Harga plastik sebagai salah satu komponen penting dalam pembuatan mobil melonjak drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan bervariasi antara 30 hingga 70 persen, bahkan beberapa jenis plastik mengalami lonjakan hingga 100 persen. Pemicu utamanya adalah gangguan pasokan bahan baku petrokimia akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi ini terjadi di saat nilai tukar rupiah juga melemah ke level di atas Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Dua faktor tersebut seharusnya menjadi pukulan ganda bagi biaya produksi kendaraan bermotor.
Namun, sejumlah pabrikan mobil yang beroperasi di Indonesia memilih untuk tidak menaikkan harga jual.
Menanggapi fenomena tersebut, pabrikan besar seperti Hyundai, Daihatsu dan Honda mulai melakukan pemetaan strategi guna menjaga stabilitas harga di pasar domestik.
PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) menjadi salah satu yang pertama menyatakan komitmennya untuk menahan harga. Chief Operating Officer HMID, Fransiscus Soerjopranoto, mengatakan bahwa perusahaan tidak memiliki niat untuk menaikkan harga dalam waktu dekat.
“Sejauh ini, walaupun harga plastik naik dan exchange rate kita perhatikan di atas Rp17.000, ada beberapa faktor yang juga naik, tapi Hyundai bisa mempertahankan sampai saat ini,” ujar Fransiscus di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, kenaikan biaya produksi diatasi melalui berbagai langkah efisiensi internal. Perbaikan dilakukan baik pada proses manufaktur maupun distribusi.
“Itu mungkin bisa diserap dengan beberapa peningkatan yang dilakukan di dalam proses manufaktur dan juga di dalam proses distributor. Kami tidak akan membebankan diler juga,” jelasnya.
Hyundai berharap pasar otomotif nasional dapat kembali stabil di tengah berbagai tekanan ekonomi. “Kita akan terus lakukan demi konsumen kami, agar industri otomotif kita tetap stabil,” imbuh Fransiscus.
Deputy Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Rokky Irvayandi, mengakui bahwa kenaikan harga plastik memberikan pengaruh terhadap biaya produksi. Namun, ia menegaskan bahwa hingga saat ini kondisi tersebut belum berdampak langsung pada harga jual diler (on the road) produk-produk Daihatsu di Indonesia.
“Kalau harga plastik naik, pengaruhnya tentu ada. Namun apakah berdampak langsung ke harga mobil, itu berbeda karena banyak komponen lain yang juga berpengaruh, tidak hanya plastik,” ujar Rokky di Jakarta (16/4/2026).
Menurut Rokky, pabrikan memiliki berbagai strategi mitigasi, salah satunya melalui penyesuaian strategi penetapan harga (pricing strategy) yang matang.
“Saat ini kami tidak ada kenaikan harga, masih terkendali,” tambahnya, memastikan bahwa lini produk seperti Daihatsu Sigra dan lainnya masih dilepas dengan harga normal.
Kondisi serupa dialami oleh PT Honda Prospect Motor (HPM). Namun, Honda melihat tantangan saat ini bukan hanya soal harga material plastik, melainkan adanya efek domino dari lonjakan biaya kargo laut serta ketidakpastian jadwal pengiriman komponen impor.
Sales & Marketing and After Sales Operations Director PT HPM, Yusak Billy, menjelaskan bahwa dinamika pada rantai pasok global ini sedang dalam pengelolaan ketat perusahaan. Kendala logistik di sejumlah wilayah dunia berpotensi mengganggu jalur perakitan jika tidak dimitigasi dengan cepat.
“Kami melakukan evaluasi terhadap perencanaan pasokan untuk beberapa model serta terus melakukan penyesuaian guna menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar,” ungkap Billy. Fokus utama Honda saat ini adalah memastikan konsumen tidak perlu menghadapi masa inden (tunggu) yang lama akibat terhambatnya distribusi komponen.
Tahun 2026 menjadi periode yang cukup menantang bagi produsen otomotif. Selain isu plastik dan logistik, industri juga sempat dibayangi oleh krisis cip memori yang mengerek biaya produksi elektronik global.
Meski tekanan biaya produksi meningkat, para produsen di Indonesia tampaknya masih berupaya keras “menahan” harga agar tidak membebani konsumen, mengingat daya beli masyarakat yang sedang dalam tahap pemulihan.
Para pelaku industri kini terus memantau pergerakan harga komoditas petrokimia dunia sembari melakukan efisiensi di lini produksi guna menjaga daya saing di pasar nasional.