Kebijakan perdagangan Amerika Serikat kembali mengguncang industri otomotif global. Nissan Motor Co. mengungkapkan bahwa rencana untuk memindahkan produksi mobil murah ke AS bukanlah pilihan realistis, meski mendapat dorongan dari Donald Trump yang ingin lebih banyak kendaraan diproduksi di dalam negeri.
Pabrikan asal Jepang itu menegaskan bahwa produksi mobil entry-level di Amerika Serikat akan membuat harga melambung dan berpotensi menghilangkan segmen mobil terjangkau dari pasar.
Saat ini, Nissan memproduksi model-model terlarisnya seperti Nissan Sentra dan Nissan Kicks di Meksiko. Strategi ini dilakukan untuk menekan biaya produksi, terutama dari sisi tenaga kerja, sehingga harga jual tetap kompetitif.
Di pasar Amerika Serikat, Sentra dibanderol mulai dari sekitar USD 22.600 (Rp384 juta), sementara Kicks sedikit lebih murah di kisaran USD 22.430 (Rp381 juta). Namun, kebijakan tarif impor terhadap mobil buatan Meksiko kini menambah beban biaya sekitar USD 2.500 (Rp42 juta) hingga USD 3.000 per unit.
“Kami tidak bisa memproduksi mobil kelas bawah ini di AS dengan biaya yang sama. Itu tidak mungkin dilakukan,” ujar Christian Meunier dalam forum otomotif di New York, seperti yang juga dilansir dari Bloomberg, Senin (06/04/2026).
Jika Nissan dipaksa memindahkan produksi ke Amerika Serikat, kenaikan biaya hampir pasti akan dibebankan kepada konsumen. Hal ini berpotensi membuat mobil murah semakin langka di pasar.
Sebagai gambaran, harga rata-rata mobil baru di AS saat ini sudah mencapai sekitar USD 49.000, jauh di atas kisaran mobil entry-level. Bahkan, model seperti Nissan Versa yang sebelumnya dikenal sebagai mobil termurah di AS dengan harga di bawah USD 20.000 kini sudah tidak lagi diproduksi di negara tersebut.
Produksi di Meksiko memiliki peran penting bagi Nissan. Lebih dari sepertiga penjualan Nissan di Amerika Serikat berasal dari kendaraan yang dirakit di negara tersebut. Hal ini menunjukkan betapa vitalnya rantai pasok lintas negara dalam menjaga harga tetap terjangkau.
Namun, kebijakan tarif yang lebih ketat berpotensi mengganggu keseimbangan ini dan memaksa pabrikan untuk meninjau ulang strategi produksi mereka.
Nasib harga mobil murah di AS kini sangat bergantung pada arah kebijakan perdagangan ke depan. Perjanjian USMCA akan segera memasuki masa peninjauan, yang dapat menentukan apakah tarif akan dipertahankan, dilonggarkan, atau bahkan diperketat.
Meski demikian, pernyataan Trump sebelumnya menunjukkan sikap keras terhadap impor kendaraan. Ia menegaskan bahwa AS seharusnya tidak bergantung pada mobil dari Meksiko atau Kanada, melainkan memproduksi sendiri di dalam negeri.
Kondisi ini menjadi sinyal serius bagi pasar otomotif global. Jika biaya produksi terus meningkat akibat kebijakan tarif, bukan tidak mungkin segmen mobil terjangkau akan semakin menyusut, digantikan oleh kendaraan dengan harga lebih tinggi.
Bagi konsumen, situasi ini bisa berarti satu hal yaitu pilihan mobil murah semakin terbatas, sementara harga kendaraan baru terus merangkak naik di tengah tekanan ekonomi global.