Seekor bayi monyet makaka Jepang bernama Punch dari Kebun Binatang Kota Ichikawa, Jepang, mendadak menjadi perhatian publik global setelah kisah hidupnya yang menyentuh hati menyebar luas di media sosial.
Anak monyet berusia sekitar enam bulan itu viral bukan hanya karena ditinggalkan induknya, melainkan karena ia selalu membawa boneka orangutan kecil yang dipeluknya hampir setiap saat sebagai sumber rasa aman.
Pihak kebun binatang menjelaskan mereka mulai merawat Punch sejak ia tidak lagi bersama induknya. Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, pengelola menulis bahwa mereka terus mendampingi bayi makaka tersebut agar bisa beradaptasi dengan lingkungan baru serta kelompok monyet lain.
Seiring proses itu, publik justru terpikat pada satu detail: Punch hampir tidak pernah melepaskan boneka orangutan yang tampak menjadi pengganti figur kelekatan baginya.
Punch, yang lahir pada Juli 2025 dan dikenal dengan nama Jepang Panchi-kun, perlahan menjadi fenomena internet. Banyak pengguna media sosial membagikan video yang memperlihatkan ia berjalan sambil memeluk boneka tersebut, duduk menyendiri, hingga tertidur sambil menggenggamnya.
Rekaman-rekaman itu memperlihatkan bagaimana penjaga kebun binatang berusaha memperkenalkan Punch kepada kelompok makaka lainnya.
Awalnya proses itu tidak mudah. Sejumlah video yang beredar memperlihatkan Punch tampak tersisih dan beberapa kali mendapat perlakuan keras dari monyet lain.
Dalam beberapa momen ia terlihat duduk murung dengan boneka orangutannya berada di dekat tubuhnya. Kondisi itu membuat banyak warganet merasa iba dan semakin mengikuti perkembangan kesehariannya.
Namun perkembangan positif mulai terlihat. Pada 6 Februari, pihak kebun binatang menyampaikan Punch mulai menjalin interaksi dengan kelompoknya. Beberapa waktu kemudian ia bahkan terlihat dirawat (grooming) oleh monyet lain, tanda penting penerimaan sosial dalam komunitas primata.
Meski begitu, proses belajar bersosialisasi masih berlangsung. Dalam unggahan lanjutan pada 12 Februari, pengelola kebun binatang menulis, “masih ada saat-saat dia dimarahi, tetapi sambil mempelajari aturan kelompok.” Pernyataan itu menunjukkan Punch masih beradaptasi, namun kemajuannya dinilai signifikan.
Popularitas Punch berdampak langsung pada jumlah pengunjung kebun binatang. Foto antrean panjang di pintu masuk yang diunggah pihak pengelola menunjukkan peningkatan minat publik yang ingin melihat langsung bayi makaka tersebut bersama boneka kesayangannya.
Fenomena ini juga meluas ke dunia internasional melalui tagar #HangInTherePunch yang menjadi viral. Banyak orang mengungkapkan empati di kolom komentar.
Salah satu unggahan menyebut, “Kita SEMUA keluarga Punch sekarang.” Tulisan lain berbunyi, “Terkadang, keluarga adalah mereka yang kita temui di perjalanan.” Berbagai komentar emosional pun bermunculan, mulai dari “kami tidak baik-baik saja” hingga “Punch menyatukan dunia.”
Perhatian terhadap Punch bahkan menjangkau perusahaan global. Ikea mengunggah foto boneka orangutan serupa yang disebut sebagai “orangutan penghibur Punch”.
Perusahaan itu kemudian menghubungi kebun binatang untuk menawarkan bantuan. Pada 17 Februari, Ikea Jepang menyumbangkan sejumlah mainan lembut tambahan, termasuk boneka orangutan, serta perlengkapan penyimpanan untuk area anak-anak pengunjung.
CEO & CSO Ikea Jepang, Petra Färe, juga datang langsung ke lokasi untuk menyerahkan donasi kepada Wali Kota Ichikawa, Ko Tanaka. Bantuan tersebut ditujukan tidak hanya untuk Punch, tetapi juga untuk meningkatkan fasilitas edukasi bagi anak-anak yang berkunjung.
Kisah Punch menjadi bukti bagaimana satu cerita kecil dari kebun binatang lokal dapat menyentuh emosi masyarakat dunia. Bayi makaka itu kini bukan sekadar penghuni kebun binatang, melainkan simbol empati global, seekor hewan kecil yang melalui pelukan pada boneka sederhana mampu membuat jutaan orang merasa terhubung.