Sutradara Ryan Coogler berada di ambang sejarah baru Academy Awards setelah film terbarunya, Sinners, meraih 16 nominasi Oscar termasuk kategori Sutradara Terbaik.
Pencapaian tersebut membuka peluang bagi Coogler untuk menjadi sineas kulit hitam pertama yang memenangkan penghargaan penyutradaraan tertinggi sepanjang hampir satu abad perhelatan Oscar.
Sejak Academy Awards digelar pada 1929 oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences, kategori Sutradara Terbaik belum pernah dimenangkan oleh pembuat film kulit hitam.
Coogler kini tercatat sebagai nama ketujuh yang berhasil menembus nominasi bergengsi tersebut, mengikuti jejak John Singleton lewat Boyz n’ the Hood, Lee Daniels lewat Precious, Steve McQueen lewat 12 Years a Slave, Barry Jenkins lewat Moonlight, Jordan Peele lewat Get Out, serta Spike Lee lewat BlacKkKlansman. Keenamnya masuk nominasi, tetapi belum ada yang berhasil membawa pulang piala.
Sinners hadir sebagai proyek ambisius Coogler setelah kesuksesan Black Panther yang memperkokoh reputasinya di Hollywood.
Film tersebut tidak hanya diposisikan sebagai karya sinematik besar, tetapi juga sebagai representasi budaya yang memantik diskusi luas mengenai inklusivitas dan sejarah panjang ketimpangan di industri perfilman Amerika Serikat.
Di tengah sorotan besar dan beban sejarah itu, Coogler memilih untuk menjaga jarak dari tekanan statistik. Dalam wawancara dengan Variety, ia menegaskan pentingnya merawat semangat berkarya.
“Bahaya terbesarnya adalah hal seperti itu bisa meredupkan harapanmu, membuatmu kehilangan idealisme, atau merasa apa yang kamu lakukan tidak berharga,” ujarnya seperti dikutip Mashable Indonesia dari Variety.
“Saya berusaha melindungi rasa cinta saya terhadap pekerjaan ini. Jika saya tahu statistik akan membuat saya sedih, saya memilih untuk tidak memikirkannya,” lanjutnya.
Data dari studi USC Annenberg Inclusion Initiative memperlihatkan gambaran ketimpangan yang nyata. Dari 1929 hingga 2025, hanya sekitar 2 persen nominasi Oscar dan 2 persen pemenang yang berasal dari kalangan kulit hitam.
Secara keseluruhan, angka tersebut setara dengan 274 nominasi dan 63 kemenangan dalam rentang 97 tahun. Fakta ini menjadikan peluang Coogler bukan sekadar capaian personal, melainkan momen simbolik bagi perjalanan panjang representasi di ajang penghargaan paling prestisius di dunia film.
Pandangan dari internal Academy pun menunjukkan harapan serupa. Seorang anggota kulit hitam Academy menyebut momentum ini krusial menjelang usia ke-100 Oscar.
“Academy akan berusia 100 tahun. Saya, seperti banyak rekan saya, selalu bermimpi menjadi yang pertama berdiri di panggung itu. Jika kita sampai di tahun ke-100 dan belum ada orang kulit hitam yang berdiri di sana, apa artinya itu? Apakah Anda mengatakan tidak ada satu pun yang layak selama waktu itu? Tidak ada?”
“Ini adalah kesempatan untuk melakukannya bagi seorang seniman yang layak, yang kebetulan berkulit hitam dan memang secara tegas beridentitas kulit hitam,” katanya.
Meski demikian, Coogler memaknai nominasi ini dengan perspektif yang lebih personal. Baginya, inti dari pencapaian bukanlah trofi semata, melainkan kesempatan untuk terus berkarya dan membuka lapangan kerja bagi banyak orang.
“Penghargaan saya adalah kesempatan untuk memiliki pekerjaan ini. Kesempatan untuk menulis naskah, mengumpulkan kru, mempekerjakan pekerja serikat, berkontribusi pada layanan kesehatan, asuransi, dan keluarga mereka. Fakta bahwa saya memiliki pekerjaan ini dan terus memilikinya adalah hadiah terbesar,” ungkapnya.
Sikap tersebut lahir dari kesadaran akan tanggung jawab yang lebih luas. Coogler menyebut adanya rasa bersalah sebagai penyintas sekaligus beban sebagai simbol harapan bagi banyak sineas muda.
Ia menekankan pentingnya terapi, dukungan keluarga, serta hubungan panjang dengan sang istri, Zinzi Evans, yang dikenalnya sejak kecil. Di luar gemerlap Hollywood, ia tetap menjalani peran sebagai anggota keluarga biasa, jauh dari hiruk-pikuk panggung penghargaan.
Terlepas dari hasil akhir di Oscar nanti, Sinners telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu film paling berpengaruh tahun ini. Nominasi yang diraih Coogler mempertegas bahwa perubahan dalam lanskap industri film terus bergerak, sekaligus menandai babak penting dalam perjalanan panjang representasi di Academy Awards.
Momen ini bukan hanya tentang kemungkinan memecahkan rekor, tetapi juga tentang bagaimana sejarah perlahan dibentuk oleh konsistensi, karya, dan keberanian untuk tetap percaya pada proses.