Laporan Barometer terbaru mengungkap fakta mencolok tentang kondisi Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Indonesia. Dalam laporan bertajuk Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2025/2026, terungkap bahwa hanya satu dari lima pelaku usaha kecil yang mengakses kredit formal sepanjang 2025.
Angka tersebut terus menurun dalam tiga tahun terakhir, dari 33 persen pada 2023, menjadi 27 persen pada 2024, dan kini tinggal 20 persen pada 2025. Temuan ini menegaskan bahwa kesenjangan pembiayaan UMK di Indonesia semakin melebar di tengah dorongan transformasi digital nasional.
Di saat yang sama, program Mastercard Strive Indonesia justru mencatat capaian melampaui target. Inisiatif yang digagas oleh Mastercard Center for Inclusive Growth bersama Mercy Corps Indonesia itu berhasil menjangkau lebih dari 500.000 pelaku usaha di berbagai daerah. Angka tersebut melampaui target awal 300.000 pengusaha yang ditetapkan saat peluncuran program.
Sepanjang implementasinya, Mastercard Strive Indonesia telah memfasilitasi penyaluran pinjaman mikro senilai sekitar Rp140 miliar kepada lebih dari 26.500 UMK. Dari jumlah tersebut, sekitar 97 persen merupakan usaha milik perempuan.
Selain pembiayaan, program ini juga memberikan pendampingan digital kepada lebih dari 200.000 pelaku usaha serta mendorong lebih dari 100.000 pengusaha mengadopsi perangkat keamanan siber untuk melindungi aset digital mereka.
Country Manager Indonesia Mastercard, Aileen Goh dalam konfrensi persnya yang dihadiri Mashable Indonesia, menegaskan bahwa inovasi finansial harus berdampak luas.
“Di Mastercard, inovasi bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang membuka peluang dalam skala besar. Usaha mikro dan kecil di Indonesia membentuk fondasi ekonomi yang tangguh, namun banyak yang masih kurang terlayani oleh keuangan formal,” ujarnya.
“Melalui Mastercard Strive Indonesia, kami menggabungkan wawasan data, perangkat digital, dan kemitraan ekosistem untuk membantu membangun sistem keuangan yang lebih aman dan inklusif, sistem yang memungkinkan para pengusaha untuk tumbuh secara berkelanjutan,” lanjutnya.
Laporan Barometer juga menyoroti tantangan struktural yang dihadapi UMK, mulai dari tingginya suku bunga, persyaratan agunan, hingga hambatan budaya yang membuat banyak pelaku usaha memilih pinjaman informal.
Kesenjangan ini semakin terlihat pada pengusaha perempuan. Hanya 16 persen usaha yang dipimpin perempuan tercatat mengakses kredit formal, dibandingkan 20 persen usaha yang dipimpin laki-laki dan 26 persen usaha dengan kepemimpinan bersama.
Fakta ini menunjukkan adanya hambatan dari sisi penawaran sekaligus faktor kehati-hatian finansial yang mengakar secara sosial.
Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia, Ade Soekadis, menekankan bahwa pembiayaan semata tidak cukup untuk memperkuat daya tahan usaha kecil.
“Akses saja tidak cukup. Pengusaha membutuhkan dukungan yang relevan, tepercaya, dan praktis. Melalui kolaborasi kuat di balik Mastercard Strive, yang telah memberdayakan lebih dari 500.000 pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia, kami membantu membangun ekosistem di mana para pengusaha dapat tumbuh dengan keyakinan dan ketangguhan,” katanya.
Pendekatan pendampingan berbasis komunitas menjadi salah satu kunci keberhasilan program. Melalui mentor lokal dan platform digital seperti MicroMentor, pelaku usaha mendapatkan bimbingan administratif, manajemen keuangan, hingga penguatan kepercayaan diri.
Salah satu contoh datang dari Halim, pemilik toko pakaian di Purwakarta, yang berhasil memperoleh pinjaman Rp20 juta setelah didampingi mentor lokal dalam menyiapkan dokumen dan proposal pembiayaan.
Dukungan lintas sektor turut memperkuat dampak program. Kolaborasi dengan 17 penyedia layanan keuangan memperluas akses kredit, sementara sinergi dengan pemerintah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat membantu memastikan program selaras dengan prioritas pembangunan setempat.
Deputi I Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, menyebut kolaborasi sebagai faktor krusial.
“Penguatan usaha mikro dan kecil memerlukan tindakan yang konkret dan terkoordinasi yang memberikan hasil di lapangan. Program ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra pembangunan dapat memperluas akses ke pembiayaan, meningkatkan kapabilitas digital, dan memperkuat sistem pendukung bagi para pengusaha,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Vice President Social Impact APEMEA Mastercard Center for Inclusive Growth, Subhashini Chandran, mengingatkan adanya kesenjangan baru di era digital.
“Laporan Barometer ini menunjukkan sebuah momen penting: usaha kecil di Indonesia beralih ke digital lebih cepat daripada perkembangan kapabilitas mereka. Kesenjangan dalam kesadaran AI, keamanan digital, dan akses dukungan bisnis berisiko semakin melebar jika tidak ditangani secara kolektif,” katanya.
Temuan tersebut menjadi alarm bagi ekosistem pembiayaan nasional. Meski adopsi digital meningkat, tanpa dukungan finansial dan non-finansial yang memadai, transformasi UMK berpotensi berjalan timpang.
Mastercard menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat usaha mikro dan kecil melalui pendekatan yang berorientasi pada dampak, kemudahan penggunaan, serta keberlanjutan jangka panjang.
Dengan kontribusi UMK sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia, upaya mempersempit kesenjangan pembiayaan dan meningkatkan literasi digital menjadi agenda mendesak.
Laporan Barometer 2025/2026 menjadi pengingat bahwa pertumbuhan inklusif tidak hanya bergantung pada akses modal, tetapi juga pada kesiapan ekosistem dalam mendampingi pelaku usaha agar mampu berkembang secara berkelanjutan.