Keterlibatan Keanu Reeves dalam film dokumenter “Madwoman’s Game” menjadi sorotan menjelang penayangan perdana di Miami Film Festival pada 16 April.
Aktor yang dikenal lewat berbagai film ikonik itu bergabung sebagai produser eksekutif setelah terkesan dengan visi seorang pembuat film muda, Bianca Mitchell-Avila, yang memulai proyek ini sejak usia 16 tahun.
Dokumenter tersebut mengangkat kisah perempuan-perempuan yang menembus dominasi laki-laki di dunia catur, sekaligus mengikuti perjalanan pribadi Mitchell-Avila sebagai pecatur kompetitif yang berupaya menghadirkan perspektif berbeda tentang olahraga ini.
Proyek yang awalnya hanya dirancang sebagai tugas sekolah itu berkembang menjadi produksi berskala besar setelah Reeves memutuskan untuk terlibat.
“Aku terkesan dengan nadanya, ambisinya, dan visinya sejak awal,” ujar Reeves dalam wawancara yang dilansir Mashable Indonesia dari Variety.
Ia menjelaskan bahwa ketertarikannya muncul sejak membaca email pertama yang dikirim Mitchell-Avila. “Lalu kami melakukan panggilan Zoom, dan apa yang terlihat dari halaman digital itu benar-benar sama dengan orang yang aku temui.”
Mitchell-Avila mengungkapkan bahwa langkah menghubungi Reeves bermula dari ide sederhana yang terkesan nekat. Ia bahkan harus menebak alamat email manajer sang aktor demi menyampaikan gagasannya.
“Aku tahu dia sangat sibuk dan mungkin tidak punya waktu untuk terlibat dalam sesuatu yang kecil seperti ini, tapi aku benar-benar ingin mencoba,” tulisnya dalam pesan yang dikirim pada 2021. Respons cepat dari Reeves menjadi titik balik penting dalam perjalanan proyek tersebut.
“Aku ingat berteriak dan berpikir, ‘Ini gila. Ini seperti glitch di matrix,’” kata Mitchell-Avila, merujuk pada film The Matrix yang juga menjadi film pertama yang pernah ia tonton.
Meski sempat direncanakan untuk tampil dalam film sebagai lawan tanding dalam pertandingan catur klimaks, Reeves akhirnya tidak muncul di layar.
Ide tersebut harus dibatalkan setelah proses pengembangan film yang memakan waktu hampir enam tahun. Namun, perannya sebagai produser eksekutif dinilai krusial dalam menjaga arah kreatif proyek.
“Dalam kasus ini, peranku sebagai produser eksekutif adalah melekat pada proyek, dan apa pun nilai yang orang lain anggap bisa aku bawa untuk membantu mewujudkannya,” jelas Reeves. Ia menambahkan bahwa kontribusinya lebih banyak pada dukungan moral dan kredibilitas industri agar film tersebut dapat terealisasi.
Film ini disutradarai oleh Zach Zamboni, yang disebut Mitchell-Avila sebagai sosok penting di balik proses produksi. Selain Reeves, proyek ini juga melibatkan Carla Berkowitz, UltraBoom Media, dan Sugar23 sebagai produser eksekutif.
Perjalanan Mitchell-Avila menuju pembuatan film ini tidak instan. Sebelum menggarap dokumenter, ia sempat bekerja sebagai asisten produksi selama dua tahun di acara televisi The Graceful Path serta menjalani magang di tim hoki Ice Wolves.
Pengalaman tersebut memperkuat tekadnya untuk menciptakan karya yang merefleksikan pengalamannya sendiri di dunia catur.
“Catur adalah hidupku, tapi aku tertarik untuk menceritakan sisi lain dari dunia catur,” ujarnya.
Ia menilai bahwa selama ini publik lebih sering melihat catur dari sudut pandang akademis, sementara dinamika komunitas dan perjalanan personal para pemain jarang diangkat. “Kita sering melihat catur dari sisi akademis, tapi jarang melihat kehidupan di dalam dunia catur itu sendiri.”
Reeves, yang pernah bermain catur saat duduk di kelas 11, turut mengamini pandangan tersebut. “Catur menyatukan orang-orang. Ada komunitas di sekitarnya. Ada perasaan yang muncul jika kamu memainkannya atau menjadi bagian darinya,” kata Reeves.
Ia juga mengakui keterbatasannya dalam permainan tersebut. “Aku tidak terlalu jago. Aku hanya bermain di level amatir.”
Selain sebagai produser, Reeves juga berperan sebagai mentor bagi Mitchell-Avila selama proses produksi. Ia disebut aktif memberikan masukan dan dukungan, bahkan di tengah kesibukannya menjalani syuting di Eropa. Keterlibatan itu terasa hingga ke hal-hal kecil, termasuk saat tim film melakukan presentasi proyek ke Apple.
“Kadang kamu ada di rapat dan tahu beberapa orang sebenarnya tidak benar-benar mendengarkan,” kata Mitchell-Avila. “Tapi dengan dia, justru sebaliknya. Aku tahu dia benar-benar mendengar dan peduli dengan apa yang aku katakan. Bukan sekadar ‘oke, aku dengar,’ tapi ‘apa yang bisa aku bantu?’”
Ia menambahkan bahwa Reeves tetap meluangkan waktu meski berada di lokasi syuting. “Dia sangat suportif. Dia selalu ada,” ujarnya.
Ke depan, Mitchell-Avila dan Reeves masih membuka kemungkinan untuk mewujudkan ide awal yang sempat tertunda, yakni pertandingan catur langsung antara keduanya. Reeves menegaskan preferensinya untuk bermain secara langsung.
“Aku tidak ingin bermain secara digital,” katanya. Pernyataan itu langsung disambut oleh Mitchell-Avila, “Aku jauh lebih suka catur tatap muka.”
Dengan kisah di balik layar yang panjang dan penuh dinamika, “Madwoman’s Game” tidak hanya menjadi dokumenter tentang catur, tetapi juga tentang keberanian, peluang, dan bagaimana sebuah ide sederhana dapat berkembang menjadi karya besar dengan dukungan yang tepat.