Honda sedang menjadi sorotan setelah sejumlah showroom di berbagai kota dilaporkan tutup atau beralih fungsi, memicu pertanyaan soal arah strategi bisnis pabrikan asal Jepang tersebut di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah diler Honda di kawasan Jakarta Selatan yang diduga sudah tidak lagi beroperasi. Meski logo Honda telah dicopot, sejumlah unit kendaraan masih terlihat dipajang di dalam gedung saat dilakukan peninjauan langsung.
Menanggapi fenomena ini, perwakilan PT Honda Prospect Motor (HPM) menegaskan bahwa penyesuaian jaringan diler merupakan bagian dari dinamika industri yang terus berubah.
Sales & Marketing and After Sales Operations Director HPM, Yusak Billy, menyatakan bahwa fokus utama perusahaan bukan sekadar memperbanyak jumlah diler, melainkan memastikan kualitas layanan tetap optimal.
“Yang terpenting adalah konsumen tetap mendapatkan layanan yang mudah diakses, cepat, dan dapat diandalkan,” ujarnya, seperti dilansir dari Kompas.com, Rabu (08/04/2026).
Honda juga menekankan pentingnya efektivitas jaringan dan cakupan wilayah agar layanan tetap relevan dengan kebutuhan pasar.
Di tengah pengurangan diler di kota besar seperti Jakarta, Honda justru memperluas jaringan ke daerah. Tahun ini, HPM berencana membuka 13 diler baru, dengan lima di antaranya sudah beroperasi sejak Februari di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Langkah ini menunjukkan pergeseran strategi dari fokus urban ke penguatan pasar di luar Pulau Jawa, seiring pertumbuhan populasi kendaraan di daerah.
Selain membuka diler baru, Honda juga meningkatkan fasilitas di jaringan yang sudah ada untuk mendukung layanan purna jual yang lebih baik.
Di sisi lain, sejumlah diler Honda di berbagai kota diketahui telah beralih menjual merek lain, terutama kendaraan asal China. Fenomena ini terlihat di beberapa lokasi seperti Bandung, Surabaya, hingga Bekasi dan Tangerang.
Peralihan ini tak lepas dari meningkatnya daya tarik merek otomotif China yang menawarkan harga kompetitif dengan fitur teknologi yang lebih modern.
Data penjualan menunjukkan tantangan yang dihadapi Honda di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan cenderung fluktuatif dan cenderung menurun.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan Honda pada tahun terakhir tercatat sekitar 71 ribu unit—lebih rendah dibandingkan periode pandemi 2020.
Tren ini menjadi indikasi kuat bahwa Honda harus melakukan penyesuaian strategi untuk tetap kompetitif di pasar domestik.
Langkah efisiensi dan restrukturisasi jaringan diler ini mencerminkan perubahan besar dalam industri otomotif Indonesia. Persaingan yang semakin ketat, terutama dengan kehadiran pemain baru dari China, memaksa pabrikan lama untuk beradaptasi.