Perusahaan energi ritel asal Thailand, PTT Oil and Retail Business (OR), mempercepat ekspansi bisnis kendaraan listrik (EV) di tengah lonjakan dan volatilitas harga minyak global. Langkah ini dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk menjawab perubahan perilaku konsumen sekaligus memperkuat ekosistem mobilitas listrik di kawasan Asia Tenggara.
Melansir dari Bangkok Post, Senin (06/04/2026), CEO OR ML Peekthong Thongyai mengatakan bahwa ketidakstabilan harga energi berbasis fosil mulai mendorong masyarakat mempertimbangkan alternatif yang lebih efisien seperti kendaraan listrik. Meski belum bisa dipastikan seberapa besar peralihan tersebut, tren peningkatan minat terhadap EV dinilai semakin nyata.
Lonjakan harga bahan bakar di Thailand sendiri dipicu dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak mentah dan produk turunannya.
Pemerintah Thailand bahkan mulai menaikkan harga BBM domestik setelah dana penyangga energi nasional mengalami tekanan. Harga solar, misalnya, telah naik signifikan dalam beberapa bulan terakhir, memperkuat urgensi transisi energi.
Untuk mengantisipasi perubahan tersebut, OR menyiapkan anggaran investasi sebesar 58 miliar baht untuk periode 2026–2030. Dari jumlah tersebut, sekitar 38 miliar baht dialokasikan khusus untuk pengembangan bisnis energi, termasuk infrastruktur kendaraan listrik seperti stasiun pengisian daya.
Perusahaan menargetkan pertumbuhan signifikan pada penggunaan layanan charging EV. Jika pada 2023 jumlah pengguna masih sekitar 1.600 dengan rata-rata waktu pengisian empat jam per hari, angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 7.000 pengguna dengan durasi pengisian rata-rata tujuh jam per hari pada 2030.
“Kami melihat pertumbuhan yang sangat cepat di layanan pengisian daya EV. Ini menunjukkan bahwa listrik mulai menjadi bahan bakar utama di masa depan,” ujar Peekthong.
Kenaikan harga BBM yang terus terjadi diprediksi akan menjadi katalis utama percepatan adopsi kendaraan listrik. Ketika biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil semakin tinggi, EV menjadi opsi yang lebih ekonomis dalam jangka panjang.
Kondisi ini juga memaksa pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan subsidi energi. Jika tekanan terus berlanjut, bukan tidak mungkin anggaran negara harus ditambah atau bahkan melalui skema pinjaman untuk menjaga stabilitas harga energi domestik.
Selain fokus pada EV, OR juga memperkuat lini bisnis energi konvensional yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Salah satu langkah strategisnya adalah mengakuisisi saham perusahaan jaringan pipa minyak Thai Pipeline Network.
Melalui anak usahanya, Modulus Venture, OR kini menguasai mayoritas saham perusahaan tersebut. Infrastruktur pipa ini menghubungkan wilayah Saraburi hingga Khon Kaen sepanjang sekitar 300 kilometer, yang dinilai mampu mengurangi emisi karbon dibandingkan distribusi minyak menggunakan truk.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi transisi energi yang lebih luas, di mana efisiensi distribusi bahan bakar tetap diperbaiki sembari mendorong adopsi energi bersih.
Ekspansi agresif OR di sektor EV menegaskan bahwa industri otomotif global tengah memasuki fase transformasi besar. Dengan dukungan infrastruktur yang semakin matang dan tekanan harga BBM yang tinggi, kendaraan listrik diprediksi akan menjadi pilihan utama masyarakat dalam beberapa tahun ke depan.
Thailand sendiri menjadi salah satu pasar kunci di Asia Tenggara dalam pengembangan EV. Upaya perusahaan seperti OR diyakini akan mempercepat transisi menuju ekosistem mobilitas yang lebih berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.