Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Iran mulai mengubah perilaku konsumen otomotif di Eropa. Dalam beberapa pekan terakhir, penjualan mobil listrik bekas (used EV) dilaporkan melonjak signifikan, seiring masyarakat mencari alternatif kendaraan yang lebih hemat biaya operasional.
Data dari berbagai platform jual beli mobil menunjukkan tren pergeseran cepat dari kendaraan berbahan bakar fosil ke elektrifikasi, khususnya di pasar mobil bekas yang lebih terjangkau.
Kenaikan harga bahan bakar dipicu oleh terganggunya distribusi minyak global, terutama di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Akibatnya, harga bensin di kawasan Uni Eropa melonjak sekitar 12% dalam waktu kurang dari satu bulan, mencapai rata-rata €1,84 per liter. Kenaikan ini langsung dirasakan konsumen dan memicu perubahan preferensi kendaraan.
Platform jual beli mobil bekas di Norwegia, Finn.no, melaporkan bahwa mobil listrik kini menjadi jenis kendaraan paling laris, bahkan melampaui diesel.
Fenomena serupa terjadi di berbagai negara Eropa. Perusahaan retail mobil bekas asal Prancis, Aramisauto, mencatat lonjakan penjualan EV hampir dua kali lipat hanya dalam tiga minggu. Pangsa EV naik dari 6,5% menjadi 12,7%.
Sebaliknya, penjualan mobil bensin dan diesel justru mengalami penurunan dalam periode yang sama.
CEO Aramisauto menyebut bahwa harga bensin di atas €2 per liter memiliki dampak psikologis kuat terhadap konsumen. Ketika angka tersebut tercapai, minat terhadap kendaraan listrik dan hybrid meningkat tajam.
Fenomena ini bukan yang pertama. Pada 2022, saat terjadi konflik Rusia-Ukraina, lonjakan harga energi juga memicu tren serupa di Eropa.
Platform marketplace otomotif OLX melaporkan lonjakan pencarian mobil listrik di sejumlah negara, Prancis naik 50%, Portugal naik 54%, Rumania naik 40% serta Polandia naik 39%.
Di Jerman, situs jual beli mobil terbesar mobile.de mencatat lonjakan pencarian EV hingga tiga kali lipat sejak awal Maret. Permintaan dari dealer terhadap EV bekas juga naik 66%.
Analis menyebut pasar mobil bekas bereaksi lebih cepat terhadap perubahan kondisi ekonomi dibanding mobil baru. Hal ini karena harga yang lebih terjangkau—bahkan bisa 40% lebih murah—serta ketersediaan unit yang siap pakai tanpa waktu tunggu panjang.
Selain itu, meningkatnya kepercayaan terhadap kualitas baterai dan hadirnya sertifikat kesehatan baterai turut mendorong minat konsumen terhadap EV bekas.
Sejumlah produsen otomotif mulai memanfaatkan momentum ini. Brand seperti MG активно mempromosikan kendaraan listriknya dengan menyoroti tingginya biaya bahan bakar, mengajak konsumen untuk beralih ke mobil listrik.
Meski lonjakan ini dipicu krisis, para analis menilai pergeseran ke kendaraan listrik sebenarnya sudah berlangsung sebelumnya. Konflik geopolitik hanya mempercepat adopsi yang sudah berjalan.
Perusahaan data otomotif Marketcheck menyebut tren kenaikan penjualan EV bekas menunjukkan pola “stabil dan berkelanjutan” sejak konflik dimulai.