Penelitian terbaru dari Amerika Serikat memunculkan perspektif baru tentang apa yang terjadi sesaat setelah seseorang dinyatakan meninggal.
Seorang dokter di New York menemukan bahwa otak manusia ternyata masih aktif untuk beberapa waktu setelah jantung berhenti berdetak, sehingga pasien yang dinyatakan mati secara klinis diduga masih dapat mendengar percakapan di sekitarnya, termasuk pengumuman waktu kematian oleh tenaga medis.
Temuan tersebut dipaparkan Dr. Sam Parnia dari NYU Langone Medical Center dalam riset yang dipublikasikan di jurnal Resuscitation. Ia menyimpulkan bahwa kematian klinis, yakni kondisi ketika jantung berhenti memompa darah, tidak langsung diikuti berhentinya kesadaran.
Menurut Parnia, sejumlah pasien yang berhasil diselamatkan setelah henti jantung mampu mengingat kejadian di ruang perawatan secara rinci. Ingatan mereka bahkan dinilai akurat dan konsisten dengan situasi yang sebenarnya terjadi saat tim medis melakukan resusitasi.
“Kami tidak hanya mampu menunjukkan tanda-tanda kesadaran yang jernih — kami juga mampu menunjukkan bahwa pengalaman ini unik dan bersifat universal. Ini berbeda dari mimpi, ilusi, dan delusi,” ujar Parnia seperti dikutip Mashable Indonesia dari New York Post.
Penelitian tersebut melibatkan 53 pasien yang selamat dari henti jantung di 25 rumah sakit, mayoritas berada di Amerika Serikat dan Inggris. Para peneliti memeriksa aktivitas otak serta kesadaran pasien selama dan setelah proses penyelamatan berlangsung.
Hasilnya cukup mengejutkan. Sekitar 40 persen peserta penelitian melaporkan masih memiliki kesadaran atau setidaknya ingatan selama periode ketika secara medis mereka telah dinyatakan mati klinis.
Beberapa di antaranya mengaku mampu menggambarkan percakapan dokter, tindakan perawatan, bahkan posisi orang-orang di ruangan tersebut.
“Dalam kematian, mereka merasakan seolah terpisah dari tubuhnya,” kata Parnia. “Kemudian mereka bisa bergerak. Namun mereka tetap berada di ruangan rumah sakit itu dan mengumpulkan informasi. Mereka merasa sepenuhnya sadar.”
Temuan itu diperkuat pemeriksaan elektroensefalogram (EEG), yakni alat yang merekam aktivitas listrik otak melalui elektroda. Para peneliti menemukan adanya lonjakan gelombang otak gamma, delta, theta, alfa, dan beta, yaitu pola yang berkaitan dengan proses berpikir dan kesadaran manusia.
Aktivitas tersebut masih terdeteksi 35 hingga 60 menit setelah jantung berhenti berdetak. Hal ini bertolak belakang dengan keyakinan lama dunia medis yang menyebut kerusakan otak permanen biasanya terjadi sekitar 10 menit setelah suplai oksigen terhenti.
“Meskipun dokter telah lama menganggap otak mengalami kerusakan permanen sekitar 10 menit setelah jantung berhenti menyuplai oksigen, penelitian kami menemukan bahwa otak dapat menunjukkan tanda pemulihan listrik jauh selama CPR masih berlangsung,” jelasnya.
Parnia menyebut otak manusia ternyata jauh lebih tangguh dari perkiraan. Bahkan, dalam beberapa kasus, fungsinya masih berjalan pada tingkat tinggi sesaat setelah kematian klinis.
Ia mengibaratkan fenomena tersebut seperti komputer yang tampak mati lalu melakukan proses menyala ulang. Lonjakan aktivitas neurologis itu diduga menciptakan kondisi fokus yang sangat kuat sehingga seseorang dapat menangkap detail suara dan lingkungan sekitar dengan sangat jelas.
Hal inilah yang diyakini menjadi alasan mengapa sebagian pasien mengaku mendengar ucapan dokter, termasuk pernyataan bahwa mereka telah meninggal, meskipun secara medis tubuhnya tidak lagi menunjukkan tanda kehidupan.
Selain itu, pasien juga kerap melaporkan pengalaman hidupnya terasa berputar cepat di dalam pikiran. Menurut Parnia, hal ini berkaitan dengan proses yang disebut disinhibisi.
“Saat otak mulai berhenti bekerja karena kurangnya aliran darah saat kematian, sistem pengereman normal di otak dihilangkan,” kata dia.
“Hal ini memungkinkan seseorang mengakses seluruh kesadarannya, termasuk semua pikiran, kenangan, kondisi emosional, dan semua yang pernah mereka lakukan, yang mereka alami kembali melalui sudut pandang moralitas dan etika,” jelasnya lebih lanjut.
Penelitian ini bukan sekadar menjawab rasa penasaran tentang pengalaman mendekati kematian. Para peneliti menilai temuan tersebut berpotensi memengaruhi praktik medis, terutama dalam penanganan henti jantung dan cedera otak.
Dengan pemahaman bahwa otak dapat bertahan lebih lama dari yang diperkirakan, prosedur resusitasi dan teknik pemulihan pasien kemungkinan akan dikembangkan agar peluang penyelamatan meningkat. Para dokter juga diharapkan meninjau ulang definisi waktu kematian agar lebih sesuai dengan temuan ilmiah terbaru.