Produsen otomotif asal Tiongkok, BAIC, mengumumkan terobosan baterai sodium-ion yang diklaim mampu terisi penuh hanya dalam 11 menit. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya produsen mobil untuk mengurangi ketergantungan terhadap baterai berbasis lithium, yang selama ini mendominasi pasar kendaraan listrik dunia.
Berdasarkan hasil pengujian internal, baterai sodium-ion terbaru dari BAIC memiliki kepadatan energi mencapai 170 Wh/kg. Meski masih di bawah baterai lithium-ion konvensional, performanya dinilai kompetitif untuk segmen tertentu.
Keunggulan utama terletak pada kemampuan fast charging hingga 4C, yang memungkinkan pengisian penuh dalam waktu sekitar 11 menit. Selain itu, baterai ini diklaim mampu bekerja dalam suhu ekstrem, mulai dari -40°C hingga 60°C, seperti dilansir dari CarNewsChina, Rabu (25/03/2026).
Dalam kondisi dingin, efisiensi energi tetap terjaga dengan tingkat retensi lebih dari 92% pada suhu -20°C, menjadikannya lebih andal untuk penggunaan di wilayah beriklim dingin.
Dari sisi keselamatan, BAIC menyebut baterai ini mampu bertahan dalam kondisi overcharge hingga 200 persen tanpa risiko kebakaran atau ledakan. Bahkan, dalam uji panas ekstrem hingga 200°C, sistem baterai tetap stabil.
Perusahaan juga mengungkap telah mengembangkan teknologi secara menyeluruh, mulai dari formulasi elektrolit, desain sel, hingga integrasi sistem.
Baterai sodium-ion ini menjadi bagian dari program “Aurora Battery” milik BAIC, yang mencakup berbagai jenis teknologi baterai, termasuk lithium-ion dan solid-state.
BAIC juga mengklaim telah menyelesaikan tahap validasi produksi untuk sel baterai sodium berbentuk prismatik, membuka peluang menuju produksi massal dalam waktu dekat.
Pengembangan baterai sodium-ion tidak hanya dilakukan oleh BAIC. Sejumlah pemain besar di industri otomotif dan baterai di China juga mulai mengembangkan teknologi serupa.
Changan Automobile bersama CATL sebelumnya mengumumkan kendaraan listrik penumpang berbasis baterai sodium pertama di dunia dengan kapasitas 45 kWh dan jarak tempuh lebih dari 400 km.
Sementara itu, BYD juga mengembangkan baterai sodium generasi ketiga dengan klaim umur pakai hingga 10.000 siklus pengisian.
Baterai sodium-ion dinilai sebagai solusi alternatif untuk segmen kendaraan listrik yang sensitif terhadap biaya. Material sodium lebih melimpah dan murah dibandingkan lithium, sehingga berpotensi menekan harga kendaraan listrik di masa depan.
Namun demikian, tantangan utama teknologi ini masih terletak pada kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan baterai lithium.
Meski menunjukkan potensi besar, BAIC belum mengumumkan kapan teknologi ini akan diterapkan pada kendaraan produksi massal. Saat ini, baterai tersebut masih berada pada tahap pra-komersial.
Ke depan, fokus industri akan tertuju pada uji coba di kendaraan nyata serta kesiapan produksi massal. Jika berhasil, baterai sodium-ion berpotensi menjadi game changer dalam industri kendaraan listrik global.