Dunia tengah menghadapi salah satu guncangan energi terdahsyat dalam sejarah. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memutus jalur pasokan bahan bakar fosil dari Timur Tengah, yang memicu lonjakan harga minyak mentah hingga menyentuh angka fantastis 119 Dolar AS per barel pekan lalu.
Namun, di balik bayang-bayang resesi global, krisis ini justru menjadi “angin segar” yang tak terduga bagi industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) China. Di saat harga bensin kian mencekik leher konsumen, mobil listrik asal Negeri Tirai Bambu yang kini semakin murah justru diprediksi akan melakukan ekspansi besar-besaran secara global.
Para analis menilai bahwa kombinasi antara harga BBM yang fluktuatif dan ketersediaan unit EV yang terjangkau bakal mempercepat adopsi kendaraan tanpa emisi, terutama di kawasan Asia.
“Ada potensi besar bagi brand China untuk melakukan penetrasi mendalam ke pasar Asia memanfaatkan tingginya biaya bensin. Mereka pasti akan memanfaatkan momentum ini semaksimal mungkin,” ujar Tu Le, Managing Director Sino Auto Insights, melansir dari CNN, Rabu (01/03/2026).
Selama ini, sekitar 60% pasokan minyak mentah Asia berasal dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz. Dengan adanya pembatasan arus kargo oleh Iran, negara-negara seperti Thailand, Filipina, hingga Vietnam mulai merasakan dampaknya.
Di Vietnam, pabrikan lokal VinFast bahkan sudah mulai menebar diskon besar untuk menarik minat masyarakat beralih dari motor bensin ke motor listrik.
China, yang mengimpor lebih dari 40% minyaknya dari Timur Tengah, ternyata jauh lebih siap menghadapi krisis ini dibandingkan tetangganya. Berkat investasi masif pada energi terbarukan (angin dan surya) serta stok cadangan minyak nasional yang besar, China memiliki benteng pertahanan energi yang kokoh.
Lauri Myllyvirta, analis dari Centre for Research on Energy and Clean Air, mencatat bahwa penetrasi EV di China yang sudah mencapai 50% dari total penjualan mobil baru telah berhasil memangkas konsumsi minyak nasional hingga 10% tahun lalu.
“Bagi kepemimpinan China, skenario krisis ini adalah alasan utama mengapa mereka mengejar strategi keamanan energi sejak lama. Bergantung pada fosil impor bukan hanya buruk bagi lingkungan, tapi juga masalah keamanan nasional,” ungkap Zhu Zhaoyi dari Peking University.
Meskipun menjadi pemimpin global, pabrikan China seperti BYD dan lainnya sebenarnya sedang menghadapi tantangan berat di dalam negeri: Overkapasitas.
Dukungan pemerintah yang luar biasa telah melahirkan ratusan merek EV, namun hanya sedikit yang benar-benar sehat secara finansial. AlixPartners memperkirakan hanya 15 dari 129 merek EV China yang akan bertahan hingga tahun 2030.
Krisis minyak dunia ini pun menjadi jalan keluar bagi para pabrikan tersebut untuk “membuang” kelebihan stok mereka ke pasar luar negeri yang sedang haus akan kendaraan hemat energi.
Meskipun kendaraan listrik (EV) asal China siap membanjiri pasar Asia dengan harga yang kompetitif dan teknologi baterai yang semakin canggih, situasi berbeda justru terjadi di Amerika Serikat.
Pemerintah AS masih menerapkan tarif impor tinggi untuk membatasi masuknya mobil listrik China, sebagai langkah melindungi industri domestik termasuk pemain utama seperti Tesla.
Di sisi lain, Donald Trump juga pernah mengisyaratkan bahwa pintu bagi produsen EV China tetap terbuka, namun dengan syarat mereka harus membangun fasilitas produksi di dalam negeri serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Amerika.
Di sisi lain, bagi konsumen di Asia Tenggara yang sedang berjuang menghadapi inflasi dan kelangkaan BBM, kehadiran mobil listrik China yang lebih murah daripada mobil bensin tradisional mungkin akan menjadi pilihan paling logis dalam waktu dekat.