Penggunaan fosfor putih oleh militer Israel di Lebanon selatan kembali menjadi sorotan setelah peneliti mengungkap indikasi kuat bahwa zat tersebut dipakai untuk membakar wilayah luas, termasuk area permukiman.
Temuan ini memicu kekhawatiran baru terkait potensi pelanggaran hukum perang, terutama karena dampaknya yang dinilai membahayakan warga sipil dan lingkungan.
Human Rights Watch (HRW) melaporkan telah memverifikasi sedikitnya delapan bukti visual yang menunjukkan ledakan fosfor putih di udara di atas kota Yohmor, Lebanon selatan, pada fase awal operasi militer Israel yang berkaitan dengan konflik di Gaza.
Identifikasi tersebut dilakukan melalui pola khas kepulan asap yang dihasilkan saat proyektil artileri jenis M825 meledak. Ciri visual berupa asap berbentuk seperti buku jari menjadi indikator penting dalam proses verifikasi.
Seiring berjalannya waktu, lebih banyak rekaman video beredar yang diduga memperlihatkan penggunaan munisi serupa di berbagai titik Lebanon selatan.
Namun, para peneliti menilai jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar, mengingat sekitar 800.000 warga telah mengungsi setelah mendapat peringatan untuk meninggalkan wilayah tersebut. Kondisi ini membuat banyak insiden tidak terdokumentasi secara menyeluruh.
Situasi di lapangan juga masih memanas. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Israel dilaporkan terus melancarkan serangan ke infrastruktur penting seperti jalan raya, jembatan, stasiun bahan bakar, hingga fasilitas kesehatan.
Langkah ini disebut sebagai upaya untuk memutus akses Lebanon selatan dari wilayah lainnya, di tengah perlawanan sengit dari kelompok Hezbollah.
Fosfor putih sendiri merupakan bahan kimia yang kerap digunakan dalam operasi militer. Saat bersentuhan dengan oksigen, zat ini langsung menyala dengan suhu mencapai 800 derajat Celsius dan menghasilkan asap tebal.
Secara taktis, militer memanfaatkannya untuk menciptakan tirai asap, menandai target, atau memberikan penerangan di malam hari. Namun, penggunaannya di area sipil menjadi kontroversial karena berpotensi menyebabkan luka bakar serius, kebakaran luas, dan paparan zat beracun.
Peneliti doktoral dari Delft University of Technology, Ahmad Beydoun, mengungkapkan bahwa penggunaan fosfor putih oleh Israel di Lebanon selatan bukan fenomena baru. Ia mencatat hampir 250 kejadian antara Oktober 2023 hingga November 2024.
Dari jumlah tersebut, sekitar 39 persen terjadi di kawasan permukiman, 17 persen di lahan pertanian, dan sisanya di wilayah hutan maupun area terbuka.
“Saya pikir cara berpikir militer Israel adalah menggunakan ini untuk membakar ladang agar visibilitas meningkat, sehingga orang atau militan Hezbollah tidak bersembunyi di bawah pepohonan,” ujar Beydoun dikutip Mashable Indonesia dari The Guardian.
Ia menambahkan bahwa penggunaan tersebut kemungkinan juga memiliki tujuan lain. “Ini hanyalah alat praktis untuk membakar ladang, saya pikir sebagian besar itu. Pada dasarnya untuk menghanguskan wilayah,” katanya.
Laporan dari organisasi nirlaba Lebanon, Public Works Studio, memperkuat temuan tersebut. Disebutkan bahwa lebih dari 2.000 hektare wilayah pedesaan di Lebanon selatan telah terbakar akibat penggunaan fosfor putih, termasuk ratusan hektare hutan lebat yang dipenuhi pohon karet, oak, dan pinus.
Kerusakan ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengganggu ekosistem dalam waktu lama.
Bahaya lain muncul dari residu fosfor putih yang tertinggal di tanah. Zat ini dapat menyala kembali secara spontan ketika terganggu, misalnya saat petani mengolah lahan. Kondisi tersebut menciptakan ancaman berkepanjangan bagi warga yang ingin kembali ke rumah mereka.
Selain itu, dampak kimia yang ditinggalkan juga menjadi perhatian serius. Serangan berulang dengan fosfor putih disebut dapat meningkatkan kandungan asam fosfat serta logam berat beracun seperti kadmium, timbal, dan seng di dalam tanah.
Akumulasi ini berisiko menurunkan kesuburan tanah, mengurangi keanekaragaman mikroorganisme, serta menghambat produktivitas pertanian di masa depan.
Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan pihaknya tidak dapat memberikan komentar spesifik terkait klaim penggunaan ilegal fosfor putih di Yohmor. Ia menekankan bahwa interpretasi visual semata tidak cukup untuk memastikan jenis munisi yang digunakan.
“Mungkin terdapat kemiripan visual antara peluru asap yang mengandung fosfor putih dan yang tidak, sehingga diperlukan kehati-hatian sebelum menarik kesimpulan faktual hanya berdasarkan tampilan visual,” ujarnya.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Danny Danon, juga tidak secara langsung menanggapi tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa pihaknya berupaya meminimalkan dampak terhadap warga sipil. “Kami melakukan segala yang kami bisa untuk meminimalkan korban sipil. Itulah mengapa kami meminta warga Lebanon selatan, di selatan Sungai Litani, untuk berpindah ke utara guna menghindari korban sipil,” katanya.
Temuan-temuan ini menambah panjang daftar kekhawatiran internasional terhadap penggunaan senjata berisiko tinggi di wilayah padat penduduk. Di tengah konflik yang belum mereda, isu perlindungan warga sipil dan dampak lingkungan kini menjadi sorotan yang tak kalah penting dibanding dinamika militer di lapangan.