Di balik jeruji dingin Impel Down, nama Donquixote Doflamingo seolah belum benar-benar menghilang dari pusaran cerita One Piece. Justru sebaliknya, sosok flamboyan dengan kacamata hitam khas itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja, terutama ketika kisah petualangan bajak laut ini telah memasuki babak akhir.
Doflamingo bukan antagonis biasa. Ia adalah representasi dari sisi paling gelap dunia One Piece, lahir dari garis keturunan Celestial Dragons, tetapi tumbuh menjadi sosok yang membenci sistem yang membesarkannya.
Sejak usia dini, ia sudah menunjukkan betapa bengisnya dirinya. Membunuh ayah kandung sendiri bukan hanya menjadi noda masa lalu, tetapi juga titik awal dari perjalanan panjang yang dipenuhi ambisi, dendam, dan hasrat untuk menghancurkan dunia yang ia anggap munafik.
Dia ingin melihat dunia yang dibangun oleh para Bangsawan Dunia hancur total, menjadi gambaran yang paling tepat untuk memahami isi kepala Doflamingo. Ambisi itu tidak pernah padam, bahkan setelah kekalahannya di tangan Monkey D. Luffy dan Trafalgar D. Water Law yang mengakhiri kekuasaannya di Dressrosa.
Kini, ketika cerita One Piece bergerak menuju saga terakhir pasca Wano, panggung besar mulai dipenuhi kembali oleh wajah-wajah lama. Kemunculan tokoh seperti Nefertari Vivi, Wapol, hingga Crocodile memberi sinyal kuat bahwa Eiichiro Oda tengah merajut kembali benang-benang cerita yang sempat terpisah.
Dalam pola seperti ini, absennya Doflamingo terasa janggal, seolah hanya soal waktu sebelum ia kembali muncul ke permukaan.
Menariknya, kemungkinan kembalinya Doflamingo tidak hanya bergantung pada alur cerita, tetapi juga situasi dunia yang semakin kacau. Reputasi Impel Down sebagai penjara tak tertembus sudah retak sejak lama.
Dua pelarian besar, oleh Shiki dan kelompok Luffy, membuktikan bahwa sistem paling kuat pun bisa runtuh. Dalam kondisi dunia yang semakin tidak stabil, ide tentang pelarian besar ketiga bukan lagi sekadar spekulasi liar.
Apalagi, di dalam penjara tersebut masih tersimpan ‘harta karun’ berupa para kriminal kelas kakap seperti Bentham (Bon Clay) dan Edward Weevil. Jika kekuatan-kekuatan ini bersatu, kekacauan besar hampir tak terelakkan.
Doflamingo, dengan pengalaman dan kecerdikannya, jelas bukan sekadar pelarian biasa—ia adalah sosok yang mampu mengubah kekacauan menjadi peluang. Namun, ada kemungkinan lain yang lebih menarik: ia tidak perlu melarikan diri sendirian.
Kemunculan Cross Guild sebagai kekuatan baru di dunia bajak laut membuka banyak skenario. Organisasi yang berani membalik sistem dengan memberi bounty kepada Angkatan Laut ini sedang membangun kekuatan untuk bersaing di perebutan One Piece.
Mereka membutuhkan lebih banyak kekuatan untuk menandingi para Kaisar dan Pemerintah Dunia dan Impel Down adalah tempat paling logis untuk mencarinya.
Dalam konteks ini, Doflamingo bukan sekadar tambahan kekuatan, ia adalah aset strategis. Jaringan dunia bawah tanah yang pernah ia kuasai bisa menjadi senjata yang tak ternilai. Namun, satu hal yang selalu menjadi tanda tanya adalah egonya. Doflamingo bukan tipe yang mudah tunduk, bahkan kepada sekutu.
Alternatif lain adalah bergabung dengan Blackbeard Pirates yang dipimpin Marshall D. Teach. Filosofi kelompok ini yang mengedepankan tujuan bersama di atas segalanya membuat Doflamingo bisa menemukan tempat yang sesuai. Di sana, kekuatan dan kecerdikan adalah mata uang utama, dua hal yang ia miliki dalam jumlah melimpah.
Meski terdengar tidak lazim, peluang kerja sama dengan Luffy pun tidak sepenuhnya tertutup. Dunia One Piece sudah berkali-kali menunjukkan bahwa musuh bisa menjadi sekutu ketika situasi menuntut.
Jika ancaman Pemerintah Dunia semakin besar, bukan tidak mungkin Doflamingo memilih untuk berdiri di sisi yang sama, setidaknya untuk sementara.
Pada akhirnya, kembalinya Doflamingo bukan hanya soal nostalgia atau fan service. Ia adalah bagian penting dari teka-teki besar yang sedang disusun menuju akhir cerita.
Dengan ambisi yang belum terpenuhi dan dunia yang berada di ambang kekacauan, kehadirannya bisa menjadi percikan yang menyalakan konflik terbesar dalam sejarah One Piece.
Dan jika ada satu hal yang pasti, Doflamingo bukan tipe yang akan berdiam diri selamanya. Ia menunggu. Mengamati. Dan ketika waktunya tiba, dunia mungkin benar-benar akan terbakar seperti yang ia inginkan.