Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan akan terus melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) apabila intensitas hujan di wilayah Ibu Kota melampaui 200 milimeter (mm). Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari strategi antisipasi untuk menekan potensi banjir dan genangan yang kerap terjadi saat curah hujan ekstrem.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa keputusan pelaksanaan OMC didasarkan pada data harian yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurut dia, pemerintah daerah secara aktif memantau perkembangan cuaca sehingga tidak perlu menunggu kondisi memburuk untuk mengambil langkah.
“Yang jelas Pemerintah DKI Jakarta mengantisipasi segala kemungkinan. Karena data dari BMKG itu setiap hari kita terima. Kami nggak perlu lagi menyampaikan bahwa perlu dilakukan,” ujar Pramono dikutip Mashable Indonesia dari Antara.
Ia menjelaskan, apabila curah hujan berada di bawah ambang 200 mm, maka OMC tidak akan dijalankan. Namun, bila intensitas hujan melewati batas tersebut dan berpotensi menimbulkan dampak signifikan, Pemprov DKI akan segera mengaktifkan operasi tersebut sebagai bentuk respons cepat.
Tak hanya berfokus di wilayah administratif Jakarta, Pemprov DKI juga berkontribusi dalam pelaksanaan OMC di daerah penyangga seperti Depok dan Tangerang.
Kolaborasi lintas wilayah ini dinilai penting mengingat sistem cuaca dan aliran air tidak mengenal batas administratif. Hujan deras di kawasan penyangga kerap berdampak langsung terhadap debit air yang mengalir ke Jakarta.
Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperluas cakupan modifikasi cuaca ke wilayah lain yang dinilai berpengaruh terhadap kondisi hidrometeorologi Jakarta.
Sinergi antarlembaga ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengendalian cuaca ekstrem secara lebih terintegrasi.
Di tingkat teknis, pelaksanaan OMC juga melibatkan jajaran perangkat daerah, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta (BPBD). Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, mengungkapkan bahwa hasil evaluasi sementara menunjukkan dampak positif dari operasi yang telah dijalankan.
“Berdasarkan hasil evaluasi data curah hujan, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca sejak 30 Januari hingga hari ini terindikasi mampu menurunkan curah hujan sebesar 23,85 persen,” kata Isnawa.
Penurunan tersebut, lanjut dia, menjadi indikator bahwa OMC dapat membantu mengurangi intensitas hujan yang turun di wilayah Jakarta, sehingga risiko banjir dan genangan bisa ditekan.
Meski demikian, Isnawa menegaskan bahwa OMC bukan satu-satunya solusi, melainkan bagian dari rangkaian upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah daerah.
Langkah antisipatif ini melengkapi berbagai strategi pengendalian banjir lainnya, seperti optimalisasi pompa air, pengerukan saluran, hingga kesiapsiagaan personel di lapangan.
Dengan pendekatan komprehensif tersebut, Pemprov DKI berharap dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan, terutama di kawasan rawan genangan.
Ke depan, Pemprov DKI Jakarta akan terus menyesuaikan kebijakan berdasarkan data dan proyeksi cuaca terkini. Dengan ambang batas 200 mm sebagai acuan utama, pelaksanaan OMC diharapkan dapat menjadi instrumen respons cepat dalam menjaga stabilitas kondisi lingkungan dan keselamatan warga Ibu Kota.