Industri otomotif nasional tengah menghadapi babak baru dalam perilaku konsumen. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik, preferensi masyarakat Indonesia dilaporkan mulai bergeser dari sekadar gaya hidup atau kendaraan premium menuju kendaraan yang lebih fungsional dan ekonomis.
Tren ini tercermin dalam kinerja industri pembiayaan (multifinance) yang mulai menyesuaikan strategi demi menjaga pertumbuhan di tengah koreksi pasar. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan mobil baru secara nasional mengalami kontraksi sebesar 4,65% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp142,59 triliun.
Pergeseran minat ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap Total Cost of Ownership (TCO) atau total biaya kepemilikan. Konsumen kini cenderung memilih kendaraan yang memiliki konsumsi bahan bakar efisien dan biaya perawatan yang terjangkau.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengungkapkan bahwa pasar saat ini didominasi oleh segmen kendaraan yang mendukung mobilitas harian dan kebutuhan keluarga.
“Terjadi pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan dengan biaya operasional lebih rendah seperti Low Cost Green Car (LCGC), serta kendaraan fungsional seperti Sport Utility Vehicle (SUV),” ujar Aditia dalam keterangannya, Selasa (14/4).
Sementara itu, meskipun tren kendaraan listrik (EV) terus berkembang, kontribusinya dalam portofolio pembiayaan secara umum dinilai belum menjadi faktor dominan. Masyarakat masih dalam fase memantau perkembangan infrastruktur dan nilai jual kembali sebelum beralih sepenuhnya ke teknologi nikel tersebut.
Menghadapi penurunan permintaan mobil baru, perusahaan pembiayaan kini lebih mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent). Tantangan utama yang dihadapi industri saat ini adalah kenaikan harga kendaraan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan daya beli, sehingga memicu sikap wait and see dari calon pembeli.
Untuk menjaga kinerja bisnis tetap stabil, BRI Finance menerapkan berbagai strategi adaptif agar pembiayaan tetap terjangkau tanpa meningkatkan risiko kredit macet.
Langkah tersebut dilakukan melalui penentuan bunga berbasis risiko yang disesuaikan dengan profil masing-masing nasabah, penyediaan pilihan tenor cicilan yang lebih fleksibel, serta penyesuaian skema uang muka (DP) yang kompetitif guna mendorong daya beli konsumen.
Meski pasar mobil baru sedang terkoreksi, segmen ini tetap menjadi tulang punggung utama industri. Di BRI Finance sendiri, pembiayaan mobil baru memegang porsi terbesar yakni sebesar 40,05% dari total portofolio. Sementara itu, segmen mobil bekas membayangi dengan kontribusi sebesar 9,87%.
Analisis industri menunjukkan bahwa di tengah melambatnya penjualan mobil baru, pasar mobil bekas berpotensi menjadi alternatif bagi konsumen yang membutuhkan kendaraan namun memiliki anggaran terbatas.
“Kondisi ekonomi saat ini menuntut pengelolaan risiko yang lebih ketat sekaligus strategi yang lincah untuk menangkap peluang di segmen-segmen yang masih bertumbuh,” tambah Aditia.
Dengan arah baru ini, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun pembuktian bagi ketahanan industri otomotif dan pembiayaan dalam merespons perubahan kebutuhan masyarakat yang kian rasional dalam berbelanja aset transportasi.