Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat meskipun harga minyak dunia tengah melonjak tajam.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengenai kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi setidaknya hingga periode Hari Raya Idul Fitri tahun ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM di Jakarta pada Senin. Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat di tengah gejolak harga minyak global.
“Sekali lagi saya pastikan, sampai dengan hari raya ini insyaallah tidak ada kenaikan harga BBM subsidi,” ujar Bahlil kepada awak media.
Menurutnya, kebijakan ini diambil sebagai bentuk perlindungan pemerintah terhadap daya beli masyarakat, terutama saat kebutuhan meningkat menjelang bulan puasa hingga perayaan Idul Fitri. Pada periode tersebut, konsumsi energi biasanya meningkat seiring tingginya mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Selain memastikan harga Pertalite tetap stabil, Bahlil juga menekankan bahwa pasokan BBM nasional dalam kondisi aman. Ia menyatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menjamin distribusi energi berjalan lancar selama Ramadan dan Lebaran.
“Pasokan tidak ada masalah. Untuk puasa dan Hari Raya Idul Fitri semuanya terjamin, tidak ada masalah,” kata Bahlil dikutip Mashable Indonesia dari Antara.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Menurutnya, kepanikan yang memicu panic buying justru berpotensi mengganggu distribusi energi yang sebenarnya sudah dipersiapkan dengan baik oleh pemerintah dan operator energi.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil dilaporkan telah mencapai 118 dolar Amerika Serikat per barel, atau sekitar Rp1,85 juta per barel jika dikonversikan ke rupiah dengan asumsi kurs sekitar Rp15.700 per dolar AS.
Menurut laporan kantor berita internasional, lonjakan harga tersebut menjadi yang pertama kali terjadi sejak pertengahan 2022. Kenaikan harga energi global ini dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Ketegangan di kawasan meningkat tajam setelah serangan besar-besaran dilaporkan terjadi pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis di Iran dan memicu korban jiwa dalam jumlah besar.
Laporan yang beredar menyebutkan lebih dari seribu orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta ratusan warga sipil dan sejumlah pejabat militer.
Situasi tersebut kemudian memicu respons militer dari Iran. Negara itu melancarkan serangkaian serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat, fasilitas diplomatik, hingga berbagai lokasi strategis di kawasan Timur Tengah. Beberapa kota di Israel juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Eskalasi konflik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan kawasan, tetapi juga mengguncang pasar energi global. Ketidakpastian pasokan minyak dari Timur Tengah membuat para pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan, yang pada akhirnya mendorong harga minyak dunia naik signifikan.
Ketegangan semakin meningkat setelah serangan udara terbaru dilaporkan terjadi pada Minggu (8/3). Serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas penyimpanan minyak di Teheran dan wilayah sekitarnya.
Salah satu fasilitas yang dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah adalah Depo Minyak Shahran, yang merupakan bagian penting dari infrastruktur energi Iran.
Kondisi tersebut membuat pasar energi global terus bergejolak. Banyak negara yang bergantung pada impor energi mulai memantau perkembangan situasi dengan cermat karena potensi gangguan pasokan dapat berdampak langsung terhadap harga bahan bakar domestik.
Di tengah situasi global yang tidak menentu itu, pemerintah Indonesia berupaya menjaga stabilitas energi nasional. Dengan mempertahankan harga Pertalite, pemerintah berharap masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa terbebani lonjakan biaya energi.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan momentum pemulihan ekonomi nasional tetap terjaga, terutama menjelang periode Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya menjadi pendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor.