Ford kembali memperluas lini kendaraan listrik komersialnya dengan menghadirkan van terbaru bernama Ford Transit City. Menariknya, kendaraan ini dikembangkan dan diproduksi di China untuk menekan biaya produksi.
Model ini diposisikan sebagai solusi mobilitas logistik perkotaan dengan biaya operasional rendah, menyasar pelaku usaha dan armada pengiriman last-mile di kawasan Eropa dan Inggris.
Melansir dari CarScoops, Jumat (27/03/2026), Transit City dikembangkan menggunakan platform kendaraan listrik milik Jiangling Motors Corporation (JMC), mitra lama Ford di China. Tak hanya basis teknologinya, proses produksi van ini juga dilakukan di Negeri Tirai Bambu.
Langkah ini menunjukkan strategi global Ford dalam memanfaatkan efisiensi manufaktur China untuk menghadirkan kendaraan listrik dengan harga lebih kompetitif di pasar Eropa.
Berbeda dengan kendaraan komersial premium, Ford menerapkan pendekatan “no-frills” pada Transit City. Model ini hanya tersedia dalam satu varian tanpa opsi kustomisasi tambahan.
Desainnya dibuat sederhana namun fungsional, dengan lampu LED modern, grille tertutup khas EV, serta bumper plastik tanpa cat yang menegaskan karakter utilitarian.
Meski begitu, fitur standar tetap tergolong lengkap. Kabin dilengkapi layar sentuh 12,3 inci dengan sistem Ford SYNC 4, panel instrumen digital, serta berbagai ruang penyimpanan.
Fitur keselamatan juga tidak dipangkas, termasuk adaptive cruise control, lane-keeping assist, sensor parkir depan-belakang, kamera mundur, hingga kursi pengemudi berpemanas.
Transit City hadir dalam tiga konfigurasi panel van standar, versi long wheelbase dengan atap tinggi, sasis kabin untuk kebutuhan modifikasi
Kapasitas angkutnya berkisar antara 1.085 kg hingga 1.530 kg, tergantung varian. Sementara volume kargo maksimal mencapai 8,5 meter kubik, dengan panjang ruang muat hingga lebih dari 3 meter.
Sebagai kendaraan listrik murni, Transit City tidak memiliki varian mesin bensin maupun hybrid. Van ini dibekali motor listrik depan bertenaga 148 hp dan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) berkapasitas 56 kWh.
Jarak tempuhnya mencapai hingga 254 km berdasarkan standar WLTP—cukup untuk kebutuhan operasional harian, mengingat rata-rata penggunaan armada di segmen ini kurang dari 110 km per hari.
Untuk pengisian daya, fast charging DC hingga 87 kW memungkinkan tambahan jarak tempuh 50 km hanya dalam 10 menit. Sementara pengisian 10–80% dapat dicapai dalam sekitar 33 menit.
Ford mengklaim penggunaan sistem listrik penuh dapat menekan biaya perawatan hingga 40% dibandingkan van diesel konvensional. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi pelaku bisnis yang mengutamakan efisiensi jangka panjang.
Transit City akan mengisi celah di antara Ford E-Transit Custom dan Ford E-Transit. Meski harga resminya belum diumumkan, model ini diperkirakan akan dipasarkan dengan banderol lebih terjangkau untuk menjangkau segmen fleet yang sensitif terhadap biaya.