Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, melontarkan pernyataan tegas menanggapi ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berencana memutus seluruh hubungan dagang dengan Spanyol.
Dalam pidato resmi yang disiarkan secara nasional dari Madrid, Sánchez menegaskan posisi pemerintahannya yang konsisten menolak perang dan membela hukum internasional, di tengah memanasnya ketegangan terkait konflik Iran.
“Pertanyaannya bukan apakah kita berada di pihak para ayatollah, karena tidak ada yang berada di pihak mereka. Pertanyaannya adalah apakah kita mendukung perdamaian dan legalitas internasional,” ujar Sánchez dalam pidato berdurasi sekitar 10 menit tersebut yang dilansir Mashable Indonesia dari BBC.
“Anda tidak bisa menjawab satu pelanggaran hukum dengan pelanggaran hukum lainnya, karena begitulah bencana besar kemanusiaan dimulai,” tambahnya menjelaskan.
Pernyataan itu muncul setelah Trump mengancam akan menjatuhkan embargo dagang penuh terhadap Spanyol. Ancaman tersebut dipicu oleh keputusan Madrid yang menolak memberikan izin kepada militer AS untuk menggunakan pangkalan gabungan di Morón dan Rota guna melancarkan serangan terhadap Iran.
Dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, Trump secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap Spanyol.
“Spanyol sangat buruk. Kami akan menghentikan semua perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin berurusan dengan Spanyol,” kata Trump.
Ancaman ini segera memicu reaksi solidaritas dari para pemimpin Eropa. Istana Élysée menyampaikan bahwa Presiden Prancis, Emmanuel Macron, telah berbicara langsung dengan Sánchez untuk menyampaikan dukungannya.
Presiden Dewan Eropa, António Costa, juga mengonfirmasi telah menghubungi pemimpin Spanyol itu guna menyatakan “solidaritas penuh Uni Eropa”.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menuding Spanyol sebagai ‘mitra yang buruk’ di NATO karena belum memenuhi target anggaran pertahanan sebesar 5 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Kritik tersebut memperuncing ketegangan diplomatik antara Washington dan Madrid, yang sebelumnya sudah memanas akibat sikap Sánchez terhadap sejumlah isu internasional.
Dalam pidatonya, Sánchez tidak secara eksplisit menyebut ancaman embargo dagang, tetapi menegaskan pemerintah sedang mengkaji langkah-langkah ekonomi untuk melindungi warga Spanyol dari dampak konflik global. Ia menekankan bahwa pengalaman sejarah harus menjadi pelajaran penting dalam mengambil keputusan.
Sánchez mengingatkan publik pada invasi Irak tahun 2003 yang dipimpin Presiden AS saat itu, George W. Bush, bersama Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan Perdana Menteri Spanyol saat itu, José María Aznar. Ketiganya dikenal sebagai ‘trio Azores’ setelah bertemu di Portugal menjelang invasi tersebut.
Menurut Sánchez, keputusan saat itu tidak membawa stabilitas, melainkan memperburuk situasi global. Ia menyebut para pemimpin tersebut telah memberikan kepada Eropa hadiah berupa dunia yang lebih tidak aman dan kehidupan yang lebih buruk.
Pernyataan itu dinilai kuat secara politis karena dukungan Spanyol terhadap perang Irak kala itu memicu demonstrasi besar dan berujung pada perubahan peta politik nasional.
Sikap Sánchez terhadap konflik Iran dinilai konsisten dengan pendekatannya dalam isu Ukraina dan Gaza. Ia dikenal sebagai salah satu pemimpin Eropa yang paling vokal mengkritik respons militer Israel atas serangan Hamas pada 2023.
Spanyol bahkan termasuk negara yang lebih awal mengakui negara Palestina dibandingkan sejumlah anggota Uni Eropa lainnya.
Berbeda dengan Spanyol, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran berpotensi membuat dunia sedikit lebih baik, meskipun ia mengakui langkah tersebut bukan tanpa risiko dan kita juga harus menanggung konsekuensinya.
Sementara itu, Gedung Putih melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, mengklaim bahwa Spanyol telah setuju untuk bekerja sama dengan militer AS setelah mendengar pesan Trump dengan sangat jelas.
Namun klaim itu langsung dibantah oleh Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, yang menegaskan kepada media lokal bahwa posisi pemerintah tidak berubah sedikit pun.
Hingga kini, Spanyol belum menyatakan komitmen untuk terlibat dalam aksi militer apa pun terkait konflik tersebut, berbeda dengan sejumlah sekutu NATO lainnya seperti Inggris, Prancis, dan Yunani.
Ketegangan perdagangan antara AS dan Spanyol pun berpotensi memicu dampak ekonomi lebih luas, terutama jika ancaman embargo benar-benar direalisasikan.
Dengan menegaskan sikap “tidak untuk perang”, Sánchez berupaya menempatkan Spanyol pada jalur diplomasi dan legalitas internasional, sembari menghadapi tekanan geopolitik dan ekonomi dari Washington.