Pabrikan otomotif asal Tiongkok, DFSK, memastikan akan menghadirkan model kendaraan baru di pasar Indonesia pada semester kedua 2026. Mobil yang tengah disiapkan tersebut dipastikan masuk dalam kategori New Energy Vehicle (NEV), sejalan dengan tren elektrifikasi industri otomotif nasional.
Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile, Cing Hok Rifin, mengatakan bahwa perusahaan masih menutup rapat detail produk tersebut. Namun, ia memastikan kendaraan baru itu akan diperkenalkan kepada publik dalam waktu dekat.
“Kami berencana meluncurkan kendaraan itu pada semester kedua tahun ini. Untuk detailnya memang belum bisa kami sampaikan sekarang, tetapi teman-teman media akan menjadi yang pertama mengetahui kendaraan NEV tersebut,” ujar Cing Hok Rifin di Jakarta, belum lama ini.
Pernyataan senada juga disampaikan CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, yang menegaskan bahwa perusahaan masih merahasiakan wujud kendaraan baru tersebut hingga waktu peluncuran tiba.
“Kalau dilihat dari gambarnya saja masih tertutup, jadi untuk saat ini kami simpan dulu informasinya. Nanti pada waktunya media akan kami undang untuk melihat lebih dekat,” kata Alexander.
Sebelumnya, DFSK sempat memperkenalkan SUV konsep premium Aito M9 dalam sejumlah pameran otomotif di Indonesia. Model ini menjadi gambaran arah pengembangan kendaraan elektrifikasi dari pabrikan tersebut.
SUV berteknologi canggih itu dibekali berbagai fitur modern, termasuk sistem Artificial Intelligence (AI) yang mendukung pengalaman berkendara lebih cerdas. Dari sisi dimensi, Aito M9 memiliki panjang 5.230 mm, lebar 1.999 mm, tinggi 1.800 mm, serta jarak sumbu roda mencapai 3.110 mm.
Interiornya menawarkan kabin luas dengan nuansa premium, dilengkapi jok kulit Nappa dan Zero Gravity Seat pada baris kedua. Sistem infotainment juga tampil futuristik dengan tiga layar utama, yakni layar pengemudi berukuran 15,6 inci, layar penumpang 16 inci, serta panel instrumen digital 12,3 inci.
Dalam hal performa, kendaraan ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 630 km berdasarkan standar pengujian WLTC dan berakselerasi dari 0–100 km/jam dalam waktu sekitar 4,3 detik.
Selain itu, versi Extended Range Electric Vehicle (EREV) dari Aito M9 menggabungkan motor listrik dengan mesin pembakaran internal yang berfungsi sebagai generator. Kombinasi teknologi tersebut membuat SUV ini mampu menjelajah hingga 1.239 km berdasarkan standar WLTP.
Di sisi lain, DFSK juga menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang digagas pemerintah. Namun, menurut Alexander, ada beberapa tahapan yang perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum perusahaan menyediakan kendaraan untuk program tersebut.
Pertama, perusahaan perlu melakukan analisis kebutuhan untuk memastikan jenis kendaraan yang dibutuhkan oleh koperasi desa, apakah berpenggerak 4×2 atau 4×4.
Kedua, DFSK perlu memastikan spesifikasi kendaraan benar-benar sesuai dengan kondisi operasional di lapangan.
Ketiga, pemerintah harus menentukan jumlah unit serta jadwal distribusi kendaraan secara jelas.
“Kalau tiga hal itu sudah jelas—kebutuhan, spesifikasi, dan jumlah unit—baru kita bisa masuk ke pembahasan harga,” jelas Alexander.
Di Indonesia, DFSK dikenal memiliki lini kendaraan niaga yang cukup kuat. Dua model yang cukup populer adalah DFSK Gelora E dan DFSK Super Cab.
Gelora E merupakan van listrik yang dapat digunakan untuk logistik maupun transportasi penumpang. Kendaraan ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 300 km dalam sekali pengisian baterai.
Sementara itu, Super Cab hadir sebagai kendaraan niaga ringan bermesin konvensional dengan kemampuan angkut hingga 1,4 ton, menjadikannya pilihan bagi pelaku usaha kecil hingga menengah.