Raksasa otomotif asal Jepang, Mitsubishi Motors Corporation (MMC) berkomitmen mengucurkan investasi sebesar PHP 7 miliar atau setara USD 116 juta (sekitar Rp1,97 triliun) untuk memulai produksi mobil listrik hybrid (Hybrid Electric Vehicle/HEV) di Filipina pada pertengahan 2028.
Langkah ambisius ini menyusul pertemuan penting antara CEO Mitsubishi Motors, Takao Kato, dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. Investasi jumbo tersebut akan dialokasikan untuk membangun lini produksi khusus di pabrik Mitsubishi Motors Philippines Corporation (MMPC) yang berlokasi di Santa Rosa City, Laguna.
Melansir dari Automotive World, pabrik di Santa Rosa yang saat ini memproduksi model ikonik seperti Mirage, Mirage G4, dan L300, akan mengalami peningkatan kapasitas produksi sebesar 20%. Dari yang sebelumnya mampu menghasilkan 50.000 unit per tahun, kapasitasnya akan melonjak menjadi 60.000 unit per tahun.
Selain memenuhi permintaan domestik yang terus tumbuh, Mitsubishi juga membuka peluang untuk menjadikan Filipina sebagai hub ekspor mobil hybrid ke pasar regional. Langkah ini didukung penuh oleh pemerintah Filipina melalui program Electric Vehicle Incentive Strategy (EVIS).
“Filipina telah lama menjadi salah satu pasar terpenting kami. Melalui program EVIS, kami bangga dapat berkontribusi pada kemajuan elektrifikasi kendaraan dan pembangunan industri, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Filipina lebih jauh lagi,” ujar Takao Kato dalam pernyataan resminya.
Keputusan Mitsubishi untuk memprioritaskan teknologi hybrid dibandingkan mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) di Filipina dinilai sebagai langkah yang sangat pragmatis. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, pangsa pasar mobil hybrid di Filipina mencapai 3,6%, jauh mengungguli BEV yang masih di bawah 1%.
Keterbatasan infrastruktur pengisian daya (charging station) di negara kepulauan tersebut membuat mobil hybrid menjadi solusi transisi yang paling masuk akal bagi konsumen. Strategi ini juga sejalan dengan kebijakan Mitsubishi global yang lebih fokus pada HEV dan Plug-in Hybrid (PHEV), sementara produsen otomotif Barat seperti Ford dan GM justru mulai menarik diri atau mengurangi target ambisius BEV mereka.
Di saat banyak produsen otomotif Jepang mulai kehilangan pangsa pasar di Asia Tenggara akibat serbuan mobil listrik asal Tiongkok, Mitsubishi justru berhasil mempertahankan posisinya di Filipina dengan pangsa pasar mencapai hampir 20%.
Melalui investasi ini, Mitsubishi tidak hanya memperluas basis pasokan lokal dan menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga membentengi dominasinya dari para pesaing baru. Filipina pun diproyeksikan akan menyusul Thailand sebagai basis produksi kendaraan masa depan Mitsubishi di kawasan ASEAN.
Sebagai catatan tambahan, Mitsubishi Motors juga melaporkan pertumbuhan produksi global yang positif. Per Januari 2026, produksi global mereka naik 8,3% secara tahunan (year-on-year) menjadi 81.196 kendaraan. Peningkatan tajam terjadi pada produksi luar Jepang yang melonjak lebih dari 13%, membuktikan bahwa ekspansi manufaktur di luar negeri menjadi kunci pertumbuhan perusahaan di masa depan.