Perang harga mobil, khususnya di segmen kendaraan listrik, diperkirakan masih akan berlanjut di Indonesia. Masuknya merek-merek baru asal China dengan strategi harga agresif dinilai terus menekan pasar, membuat konsumen diuntungkan, namun di sisi lain menantang keberlanjutan industri otomotif nasional.
Hal tersebut disampaikan jurnalis otomotif dan content creator Fitra Eri dalam perbincangan di kanal YouTube Leon Hartono. Menurut Fitra, gelombang merek China yang hadir di Indonesia belum mencapai puncaknya. Ia menilai masih ada potensi masuknya pemain baru dengan harga yang lebih rendah dari saat ini.
“Setiap kali kita merasa harga sudah mentok dan tidak mungkin turun lagi, faktanya masih bisa ditekan lebih murah,” ujar Fitra.
Fenomena perang harga ini terlihat jelas dari pergerakan harga mobil listrik sejak 2022. Beberapa model yang awalnya dilepas dengan harga tinggi kini mengalami koreksi signifikan, baik di pasar baru maupun bekas.
Fitra mencontohkan mobil listrik generasi awal yang sempat mengalami depresiasi hingga hampir 50 persen hanya dalam waktu singkat akibat membanjirnya alternatif baru yang lebih murah.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat konsumen perlu realistis. Terlalu fokus pada nilai jual kembali justru bisa membuat calon pembeli menunda keputusan tanpa batas, sehingga kehilangan manfaat mobilitas dan produktivitas.
“Kalau terlalu takut depresiasi, ya tidak akan pernah beli. Pilihannya sederhana yaitu beli sekarang dan nikmati, atau tunggu terus sambil kehilangan manfaat,” katanya.
Di tengah ketidakpastian harga, Fitra menyebut mobil listrik bekas bisa menjadi pilihan rasional bagi konsumen yang masih ragu membeli unit baru. Namun ia juga menekankan bahwa secara value for money, mobil listrik baru saat ini jauh lebih menarik dibandingkan tiga tahun lalu karena harga sudah terkoreksi cukup dalam.
Ia menilai, depresiasi ekstrem seperti yang terjadi pada mobil listrik di awal adopsi kecil kemungkinannya terulang, karena harga dasar saat ini sudah jauh lebih rendah.
Meski menguntungkan konsumen, perang harga dinilai sangat “berdarah-darah” bagi pabrikan. Fitra mengingatkan bahwa produsen, termasuk merek China, tetap memiliki batas kemampuan finansial. Pada titik tertentu, strategi banting harga tidak bisa terus dipertahankan.
Karena itu, ia berharap pabrikan non-China tetap mampu bertahan agar ekosistem otomotif Indonesia tetap sehat dan beragam. “Saya tidak ingin 10–20 tahun ke depan isinya hanya satu negara saja. Persaingan harus tetap ada,” ujarnya.
Fitra juga menyoroti peran pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang adil dan konsisten, terutama terkait insentif kendaraan listrik. Ia menilai perubahan kebijakan yang terlalu cepat dapat merugikan produsen yang sudah lebih dulu berinvestasi besar di dalam negeri.
Menurutnya, regulasi otomotif idealnya disusun dengan visi jangka panjang agar pabrikan dapat menyusun strategi investasi secara efisien. “Kalau aturan sering berubah, harga mobil justru bisa lebih mahal karena semua dipikirkan jangka pendek,” jelasnya.