Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung pada industri otomotif global. Serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gangguan serius pada jalur logistik internasional, termasuk distribusi mobil bekas dari Asia ke kawasan Timur Tengah.
Dampaknya, puluhan hingga ratusan kendaraan mewah seperti Lamborghini, Ferrari, hingga Rolls-Royce dilaporkan tertahan di pelabuhan Sri Lanka setelah gagal mencapai tujuan utama di kawasan Teluk, demikian laporan dari Reuters, Kamis (26/03/2026).
Krisis ini bermula dari terganggunya jalur pelayaran utama, termasuk ancaman terhadap Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi energi dan perdagangan global. Akibatnya, sejumlah kapal pengangkut kendaraan tidak dapat merapat ke pelabuhan tujuan seperti Dubai, dan terpaksa dialihkan ke negara lain.
Seorang pelaku usaha ekspor mobil bekas berbasis di Yokohama mengungkapkan bahwa lebih dari 500 unit mobil yang dikirimnya sempat “mengambang” di laut selama berhari-hari karena pelabuhan tujuan penuh akibat lonjakan arus pengalihan kargo.
Kapal tersebut akhirnya merapat di Pelabuhan Hambantota, Sri Lanka, dengan keterlambatan lebih dari 10 hari dari jadwal semula.
Kondisi ini memicu kepanikan di kalangan perusahaan pelayaran Jepang. Beberapa operator dilaporkan membatalkan pengiriman, sementara lainnya meminta jaminan tambahan hingga 5.000 dolar AS per unit kendaraan untuk mengantisipasi risiko.
Sebagian pengiriman bahkan dialihkan ke pelabuhan alternatif di Pakistan atau China, meski tidak semua pembeli menyetujui perubahan tersebut. Dalam beberapa kasus, mobil yang gagal dikirim terpaksa dikembalikan ke Jepang.
Tak hanya mobil massal, kendaraan mewah juga terkena dampaknya. Sekitar 50 unit mobil premium—termasuk supercar dan sedan ultra-mewah—terpaksa diturunkan di Sri Lanka dan China karena kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah.
Padahal, kawasan tersebut merupakan salah satu pasar utama kendaraan mewah, dengan permintaan tinggi dari konsumen kelas atas.
Gangguan ini menjadi pukulan bagi industri ekspor mobil bekas dari Asia Timur. Data perdagangan menunjukkan bahwa Jepang dan Korea Selatan secara gabungan mengekspor kendaraan bekas senilai sekitar 19 miliar dolar AS per tahun, dengan sebagian besar dikirim ke Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan.
Mobil bekas dari Jepang sendiri dikenal memiliki kualitas tinggi karena standar inspeksi ketat, sehingga sangat diminati di pasar negara berkembang.
Sebagai alternatif, pengiriman via udara sempat dipertimbangkan. Namun, biaya logistik yang sangat tinggi membuat opsi ini hanya realistis bagi pelanggan super kaya yang membeli kendaraan eksklusif.
Krisis ini menunjukkan rapuhnya rantai pasok otomotif global terhadap konflik geopolitik. Jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut, gangguan distribusi diperkirakan akan semakin meluas dan berdampak pada harga serta ketersediaan kendaraan di berbagai pasar.