diri, Toyota Motor Corporation justru mengambil langkah mengejutkan. Pabrikan asal Jepang ini resmi mengumumkan investasi masif senilai 1 miliar dolar AS atau setara Rp16 triliun untuk mempercepat produksi kendaraan listrik di Amerika Serikat.
Langkah ini mempertegas posisi Toyota yang kini berbalik arah menjadi salah satu pemain paling agresif di segmen EV, setelah bertahun-tahun setia pada teknologi hibrida (hybrid).
Fenomena ini menarik perhatian industri otomotif dunia. Saat Ford mulai memangkas produksi F-150 Lightning dan Honda membatalkan rencana tiga model elektriknya di AS, Toyota justru menambah lini produk bertenaga baterai mereka.
Bahkan, merek mewah seperti Lamborghini dan Rolls-Royce dilaporkan mulai mengerem ambisi full-electric mereka hingga akhir dekade ini. Sebaliknya, Toyota diprediksi akan menjadi brand dengan portofolio EV terbanyak, hanya bersaing ketat dengan Mercedes-Benz dan BMW.
Fokus utama dari investasi Rp16 triliun ini adalah persiapan fasilitas produksi di Kentucky dan Indiana. Toyota mengonfirmasi bahwa Toyota Highlander generasi terbaru akan bertransformasi total menjadi mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) pada tahun 2027.
“Kami tidak mengubah rencana, sementara kompetitor kami justru sedang mengejar pendulum yang berayun ke sana kemari,” ujar Rick Gezelle, Senior Program Manager Sustainability Toyota, melansir dari USA TODAY, Kamis (26/03/2026). Menurutnya, konsistensi adalah kunci di tengah pasar yang fluktuatif.
Selain Highlander EV, Toyota juga menyiapkan model listrik kedua yang masih dirahasiakan untuk diproduksi di pabrik Georgetown, Kentucky. Spekulasi di kalangan pengamat otomotif mengarah pada tiga kemungkinan besar. Antara lain Land Cruiser Se versi listrik dari SUV legendaris yang sempat dipamerkan sebagai konsep.
Lalu juga ada Lexus Electrified SUV: Model mewah tiga baris untuk menantang Rivian R1S dan Cadillac Vistiq.
Ada juga kemungkinan Toyota akan memproduksi kembaran dari Subaru Ascent versi listrik di fasilitas yang sama.
Selama ini, Toyota sering dikritik oleh aktivis lingkungan karena dianggap lamban beralih ke EV murni.
Namun, data terbaru dari Cox Automotive menunjukkan bahwa strategi “Multi-Path” Toyota—yang tetap menjual bensin, hybrid, dan EV secara bersamaan—justru membuahkan hasil.
Model Toyota bZ4X (kini disebut bZ saja) berhasil merangkak naik menjadi mobil listrik terlaris ketiga di AS hingga Februari 2026. Dengan penambahan model baru seperti C-HR EV dan bZ Woodland, Toyota diprediksi akan mendominasi pasar Amerika Utara dalam dua tahun ke depan.