Produsen otomotif asal Tiongkok, Geely, kembali menegaskan arah pengembangan teknologi bahan bakar alternatif dengan mendorong penggunaan metanol sebagai solusi transportasi masa depan, terutama untuk kendaraan berat.
Dalam forum China Smart Electric Vehicle Development Forum 2026 yang juga dilansir dari Car News China, Chairman Geely, Li Shufu, menyampaikan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai lithium memiliki bobot jauh lebih besar dibandingkan kendaraan berbahan bakar metanol, yang dinilai berpotensi mempengaruhi efisiensi energi.
Li Shufu menyoroti bahwa mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dapat memiliki bobot hingga dua kali lipat dibandingkan kendaraan berbasis metanol dengan kapasitas transportasi yang setara.
Ia juga menyebutkan bahwa metanol memiliki densitas energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan baterai lithium-ion, sehingga memungkinkan kendaraan membawa beban lebih besar dengan bobot total yang lebih ringan.
Menurutnya, faktor bobot menjadi krusial terutama pada sektor transportasi berat, di mana peningkatan massa kendaraan akan berdampak langsung pada konsumsi energi dan efisiensi operasional.
Dorongan terhadap metanol tidak lepas dari dukungan kebijakan pemerintah China yang mulai memperluas fokus energi alternatif, tidak hanya pada kendaraan listrik berbasis baterai.
Beberapa kebijakan yang disebutkan mencakup pengembangan ekosistem energi hijau terpadu, termasuk infrastruktur pengisian daya listrik dan battery swapping, pengembangan hidrogen dan amonia serta ekspansi penggunaan metanol sebagai bahan bakar alternatif.
Program ini menjadi bagian dari strategi transisi menuju ekonomi rendah karbon yang lebih beragam dan tidak bergantung pada satu sumber energi saja.
Bahan bakar metanol adalah bahan bakar cair yang berasal dari senyawa kimia metanol (CH₃OH) dan digunakan untuk menggerakkan mesin, mirip seperti bensin.
Metanol sendiri diproduksi melalui proses kimia dari berbagai sumber, seperti gas alam yang paling umum digunakan, batu bara, biomassa atau limbah organik, serta kombinasi karbon dioksida (CO₂) dan hidrogen yang berasal dari energi terbarukan.
Geely bukan pemain baru dalam pengembangan kendaraan berbasis metanol. Perusahaan ini telah mengembangkan teknologi tersebut selama lebih dari dua dekade, termasuk melalui program uji coba nasional yang dimulai sejak 2012.
Sejak saat itu, pemerintah China telah memperluas implementasi kendaraan metanol ke puluhan kota. Hingga kini, tercatat lebih dari 30 kota telah mengadopsi kebijakan terkait penggunaan bahan bakar ini.
Strategi metanol Geely tidak berhenti pada tahap riset. Perusahaan mulai mengintegrasikan teknologi ini ke dalam kendaraan produksi, termasuk varian plug-in hybrid berbahan bakar metanol pada sedan Galaxy.
Selain itu, Geely juga menguji performa metanol di ajang motorsport untuk mengukur ketahanan dan efisiensi dalam kondisi ekstrem.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa metanol tidak hanya diposisikan sebagai solusi eksperimental, tetapi juga sebagai alternatif yang siap digunakan dalam skala lebih luas.
Li Shufu menegaskan bahwa penggunaan metanol akan difokuskan pada sektor kendaraan komersial dan transportasi berat. Segmen ini dinilai paling membutuhkan solusi efisiensi energi dan pengurangan emisi dalam jangka panjang.
Metanol juga disebut memiliki potensi dalam menekan emisi karbon secara keseluruhan, terutama jika diproduksi dari sumber energi terbarukan.
Dalam forum yang sama, Geely juga melaporkan kinerja ekspor yang meningkat signifikan. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan mencatat ekspor lebih dari 200.000 unit kendaraan, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Target ekspor tahunan pun dinaikkan menjadi 750.000 unit, mencerminkan ekspansi global yang terus berlangsung.
Meski kendaraan listrik berbasis baterai saat ini mendominasi pasar global, pernyataan Geely menunjukkan bahwa industri otomotif masih membuka ruang bagi berbagai teknologi alternatif.