Upaya memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran terus bergulir menjelang tenggat 22 April 2026, di tengah meningkatnya intensitas diplomasi kawasan dan tekanan militer yang belum mereda.
Kedua negara dilaporkan menjalani komunikasi tidak langsung untuk menjaga jeda konflik tetap berlangsung, sementara Pakistan memainkan peran penting sebagai mediator.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Washington belum secara resmi mengajukan perpanjangan gencatan senjata, namun keterlibatan dalam proses negosiasi tetap berjalan aktif.
“Kami sangat terlibat dalam negosiasi ini,” ujarnya seperti dikutip Mashable Indonesia dari The Guardian.
Ia juga membuka peluang adanya putaran lanjutan pembicaraan yang kemungkinan besar digelar di Islamabad. Meski perundingan sebelumnya gagal mencapai kesepakatan damai, pemerintah AS mengaku masih optimistis.
“Kami merasa cukup baik dengan prospek tercapainya kesepakatan,” kata Leavitt, seraya mengingatkan, “Tidak ada yang resmi sampai Anda mendengarnya dari kami di Gedung Putih.”
Langkah diplomatik terus dipercepat. Delegasi Pakistan yang dipimpin Marsekal Lapangan Asim Munir tiba di Teheran untuk menyampaikan pesan dari Washington sekaligus mengatur jalur komunikasi baru antara kedua pihak.
Delegasi tersebut juga melibatkan Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi. Pada saat yang sama, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melakukan lawatan ke Arab Saudi, Qatar, dan Turki guna menghimpun dukungan regional demi mendorong kesepakatan damai.
Dari Teheran, sinyal yang muncul menunjukkan adanya ruang kompromi, meskipun disertai syarat tegas. Iran disebut meminta penghentian serangan Israel di Lebanon sebagai prasyarat untuk melanjutkan negosiasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyampaikan bahwa komunikasi antara Teheran dan Washington tidak pernah benar-benar terputus.
“Pandangan kedua belah pihak kemungkinan akan dibahas secara rinci selama kunjungan ini,” ujarnya, merujuk pada intensitas pertukaran pesan yang tetap berlangsung bahkan setelah perundingan panjang di Islamabad berakhir tanpa hasil.
Namun situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon masih berlanjut.
Dalam pernyataan videonya, ia mengatakan, “Pasukan kami terus menyerang Hizbullah, kami akan segera menguasai Bint Jbeil.” Ia juga mengungkapkan instruksi untuk memperluas zona keamanan di wilayah tersebut.
Kepala staf militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, memperkuat sikap tersebut dengan menyatakan, “Kami terus maju dan menyerang Hizbullah, dan mereka mundur,” serta menegaskan target menjadikan wilayah selatan Lebanon hingga Sungai Litani sebagai area bebas dari kekuatan Hizbullah.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat memperketat tekanan dengan menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Langkah ini diambil setelah perundingan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Washington mengklaim blokade telah berjalan penuh, termasuk menghentikan sejumlah kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Salah satu kapal yang diputarbalikkan adalah tanker milik China.
Respons keras datang dari Teheran. Komandan militer Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, memperingatkan bahwa negaranya siap membalas dengan menghentikan arus perdagangan di kawasan Teluk jika blokade tidak dicabut. “Iran akan bertindak tegas untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan kepentingannya,” tegasnya.
Tekanan tidak hanya datang dari sisi militer. Pemerintah AS juga mengisyaratkan peningkatan sanksi ekonomi. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut pendekatan ini sebagai “setara finansial” dari operasi militer.
Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah memperingatkan berbagai negara dan perusahaan terkait potensi sanksi sekunder. “Jika Anda membeli minyak Iran atau menyimpan uang Iran di bank Anda, kami siap menerapkan sanksi tambahan yang sangat keras,” ujarnya.
Sementara itu, China menyuarakan keberatan terhadap blokade laut yang dilakukan AS, meski Presiden Donald Trump mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Presiden Xi Jinping untuk tidak memasok senjata ke Iran.
Di tengah tarik-menarik tersebut, laporan lain menyebut Iran telah memanfaatkan teknologi satelit untuk kepentingan militer selama konflik berlangsung.
Trump sendiri tetap menunjukkan optimisme tinggi terhadap akhir konflik. Ia bahkan memprediksi perkembangan signifikan dalam waktu dekat. “Saya pikir Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan,” katanya.
Menurutnya, perang bisa berakhir sebelum masa gencatan senjata habis, baik melalui kesepakatan maupun langkah sepihak. “Bisa berakhir dengan dua cara, tetapi saya pikir kesepakatan lebih baik karena mereka bisa membangun kembali,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa konflik kemungkinan berakhir “sangat segera” dan akan berdampak langsung pada penurunan harga minyak global. Pernyataan ini muncul di tengah ketidakpastian pasar energi yang masih menunggu kepastian arah negosiasi.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, dinamika antara diplomasi dan tekanan militer terus berjalan beriringan. Nasib gencatan senjata kini bergantung pada hasil komunikasi tidak langsung yang masih berlangsung, di tengah kepentingan besar dari berbagai pihak yang terlibat dalam konflik kawasan tersebut.