Kebocoran film animasi The Legend of Aang: The Last Airbender menjadi sorotan setelah versi lengkapnya beredar luas di platform X sejak akhir pekan lalu.
Paramount sebagai studio yang memproduksi film tersebut langsung melakukan penyelidikan internal dan memastikan bahwa insiden tersebut tidak berasal dari sistem maupun pihak internal mereka.
Sumber yang mengetahui proses investigasi menyebutkan bahwa hasil pemeriksaan awal tidak menemukan adanya celah dari jaringan Paramount.
Hal ini sekaligus membantah klaim akun X bernama @ImStillDissin yang sebelumnya mengaku memperoleh file film secara tidak sengaja dari seseorang di Nickelodeon, anak perusahaan Paramount Global.
Akun tersebut menyebut bahwa film dikirim melalui email, namun informasi itu dinilai tidak akurat berdasarkan temuan awal penyelidikan.
Meski upaya penghapusan konten telah dilakukan, hingga beberapa hari setelah kebocoran terjadi, film tersebut masih dapat diakses di platform tersebut.
Situasi ini memperlihatkan tantangan besar yang dihadapi industri hiburan dalam mengatasi pembajakan digital, terlebih ketika materi yang bocor adalah versi utuh film yang belum resmi dirilis.
Film The Legend of Aang: The Last Airbender sendiri awalnya direncanakan tayang di bioskop pada 9 Oktober. Namun, Paramount mengambil keputusan strategis untuk mengalihkan distribusinya secara eksklusif ke layanan streaming Paramount+.
Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari para penggemar yang berharap bisa menyaksikan film ini di layar lebar, mengingat popularitas waralaba Avatar: The Last Airbender yang telah mengakar kuat sejak pertama kali tayang di Nickelodeon.
Di tengah polemik tersebut, kebocoran film justru menambah kekecewaan, terutama bagi para kreator yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan proyek ini. Animator Julia Schoel menjadi salah satu yang secara terbuka mengungkapkan rasa frustrasinya melalui media sosial.
“Kami mengerjakan film Aang ini selama bertahun-tahun dengan harapan bisa merayakan kerja keras kami di bioskop,” tulisnya. “Lalu melihat film ini bocor begitu saja dan adegan-adegan kami disebarkan di Twitter seperti permen.”
Ia juga menyoroti bahwa keputusan Paramount untuk tidak menayangkan film di bioskop memang mengecewakan, tetapi tidak bisa dijadikan pembenaran atas tindakan pembajakan.
“Saya sangat memahami jika ada yang tidak ingin membayar atau mendukung Paramount+,” lanjutnya. “Namun membajak film ini setelah dirilis setidaknya masih lebih baik daripada ini. Ini sangat tidak menghormati kerja keras para seniman.”
Pernyataan serupa juga sebelumnya disampaikan oleh sutradara film, Lauren Montgomery, yang mengungkapkan kegundahannya ketika mengetahui film tersebut tidak jadi tayang di bioskop. Dalam unggahan di Instagram, ia menegaskan bahwa kualitas film ini tetap layak untuk layar lebar.
“Kami menayangkan film final kepada kru dan merayakan akhir dari perjalanan empat tahun,” tulis Montgomery. “Sekarang film ini menunggu tanpa kepastian hingga perilisannya pada Oktober. Keputusan untuk memindahkan kami dari layar lebar ke streaming mungkin memberi kesan bahwa kualitasnya tidak memadai, padahal itu sama sekali tidak benar. Film ini layak ditonton di layar besar. Saya tidak sabar kalian semua menyaksikannya.”
The Legend of Aang: The Last Airbender merupakan adaptasi dari serial animasi populer Nickelodeon yang telah memiliki basis penggemar global.
Produksi animasi film ini dikerjakan oleh Flying Bark Productions yang berbasis di Australia, dengan jajaran pengisi suara ternama seperti Dave Bautista, Steven Yeun, dan Eric Nam. Selain Montgomery sebagai sutradara, proyek ini juga melibatkan William Mata sebagai co-director.
Kasus kebocoran ini menjadi salah satu yang cukup jarang terjadi di industri film, mengingat jarangnya sebuah film utuh beredar secara ilegal jauh sebelum jadwal rilis resmi. Peristiwa ini juga menambah tekanan bagi Paramount yang sebelumnya sudah menghadapi kritik terkait strategi distribusi film tersebut.
Hingga saat ini, Paramount belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan investigasi maupun langkah lanjutan untuk menangani penyebaran ilegal film tersebut.
Namun, insiden ini dipastikan menjadi perhatian serius, tidak hanya bagi studio, tetapi juga bagi industri hiburan secara keseluruhan yang terus berupaya melindungi karya kreatif dari ancaman pembajakan digital.