Senator dari Partai Republik, Bernie Moreno, berencana mengajukan undang-undang baru bulan depan guna memperluas pemblokiran total terhadap seluruh pabrikan otomotif China di pasar Amerika Serikat.
Langkah agresif ini bertujuan menutup segala celah yang mungkin digunakan perusahaan otomotif asal Negeri Tirai Bambu untuk menyentuh aspal Negeri Paman Sam.
Dalam acara Automotive Forum menjelang New York Auto Show, Selasa (31/3/2026), Moreno menegaskan bahwa regulasi yang diusulkannya akan jauh lebih kuat dibanding larangan impor yang saat ini berlaku.
Menurutnya, larangan ini tidak hanya akan menyasar unit kendaraan utuh, tetapi juga komponen teknis dan kerja sama strategis.
“Tidak akan ada skenario di mana mobil China bisa masuk ke pasar kita. Itu mencakup hardware, software, hingga kemitraan. Tidak akan ada satu pun mobil China di sini,” tegas Moreno di depan para pelaku industri, seperti dilansir juga dari Reuters, Rabu (01/04/2026).
Ia bahkan menyamakan kehadiran industri otomotif China dengan penyakit mematikan. “Kami akan mencegah ‘kanker’ ini masuk ke pasar kami, dan kami butuh negara-negara lain untuk melakukan ‘kemoterapi’,” tambahnya, sembari mendorong wilayah Amerika Latin, Meksiko, Kanada, hingga Eropa untuk menerapkan standar serupa.
Langkah Moreno ini memperkuat kebijakan pemerintahan Joe Biden yang pada Januari 2025 lalu secara efektif melarang penjualan kendaraan penumpang asal China. Alasan utamanya adalah keamanan nasional, khususnya terkait kemampuan kendaraan listrik (EV) modern dalam mengumpulkan data sensitif pemilik kendaraan di AS.
Moreno membandingkan ancaman ini dengan kasus raksasa telekomunikasi Huawei. “Jika kita tidak mengizinkan Huawei masuk ke infrastruktur telekomunikasi kita, maka kita juga tidak akan membiarkan produsen mobil China masuk ke pasar ini,” ujarnya.
Upaya penutupan pasar ini mendapat dukungan penuh dari pabrikan mobil domestik AS dan berbagai asosiasi otomotif.
Melalui surat yang dikirimkan kepada pemerintah awal bulan ini, kelompok perdagangan otomotif utama mendesak agar pertahanan tetap kuat, terutama menjelang pertemuan puncak (KTT) antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan pada Mei 2026 mendatang.
Di sisi lain, Donald Trump menunjukkan sikap yang lebih fleksibel. Dalam pidatonya di Detroit Economic Club pada Januari lalu, Trump mengisyaratkan keterbukaan terhadap investasi asing selama memberikan manfaat langsung bagi ekonomi domestik.
Ia menyatakan bahwa produsen asal China tetap dipersilakan masuk, asalkan membangun pabrik di dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja bagi warga Amerika.
Rencana UU baru ini muncul di tengah upaya dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut untuk menjaga stabilitas pasca periode ketegangan tarif dan sengketa ekspor komoditas langka (rare earths).