Dakota Johnson mengungkap pengalaman tak biasa dalam perjalanan kariernya di industri film. Aktris yang dikenal lewat perannya dalam film Fifty Shades of Grey itu mengaku pernah gagal mendapatkan peran hanya karena dianggap terlalu sopan saat menjalani audisi.
Dalam wawancara bersama Hits Radio, Johnson menceritakan bahwa kejadian tersebut terjadi ketika ia sudah memasuki tahap lanjutan atau callback, yang biasanya menjadi penentu akhir bagi para kandidat.
Alih-alih menunjukkan sikap yang dianggap ‘menjual diri’, Johnson justru memilih bersikap profesional dengan memperkenalkan diri kepada tim casting.
“Aku pernah mengikuti audisi, dan itu sudah tahap callback. Aku masuk ke ruangan, menyalami semua orang, dan memperkenalkan diri. Lalu aku memainkan adegan, dan pergi,” ujar Johnson.
Namun, respons yang ia terima justru di luar dugaan. “Umpan balik yang kudapat adalah karena aku memperkenalkan diri dan menyalami semua orang, mereka menganggapku sombong. Mereka bilang aku menjilat dan terlalu percaya diri.”
Pernyataan tersebut membuat Johnson kebingungan. Ia mengaku tidak menyangka sikap dasar seperti sopan santun justru disalahartikan dalam konteks industri hiburan yang kompetitif. “Aku seperti: ‘Apa?’ Aku tidak mendapatkan peran itu karena mereka bilang aku terlihat arogan,” katanya. “Padahal aku hanya bersikap sopan. Itu benar-benar aneh.”
Meski sempat mengalami pengalaman yang mengejutkan, perjalanan karier Johnson tidak terhenti. Ia justru terus menanjak dan menjadi salah satu aktris Hollywood yang diperhitungkan.
Namanya semakin dikenal luas saat memerankan Anastasia Steele, beradu akting dengan Jamie Dornan yang memerankan Christian Grey dalam Fifty Shades of Grey. Film tersebut menjadi salah satu proyek yang mengangkat popularitasnya ke level global.
Selain film tersebut, Johnson juga terlibat dalam berbagai proyek lain seperti Materialists, Splitsville, dan How to Be Single, yang semakin memperkaya portofolionya di industri perfilman. Ia menunjukkan fleksibilitas dalam memilih peran, mulai dari drama romantis hingga komedi.
Ke depan, Johnson mengaku ingin mengeksplorasi karakter yang lebih menantang. Ia menyebut tertarik untuk memerankan tokoh psikopat serta terlibat dalam film bergenre aksi. Dalam kesempatan terpisah di Karlovy Vary Film Festival di Republik Ceko, ia menegaskan keterbukaannya terhadap berbagai peluang.
“Aku terbuka untuk apa pun,” ujarnya. “Ada hal-hal tertentu yang memang harus selaras.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meski terbuka terhadap berbagai peran, Johnson tetap selektif dalam memilih proyek yang sesuai dengan visi artistiknya.
Tak hanya berfokus pada akting, Johnson juga memperluas kiprahnya sebagai produser. Ia menjalankan perusahaan produksi bernama TeaTime Pictures, yang menjadi wadah baginya untuk terlibat lebih dalam dalam proses kreatif pembuatan film. Beberapa proyek yang ia produseri antara lain Am I Okay? dan Daddio.
Langkah ini diambil sebagai bentuk keinginannya untuk mendapatkan pengalaman yang lebih utuh di industri film. Ia mengaku ingin memiliki kendali lebih terhadap karya yang dihasilkan, sekaligus memastikan bahwa visi kreatif dapat tersampaikan dengan baik.
“Alasan besar kenapa aku ingin mendirikan rumah produksi dan membuat film sendiri adalah karena aku menginginkan lebih dari industri ini,” kata Johnson. “Aku ingin pengalaman yang lebih sebagai seorang seniman. Aku merasa haus akan lebih banyak percakapan, kreativitas, dan kolaborasi.”
Ia juga mengungkap pengalaman yang menurutnya cukup janggal selama berkarier sebagai aktor. Dalam beberapa kesempatan, Johnson mengaku baru benar-benar melihat hasil akhir film saat menghadiri pemutaran perdana, dan hasilnya tidak selalu sesuai ekspektasi awal.
“Beberapa kali sebagai aktor, aku datang ke pemutaran perdana untuk pertama kalinya dan berpikir, ‘Wow, ini bukan seperti yang kubayangkan saat kami membuatnya,’” ujarnya. Ia pun menyebut situasi tersebut sebagai sesuatu yang “sangat aneh.”
Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Johnson ingin lebih aktif di balik layar. Dengan terlibat sebagai produser, ia berharap dapat menciptakan karya yang lebih selaras dengan visi kreatifnya, sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi industri film secara keseluruhan.