Kebun binatang di Jepang membantah tudingan bahwa seekor bayi monyet bernama Punch menjadi korban perundungan setelah video dirinya dikejar monyet lain viral di media sosial.
Pihak pengelola menegaskan bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari dinamika sosial alami dalam kelompok monyet Jepang, bukan tindakan kekerasan seperti yang dipahami manusia.
Punch, seekor bayi makaka Jepang berusia tujuh bulan, menjadi sorotan publik setelah video yang memperlihatkan dirinya memeluk boneka orangutan dari IKEA beredar luas di internet.
Dalam sejumlah rekaman yang diambil di Kebun Binatang Kota Ichikawa, dekat Tokyo, Punch terlihat dikejar oleh beberapa monyet lain. Momen itu memicu kekhawatiran dari warganet di berbagai negara yang menilai hewan kecil tersebut sedang dirundung oleh anggota kelompoknya.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, pihak Kebun Binatang Kota Ichikawa mengeluarkan pernyataan resmi pada 10 Maret. Mereka menyatakan telah menerima banyak pesan dari masyarakat di Jepang maupun luar negeri yang menanyakan kondisi Punch.
“Pertama, makaka Jepang hidup dalam masyarakat dengan struktur hierarki yang ketat, dan individu dominan menunjukkan ‘tindakan pendisiplinan’ terhadap individu yang berada di bawahnya. Perilaku ini berbeda dari ‘kekerasan’ seperti yang dipahami manusia,” kata pihak kebun binatang dikutip Mashable Indonesia dari The Independent.
Menurut pengelola kebun binatang, para ahli primatologi di Jepang telah mempelajari perilaku, kehidupan sosial, dan ekologi monyet asli negara itu sejak 1948.
Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dipublikasikan, tindakan pendisiplinan yang terlihat dalam kelompok monyet merupakan fenomena alami yang lazim terjadi.
“Berdasarkan literatur yang ada, ‘pendisiplinan’ ini terjadi secara alami dalam kelompok makaka Jepang dan tidak hanya terjadi pada kelompok Punch,” jelas mereka.
Punch sendiri diketahui sempat ditinggalkan oleh induknya sejak usia sangat muda. Kondisi tersebut membuatnya harus beradaptasi dengan anggota kelompok lain di dalam kandang.
Meski beberapa video menunjukkan ia dikejar oleh monyet lain, kebun binatang menegaskan bahwa situasi tersebut tidak mencerminkan kekerasan yang membahayakan.
Pada Februari lalu, pengelola kebun binatang telah menyampaikan bahwa Punch telah beberapa kali dimarahi oleh monyet lain, tetapi tidak ada yang menunjukkan agresi serius terhadapnya. Mereka juga memastikan bahwa bayi monyet tersebut dalam kondisi sehat dan tetap berada di bawah pengawasan.
Dalam penjelasan terbaru, pihak kebun binatang menambahkan bahwa kehidupan Punch di dalam kelompok monyet sebenarnya berlangsung cukup tenang.
“Punch menghabiskan sebagian besar harinya dengan damai, dan tindakan pendisiplinan terhadapnya tidak terjadi secara terus-menerus,” ujar mereka.
Selain itu, interaksi sosial Punch dengan anggota kelompok lain juga disebut terus berkembang. Pengelola kebun binatang mengatakan semakin banyak monyet yang mulai bermain atau merawat Punch.
“Jumlah monyet yang menjaga atau bermain dengan Punch juga terus bertambah. Karena itu, waktu yang dihabiskan Punch tanpa boneka kesayangannya juga semakin meningkat,” kata pihak kebun binatang.
Namun demikian, pengelola mengakui bahwa beberapa monyet dengan posisi sosial lebih tinggi memang menunjukkan perilaku agresif lebih sering. Sebagai langkah pencegahan, mereka telah mengambil tindakan sementara dengan memisahkan beberapa individu tersebut dari kelompok.
“Beberapa makaka dengan peringkat sosial tinggi menunjukkan agresi lebih sering, sehingga mereka dipindahkan dari kelompok pada 8 Maret sebagai langkah sementara,” jelas pernyataan tersebut. Monyet-monyet tersebut akan terus dipantau untuk melihat perkembangan perilakunya.
Pihak kebun binatang juga menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada bukti yang menunjukkan Punch mengalami serangan serius yang dapat membahayakan hidupnya.
“Sampai saat ini tidak ada bukti bahwa Punch pernah diserang dengan cara yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya,” kata mereka.
“Selain itu, kami tidak berniat mengabaikan ‘pendisiplinan’ tersebut atau mengubah cara perawatan kami hanya untuk menarik simpati publik demi meningkatkan jumlah pengunjung kebun binatang atau keuntungan.”
Di tengah perdebatan yang muncul di media sosial, sebagian orang juga menyarankan agar Punch dipisahkan dari kelompoknya demi alasan keselamatan. Namun pihak kebun binatang menilai langkah tersebut justru berisiko bagi masa depan hewan tersebut.
“Perasaan tersebut sepenuhnya dapat dipahami. Namun Punch sudah terbiasa hidup dalam kelompok ini. Jika ia dipisahkan sekarang, ada risiko ia tidak akan pernah bisa kembali ke kelompoknya dan harus hidup terpisah sepanjang sisa hidupnya,” kata mereka.
Sementara itu, organisasi hak-hak hewan PETA sebelumnya turut mengkritik kondisi yang dialami Punch. Kelompok tersebut menilai peristiwa yang viral di internet justru menunjukkan sisi lain dari kehidupan satwa di kebun binatang.
Dalam pernyataannya, Presiden PETA wilayah Asia Jason Baker mengatakan bahwa apa yang terlihat lucu bagi sebagian orang sebenarnya mencerminkan situasi yang lebih kompleks bagi hewan tersebut.
“Kebun binatang bukanlah tempat perlindungan,” ujar Baker. “Kebun binatang adalah tempat di mana hewan dikurung, kehilangan kebebasan, dan tidak mendapatkan lingkungan kompleks serta kehidupan sosial seperti yang mereka miliki di alam liar.”
Ia juga menilai popularitas Punch di internet tidak mengubah kenyataan bahwa banyak hewan hidup dalam kondisi penangkaran.
“Ketenaran di internet tidak mengubah kenyataan bahwa mereka hidup dalam penangkaran. Hal itu justru memicu siklus di mana fasilitas seperti ini membiakkan dan memamerkan bayi hewan untuk meningkatkan penjualan tiket, sementara hewan-hewan tersebut harus menanggung konsekuensinya sepanjang hidup mereka,” kata Baker.