Film debut Anderson .Paak berjudul K-Pops! lahir dari kegelisahan personalnya sebagai seorang ayah di tengah pandemi, ketika ia merasa kehilangan kedekatan dengan putranya yang mendadak terobsesi dengan K-pop.
Proyek layar lebar itu bukan sekadar eksplorasi musik lintas budaya, tetapi juga upaya .Paak membangun kembali koneksi keluarga yang sempat terasa menjauh.
Dalam sebuah wawancara di lounge miliknya di West Hollywood, musisi peraih Grammy tersebut mengenang momen ketika dirinya merasa tersisih di rumah sendiri.
“Saya seperti orang yang tersingkir. Anak saya waktu itu berusia 8 tahun, dan BTS menguasai seluruh rumah. Itu seperti badai K-pop. Sebelum itu, saya dan anak saya terhubung lewat musik saya,” ujarnya seperti dilansir Mashable Indonesia dari Los Angeles Times.
Putranya, Soul Rasheed, bersama ibunya yang berasal dari Korea, Jaylyn Chang, larut dalam demam K-pop yang melanda Amerika Serikat saat itu.
Fenomena tersebut mengingatkan .Paak pada gelombang Beatlemania: musik berakar dari tradisi Black American yang berkembang di negara lain, lalu kembali dengan bentuk baru dan diterima luas di Amerika. Namun di rumahnya sendiri, perubahan selera musik itu membuat ia harus mencari cara baru untuk tetap relevan di mata anaknya.
Soul yang kala itu juga bercita-cita menjadi YouTuber mulai membuat konten bersama sang ayah. Mereka memproduksi sketsa komedi, memadukannya dengan tarian ala BTS, hingga membuat video perdebatan lucu soal selera musik.
“Saya menyukainya. Saya jadi semakin mengenalnya, dan dia juga semakin mengenal saya. Ibu saya selalu berkata, ‘Anak mencintaimu itu satu hal, tetapi berbagi hal yang kalian sukai itu hal lain.’ Saat itu saya bukan Anderson .Paak, saya hanya Ayah,” kenang Paak.
Dari momen kebersamaan tersebut muncul gagasan untuk membuat film bertema K-pop yang menyatukan identitas Black dan Korea. .Paak tidak hanya menulis dan menyutradarai proyek itu, tetapi juga mengajak Soul untuk ikut bermain.
Ide awalnya dipresentasikan bersama sahabat lamanya, Jonnie “Dumbfoundead” Park, kepada rumah produksi Stampede Ventures. Mereka bahkan menunjukkan video TikTok .Paak dan Soul sebagai bagian dari presentasi.
“Anderson bertanya, ‘Kamu tahu BET, Nak?’ dan Soul menjawab, ‘Tidak, tapi saya tahu BTS.’ Mereka berdebat soal BET dan BTS. Itulah keseluruhan konsepnya — energi itu kami jadikan film dua jam,” kata Park. Menurutnya, pihak studio langsung memahami kekuatan cerita tentang hubungan lintas generasi dan lintas budaya antara komunitas Black dan Korea.
Film “K-Pops!” mengisahkan BJ, musisi R&B bar karaoke yang gagal dan mendapat kesempatan menjadi drummer dalam ajang kompetisi K-pop di Korea Selatan.
Di sana ia bertemu Tae Young, peserta muda yang ternyata adalah anak kandungnya. Kisah berkembang menjadi perjalanan emosional ayah dan anak yang berusaha memahami satu sama lain di tengah perbedaan budaya dan identitas.
Bagi .Paak, cerita itu sangat personal. Ia sendiri berdarah Black dan Korea. Ibunya lahir di Korea dan diadopsi keluarga militer Black American di California Selatan, sementara ayahnya juga seorang perwira militer Black. Meski memiliki darah Korea, ia tumbuh dalam lingkungan budaya Black dan baru mendalami sisi Koreanya ketika dewasa.
“Di rumah tangga Korea, anak biasanya tinggal bersama orang tua sampai dewasa untuk saling menjaga,” tuturnya. “Ada sistem yang berjalan. Makanan Korea penting, bahasa juga penting. Saya tertarik dengan itu. Anak saya bahkan lama sekali hanya mau makan makanan Korea, baru sekarang mulai mencoba taco.”
Dalam film tersebut, .Paak juga menyoroti akar musik K-pop yang dipengaruhi Motown dan boy band Black Amerika. Ia menegaskan pentingnya penghormatan terhadap sejarah tersebut.
“Tidak ada yang salah dengan orang menginterpretasikan musik Black, selama mereka memberi penghormatan dan menghargainya,” katanya. “Karena kalau tidak, akan ada konsekuensinya. Saya ingin menjelaskan sejarah itu karena begitulah saya melihatnya.”
“K-Pops!” menampilkan kolaborasi lintas budaya, termasuk penampilan musisi legendaris Earth, Wind & Fire serta bintang K-pop Vernon dari Seventeen. Lagu-lagu orisinal dalam film ini ditulis dan diproduseri .Paak bersama Dem Jointz, memadukan unsur K-pop, soul, dan funk.
Meski sempat ragu karena Soul yang menginjak usia 11 tahun mulai tertarik pada genre lain seperti Slipknot, proyek ini akhirnya tetap berjalan. Pada pemutaran perdana dunia di Festival Film Internasional Toronto, .Paak menyaksikan langsung reaksi keluarga dari pihak ibu Soul yang datang dari komunitas Korea.
“Semua orang sangat menikmatinya,” kenang .Paak. “Soul bilang, ‘Saya bangga padamu, Ayah.’ Saya bertanya apakah dia mau membuat sekuel. Dia bilang, ‘Akting bukan passion saya, tapi saya tidak akan melupakan momen itu… mungkin tergantung naskahnya.’”
Film “K-Pops!” dijadwalkan tayang perdana di Los Angeles dan dirilis terbatas di bioskop pada Jumat. Lebih dari sekadar film musik, karya ini menjadi refleksi perjalanan Anderson .Paak sebagai ayah yang berusaha menjembatani perbedaan generasi, budaya, dan identitas melalui bahasa universal bernama musik.