Produsen otomotif asal Tiongkok kini semakin agresif memperluas pasar global. Melambatnya permintaan di dalam negeri membuat banyak pabrikan mobil China mengalihkan fokus penjualan ke luar negeri demi menjaga pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Sejumlah merek besar seperti BYD dan Great Wall Motor mulai mencatatkan penjualan ekspor yang bahkan melampaui penjualan domestik pada periode tertentu. Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam strategi industri otomotif China yang sebelumnya sangat bergantung pada pasar lokal yang besar.
Melansir dari CarScoops, Rabu (11/03/2026), pada Februari 2026, BYD mencatat tonggak penting ketika pengiriman kendaraan ke luar negeri mencapai sekitar 100.600 unit, atau sekitar 53 persen dari total penjualan bulanan. Untuk pertama kalinya, jumlah ekspor perusahaan tersebut melampaui pengiriman di pasar domestik.
Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Industri otomotif China tengah menghadapi berbagai tekanan di pasar dalam negeri, mulai dari perang harga yang sengit, margin keuntungan yang semakin tipis, hingga konsumen yang kini lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian kendaraan.
Tren serupa juga dialami oleh Great Wall Motor. Dari total sekitar 72.600 kendaraan yang terjual pada Februari, lebih dari 42.600 unit dikirim ke pasar luar negeri.
Jika sebelumnya pasar domestik China mampu menyerap sebagian besar produksi kendaraan, kini pabrikan mulai melihat pasar global sebagai sumber pertumbuhan baru. Data industri menunjukkan produsen mobil China mengekspor lebih dari 2,6 juta kendaraan pada 2025, angka yang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan ekspor ini didorong oleh beberapa faktor penting, termasuk efisiensi biaya produksi, rantai pasok baterai yang semakin matang, serta kemampuan manufaktur yang mampu memproduksi kendaraan dalam skala besar dengan cepat.
Di banyak negara berkembang, kendaraan listrik buatan China juga menawarkan harga yang relatif kompetitif dibandingkan merek global lain. Hal tersebut memberi keunggulan tersendiri bagi produsen China untuk memperluas pangsa pasar internasional.
Sejumlah kawasan kini menjadi target utama ekspansi produsen mobil China, termasuk Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Di negara seperti Thailand, misalnya, merek kendaraan listrik asal China dalam beberapa tahun terakhir berhasil bertransformasi dari pemain kecil menjadi pesaing serius bagi merek otomotif global.
Pasar-pasar tersebut dinilai menarik karena memiliki hambatan perdagangan yang relatif lebih rendah serta meningkatnya minat terhadap kendaraan beremisi rendah dengan harga terjangkau.
Meski peluang ekspor terbuka lebar, ekspansi global produsen mobil China juga menghadapi berbagai tantangan. Ketegangan perdagangan dengan sejumlah negara maju, terutama di Eropa dan Amerika Utara, memunculkan tarif impor lebih tinggi serta regulasi yang lebih ketat.
Kondisi ini dapat menekan margin keuntungan sekaligus membuat perencanaan bisnis jangka panjang menjadi lebih kompleks.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, banyak pabrikan China mulai berinvestasi dalam pembangunan pabrik di luar negeri, memperkuat jaringan distribusi, serta memperluas layanan purna jual di pasar internasional.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan bisnis global mereka, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar domestik yang pertumbuhannya mulai melambat.