Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengaku terkejut ibu kota Indonesia mampu menempati posisi kedua sebagai kota teraman di kawasan Asia Tenggara versi Global Residence Index edisi 2026. Pencapaian ini menempatkan Jakarta tepat di bawah Singapura yang masih bertahan di peringkat pertama.
“Itu saya sebenarnya juga surprise. Jakarta yang selama ini selalu di bawah Bangkok, Manila dan Kuala Lumpur, sekarang Jakarta posisi kedua, setelah Singapura,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Selasa.
Dalam laporan tersebut, Jakarta berhasil mengungguli sejumlah kota besar lain di Asia Tenggara seperti Manila, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Bahkan, posisi Jakarta berada di atas beberapa kota lain seperti Vientiane dan Hanoi.
Berdasarkan data yang dirilis, Singapura menempati posisi teratas dengan skor 0,90. Jakarta berada di peringkat kedua dengan skor 0,72, disusul Bangkok di posisi ketiga dengan skor 0,65.
Sementara itu, Vientiane berada di posisi keempat dengan skor 0,61, Hanoi di posisi kelima dengan skor 0,60, dan Kuala Lumpur di urutan keenam dengan skor 0,57.
Pramono menilai, peningkatan peringkat Jakarta tidak terlepas dari keberhasilan menjaga stabilitas keamanan dan keharmonisan sosial, terutama pada berbagai momentum besar keagamaan yang berlangsung sepanjang tahun. Ia mencontohkan sejumlah perayaan lintas agama yang berjalan aman dan kondusif di ibu kota.
“Alhamdulillah menunjukkan kuatnya keberagaman yang ada di Jakarta. Itu juga menjadi etalase atau simbol tentang Jakarta sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai kegiatan seperti perayaan Natal dengan christmas carol, perayaan Imlek dengan Cap Go Meh, hingga rangkaian kegiatan Ramadhan dan Idul Fitri seperti pawai obor dan festival bedug, mampu berlangsung dengan tertib. Selain itu, perayaan Nyepi yang identik dengan pawai ogoh-ogoh juga berjalan lancar tanpa gangguan berarti.
Capaian tersebut, lanjut Pramono, menjadi bukti bahwa Jakarta tidak hanya berkembang sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga sebagai kota yang mampu menjaga toleransi dan rasa aman di tengah keberagaman masyarakatnya. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mempertahankan kondisi tersebut.
“Keamanan dan kenyamanan ini harus kita jaga bersama-sama, bahkan ditingkatkan,” kata dia menegaskan.
Sebagai catatan, pemeringkatan yang dilakukan oleh Global Residence Index tidak hanya melihat satu aspek semata, melainkan menggabungkan berbagai indikator penting yang mencerminkan tingkat keamanan suatu kota secara menyeluruh. Indikator tersebut meliputi:
- Numbeo Index: Mengukur persepsi keamanan publik dari masyarakat, termasuk risiko kejahatan seperti pencurian dan serangan fisik.
- Homicide Rate (kota dan negara): Tingkat pembunuhan per kapita yang terjadi di suatu wilayah.
- Global Peace Index: Menilai tingkat kedamaian suatu negara berdasarkan faktor konflik, keamanan sosial, dan tingkat militerisasi.
- Security Risk: Mengukur risiko keamanan umum, seperti ancaman terorisme dan kriminalitas berat.
- Political Risk: Menilai stabilitas politik dan potensi ketidakpastian dalam pemerintahan.
- Natural Disaster Risk: Potensi terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan badai.
- Road Traffic Death Rate: Tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas yang mencerminkan keselamatan transportasi.
- Natural Disasters Death Rate: Jumlah korban jiwa akibat bencana alam.
- Major Conflict Death Rate: Tingkat kematian akibat konflik besar di suatu wilayah.
Dengan mempertimbangkan berbagai indikator tersebut, posisi Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara menjadi capaian yang cukup signifikan.
Hal ini sekaligus memperkuat citra ibu kota sebagai kota metropolitan yang tidak hanya dinamis, tetapi juga semakin aman dan nyaman untuk ditinggali maupun dikunjungi.