Konflik geopolitik di Iran kini menimbulkan dampak serius bagi industri otomotif dunia, mengganggu rute pelayaran penting dan memicu lonjakan biaya energi serta ketidakstabilan rantai pasok yang diprediksi berlanjut hingga musim panas 2026.
Pasca serangan Amerika Serikat dan Israel menargetkan Iran, termasuk laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat keamanan tinggi.
Reaksi langsung terjadi di Selat Hormuz, jalur laut paling strategis bagi perdagangan minyak dan gas global, yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan 22 persen ekspor gas alam cair.
Dalam hitungan jam, Pasukan Pengawal Revolusi Iran melarang kapal melewati Selat Hormuz, menyebabkan penurunan arus kapal hingga 70 persen. Operator pelayaran besar seperti Hapag-Lloyd, Maersk, CMA CGM, dan MSC menghentikan transit mereka.
Hal ini memicu kekhawatiran serius bagi produsen otomotif global karena sebagian besar energi dan komponen kendaraan, termasuk baja, aluminium, plastik, dan karet sintetis, tergantung pada transportasi melalui jalur ini.
Brent crude telah menutup perdagangan pada harga $72,87 per barel sebelum konflik, dan analis memperkirakan harga minyak dapat menyentuh $80 hingga $100 per barel jika ketegangan berlanjut.
Kenaikan harga energi ini langsung memengaruhi biaya produksi kendaraan, terutama untuk pabrik-pabrik yang menggunakan energi intensif seperti peleburan logam dan pengecatan.
Melansir laporan dari Automotive Manufacturing Solutions, saat ini ada sekitar 170 kapal kontainer dengan kapasitas 450.000 TEUs terjebak di Selat Hormuz atau sekitarannya.
Hal ini menunda distribusi komponen penting ke pabrik perakitan di Jepang, Korea Selatan, India, Eropa, Amerika, dan Brasil. Pelabuhan utama di Jebel Ali (Dubai), Shuaiba (Kuwait), Qatar, dan Bahrain juga mengalami gangguan operasi, memperparah dampak logistik.
Produsen Jepang seperti Toyota, Honda, dan Nissan, serta perusahaan Korea Selatan Hyundai dan Kia, menghadapi risiko langsung dari kenaikan biaya energi dan keterlambatan pengiriman.
India, sebagai pusat produksi yang berkembang, juga terkena dampak signifikan karena hampir setengah impor minyaknya berasal dari jalur ini. China, dengan 84 persen minyaknya yang melalui Hormuz, menjadi negara paling rentan di sektor otomotif global.
Hal serupa bakal berdampak pada pasokan mobil listrik (Electric Vehicle/EV) dan industri baterai. Meskipun kendaraan listrik (EV) tidak menggunakan bahan bakar fosil langsung, rantai pasok baterai mereka tetap rentan. Lithium, kobalt, nikel, dan mangan, bahan utama baterai, memerlukan energi tinggi untuk ditambang, diolah, dan diangkut.
Dengan China menguasai lebih dari 80 persen kapasitas manufaktur baterai global, kenaikan biaya energi langsung mempengaruhi biaya produksi EV.
Rute alternatif melalui Tanjung Harapan bakal menambah waktu transit 10–14 hari, meningkatkan biaya bahan bakar kapal, dan menimbulkan tantangan bagi sistem just-in-time di pabrik otomotif. Penundaan pasokan komponen diperkirakan akan terasa dalam 2–3 minggu untuk pabrik di Eropa, Amerika, dan Asia.
Para produsen harus segera memetakan risiko pasokan bahan baku dari Teluk, mengevaluasi konsentrasi pemasok tingkat dua dan tiga, serta menyesuaikan strategi energi dan kontrak.
Krisis ini menegaskan pentingnya diversifikasi rantai pasok, stok strategis, dan fleksibilitas produksi sebagai pelajaran dari sejarah gangguan logistik global sebelumnya.