Ketegangan industri otomotif global kembali memanas. Sejumlah senator Amerika Serikat mendesak Presiden Donald Trump untuk mengambil langkah tegas dengan melarang produsen mobil asal Tiongkok membangun kendaraan di AS, sekaligus menutup akses impor mobil China dari negara tetangga seperti Meksiko dan Kanada.
Desakan ini datang dari tokoh senior Partai Demokrat, termasuk Chuck Schumer, Tammy Baldwin, dan Elissa Slotkin, yang menilai kehadiran pabrikan China dapat mengancam masa depan industri otomotif Amerika, seperti dilaporkan Reuters, Senin (06/04/2026).
Dalam surat resmi kepada Trump, para senator menegaskan bahwa membuka pintu bagi produsen mobil China justru berisiko besar, baik dari sisi ekonomi maupun keamanan nasional.
Mereka memperingatkan bahwa perusahaan otomotif China berpotensi memperoleh keuntungan besar jika diizinkan membangun pabrik di AS, yang pada akhirnya sulit ditandingi oleh produsen lokal.
Selain itu, kekhawatiran juga muncul terkait teknologi kendaraan modern yang mampu mengumpulkan data sensitif pengguna, yang dinilai dapat menjadi ancaman keamanan jika dikuasai pihak asing.
Sebelumnya, pemerintah AS telah menerapkan tarif impor tinggi hingga sekitar 100% untuk kendaraan buatan China. Bahkan pada 2025, aturan baru diberlakukan untuk secara efektif membatasi penjualan mobil penumpang asal Tiongkok di pasar domestik.
Langkah ini mendapat dukungan luas dari industri otomotif AS, yang khawatir akan tekanan kompetisi dari produsen China yang dikenal agresif dalam hal harga dan teknologi.
Dalam pernyataan tersebut, para senator juga menyinggung BYD, yang sempat masuk dalam daftar perusahaan yang diduga memiliki keterkaitan dengan militer China.
Mereka mendesak pemerintah AS untuk mengambil langkah lebih tegas dengan menetapkan produsen mobil China sebagai entitas berisiko tinggi.
Meski demikian, Trump sebelumnya sempat menyatakan terbuka terhadap investasi dari produsen mobil China, selama mereka membangun pabrik di AS dan menciptakan lapangan kerja.
Pernyataan tersebut kini menuai kritik dari kalangan legislatif yang menilai manfaat jangka pendek berupa lapangan kerja tidak sebanding dengan potensi risiko jangka panjang.
Di sisi lain, pemerintah China menilai kebijakan AS sebagai bentuk proteksionisme. Mereka menyebut Washington telah menciptakan hambatan perdagangan dan menerapkan kebijakan diskriminatif yang menyulitkan produsen mobil China masuk ke pasar Amerika.
Langkah pembatasan ini berpotensi memperuncing persaingan global, terutama di tengah meningkatnya popularitas kendaraan listrik dari China yang dikenal lebih terjangkau dan sarat teknologi.
Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, bukan tidak mungkin rantai pasok global otomotif akan mengalami perubahan signifikan, sekaligus mempertegas rivalitas antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.