Meski berhasil mengukuhkan posisi sebagai produsen kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia melampaui Tesla, raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD, harus menelan pil pahit. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2021, perusahaan yang berbasis di Shenzhen ini melaporkan penurunan laba tahunan yang signifikan akibat persaingan pasar yang kian brutal.
Berdasarkan laporan keuangan terbarunya yang dirilis Jumat (27/3/2026), BYD mencatatkan rekor penjualan sebesar USD 116 miliar (sekitar Rp1.838 triliun), seperti yang juga dilansir CNBC, Senin (30/03/2026).
Namun, di balik angka penjualan yang mengkilap tersebut, laba bersih perusahaan justru menyusut 19 persen menjadi 32,6 miliar yuan dibandingkan tahun 2024.
Meski demikian tahun 2025 adalah tahun penting BYD yang sukses mendepak Tesla dari takhta penguasa EV global. Sepanjang tahun lalu, BYD sukses mengirimkan 2,26 juta unit kendaraan listrik, melonjak 28 persen secara tahunan.
Di sisi lain, rival utamanya, Tesla, justru mengalami kelesuan dengan pengiriman hanya mencapai 1,64 juta unit, turun 9 persen. Secara pendapatan pun, BYD yang mencatatkan 804 miliar yuan berhasil melampaui total pendapatan tahunan Tesla yang berada di angka USD 94,8 miliar.
Penurunan laba ini menjadi sinyal bahaya bagi industri New Energy Vehicle (NEV). Chairman BYD, Wang Chuan-fu, mengakui bahwa industri otomotif saat ini sedang berada dalam kondisi “titik didih”.
“Persaingan di industri NEV telah mencapai puncaknya dan kini sedang menjalani ‘fase gugur’ (knockout stage) yang brutal,” tulis Wang Chuan-fu dalam laporan tahunannya.
Sejumlah faktor utama menjadi penyebab tertekannya margin keuntungan BYD dalam beberapa waktu terakhir.
Persaingan harga yang semakin agresif di pasar Tiongkok memaksa produsen memangkas margin demi mempertahankan pangsa pasar. Kondisi ini diperparah oleh melemahnya permintaan domestik, di mana penjualan BYD tercatat menurun selama enam bulan berturut-turut, bahkan anjlok hingga 36 persen secara tahunan pada periode Januari–Februari 2026.
Selain itu, pengurangan subsidi pemerintah untuk kendaraan listrik turut menambah tekanan biaya produksi, sehingga profitabilitas perusahaan semakin tergerus.
Meski demikian, peluang baru mulai muncul di tengah krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran.
Lonjakan harga minyak dunia justru kembali mendorong minat konsumen terhadap kendaraan energi terbarukan. Menyikapi situasi ini, BYD langsung mengambil langkah strategis dengan memperluas ekspansi ke pasar luar negeri seperti Brasil, Argentina, Eropa, dan Inggris yang menawarkan margin lebih tinggi.
Perusahaan juga menargetkan penjualan ekspor ambisius sebesar 1,3 juta unit pada 2026, meningkat dari 1,05 juta unit tahun sebelumnya. Tak hanya itu, BYD turut memperkuat daya saing melalui inovasi teknologi, termasuk peluncuran baterai fast-charging terbaru yang dirancang untuk menarik konsumen kelas atas di pasar global.
Analis otomotif dari Omdia, Chris Liu, menyebut bahwa BYD tidak bisa lagi hanya mengandalkan EV segmen mass-market untuk mempertahankan volume penjualan. Strategi pembangunan pabrik di luar negeri serta peningkatan teknologi menjadi kunci utama bagi BYD untuk tetap bertahan di puncak klasemen otomotif dunia di tahun 2026 yang penuh tantangan ini.