Gelombang kekerasan meluas di berbagai wilayah Meksiko setelah pemimpin kartel narkoba Jalisco New Generation (CJNG), Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho, tewas dalam operasi keamanan yang juga memanfaatkan dukungan intelijen Amerika Serikat.
Pemerintah setempat menetapkan status darurat di negara bagian Jalisco, sementara blokade jalan, pembakaran kendaraan, dan baku tembak dilaporkan terjadi hampir sepanjang hari.
El Mencho, yang selama bertahun-tahun menjadi buronan utama aparat Meksiko dan Amerika Serikat, meninggal pada Minggu setelah mengalami luka berat dalam bentrokan antara tentara dan kelompok bersenjata yang berusaha melindunginya. Operasi penangkapan berlangsung di kota Tapalpa, wilayah pegunungan di negara bagian Jalisco.
Kementerian Pertahanan Meksiko menyatakan empat anggota CJNG tewas dalam operasi tersebut dan tiga personel militer terluka. Namun, kematian bos kartel itu justru memicu aksi balasan besar-besaran dari jaringan kriminalnya.
Di sedikitnya selusin negara bagian, anggota kartel membakar kendaraan untuk menutup jalan utama dan memblokir akses antarwilayah.
Laporan saksi mata menyebut orang-orang bersenjata terlihat berpatroli di jalanan, sementara asap hitam terlihat membumbung di sejumlah kota, termasuk Guadalajara, salah satu kota yang dijadwalkan menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA mendatang.
Gubernur Jalisco Pablo Lemus Navarro menetapkan status siaga merah. Seluruh transportasi publik dihentikan, acara keramaian dibatalkan, dan kegiatan sekolah tatap muka ditangguhkan guna mengurangi risiko korban sipil.
Kondisi di kawasan wisata juga terdampak. Sejumlah turis menggambarkan Puerto Vallarta sebagai zona perang, karena suara tembakan dan pembakaran kendaraan terdengar sepanjang hari.
Menurut laporan CBS yang dilansir Mashable Indonesia, sekitar 250 titik blokade muncul di berbagai daerah, dengan 65 di antaranya berada di Jalisco. Dalam pembaruan terakhir, Kabinet Keamanan Meksiko menyatakan empat blokade masih aktif di wilayah tersebut.
Pemerintah juga melaporkan 25 orang telah ditangkap. Sebanyak 11 orang diduga terlibat langsung dalam aksi kekerasan, sementara 14 lainnya ditahan karena penjarahan dan perusakan. Selain itu, puluhan toko terbakar dan sekitar 20 kantor cabang bank menjadi sasaran serangan.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menegaskan aparat federal dan pemerintah daerah bekerja bersama menangani situasi tersebut. Ia meminta masyarakat tidak panik.
“Ada koordinasi penuh antara pejabat negara bagian dan federal,” ujarnya, seraya mengimbau warga tetap “tenang dan mendapatkan informasi.” Ia juga menambahkan, “di sebagian besar wilayah negara, aktivitas berjalan normal.”
Dampak keamanan segera dirasakan sektor transportasi. Beberapa maskapai internasional, termasuk Air Canada, United Airlines, dan American Airlines, membatalkan penerbangan menuju Jalisco. Pemerintah Amerika Serikat bahkan memperingatkan warganya untuk berlindung di tempat di Jalisco, Tamaulipas, sebagian Michoacán, Guerrero, dan Nuevo Leon.
Pemerintah Inggris juga mengeluarkan peringatan perjalanan, menyebut terjadi “insiden keamanan serius” di Jalisco dan meminta warga negaranya untuk “sangat berhati-hati” serta mengikuti instruksi otoritas setempat.
Gedung Putih menyatakan operasi tersebut merupakan target prioritas bersama. Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengatakan El Mencho adalah “target utama pemerintah Meksiko dan Amerika Serikat sebagai salah satu penyelundup utama fentanyl ke negara kami.” Ia menyebut operasi itu menewaskan tiga anggota kartel, melukai tiga lainnya, dan dua orang ditangkap, dengan dukungan intelijen AS.
El Mencho, mantan polisi berusia 59 tahun, memimpin organisasi kriminal besar yang bertanggung jawab atas penyelundupan kokain, metamfetamin, dan fentanyl dalam jumlah besar ke Amerika Serikat. Departemen Luar Negeri AS sebelumnya menawarkan hadiah 15 juta dolar AS atau sekitar Rp235 miliar bagi informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Kementerian Pertahanan Meksiko menyatakan operasi tersebut “direncanakan dan dilaksanakan” oleh pasukan khusus negara itu. Sementara itu, mantan pejabat senior Badan Pemberantasan Narkoba AS (DEA) Mike Vigil menyebut tindakan tersebut sebagai “salah satu tindakan paling signifikan dalam sejarah perdagangan narkoba.”
Meski pemerintah menyatakan situasi mulai terkendali, aparat keamanan masih disiagakan di sejumlah kota. Otoritas khawatir jaringan CJNG akan terus melakukan serangan balasan dalam beberapa hari ke depan, mengingat struktur kartel tersebut tersebar luas dan memiliki kemampuan militer yang kuat.