Raksasa kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) asal China, BYD, melakukan langkah mengejutkan di tengah dominasi pasarnya yang kian tak terbendung. Pabrikan yang bermarkas di Shenzhen ini resmi memangkas sekitar 100.000 tenaga kerja atau setara 10 persen dari total karyawannya sepanjang tahun 2025.
Langkah drastis ini diambil bukan karena penurunan permintaan, melainkan sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran untuk meningkatkan efisiensi operasional di tengah persaingan harga yang kian berdarah-darah.
Berdasarkan laporan tahunan 2025, jumlah karyawan BYD kini menyusut menjadi 870.000 orang. Meski melakukan perampingan, performa finansial BYD tetap mencatatkan angka yang mencengangkan, demikian laporan dari CarNewsChina, Rabu (01/04/2026).
Pabrikan ini membukukan pendapatan sebesar 8.039,6 miliar Yuan (setara Rp17.800 triliun). Angka ini didorong oleh rekor pengiriman kendaraan yang mencapai 4,60 juta unit di seluruh dunia. Bahkan, untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, volume ekspor BYD berhasil menembus angka psikologis 1 juta unit dalam setahun.
Namun, di balik menterengnya angka penjualan, laba bersih BYD tercatat turun sekitar 19 persen menjadi 326,2 miliar Yuan (sekitar Rp720 triliun).
Di tengah kompetisi yang semakin ketat di pasar domestik China, produsen otomotif menghadapi tekanan harga yang signifikan akibat perang diskon besar-besaran demi mempertahankan pangsa pasar.
Kondisi ini memaksa banyak merek untuk menurunkan margin keuntungan sambil tetap menjaga daya saing. Namun di sisi lain, langkah agresif tetap dilakukan dalam pengembangan teknologi.
Salah satunya terlihat dari komitmen besar BYD yang terus menggelontorkan investasi riset dan pengembangan (R&D) hingga 634 miliar Yuan, guna mempercepat inovasi baterai dan membangun infrastruktur pengisian daya generasi terbaru sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Untuk mempertahankan tahta sebagai raja EV global, BYD baru saja memperkenalkan teknologi revolusioner pada 5 Maret 2026, yakni Blade Battery 2.0 yang dilengkapi fitur Flash Charging 2.0.
Teknologi ini diklaim berpotensi mengubah peta persaingan otomotif global berkat kemampuan pengisian daya yang luar biasa cepat. Dalam pengujiannya, baterai dapat diisi dari 10% hingga 70% hanya dalam waktu sekitar 5 menit, sementara pengisian hampir penuh dari 10% hingga 97% bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 9 menit, menghadirkan standar baru dalam efisiensi dan kepraktisan kendaraan listrik.
Terobosan ini menjadi jawaban BYD atas isu range anxiety (kecemasan jarak tempuh) yang selama ini menjadi penghambat konsumen beralih ke mobil listrik.
Pasca restrukturisasi dan peluncuran teknologi baterai baru, BYD langsung tancap gas dengan menaikkan target ekspor tahun 2026 menjadi 1,5 juta kendaraan. Angka ini naik 15 persen dari target sebelumnya.
Meskipun penjualan domestik di China sempat mengalami fluktuasi jangka pendek pada Februari 2026—turun 41 persen karena faktor musiman libur panjang—BYD optimistis bahwa Blade Battery 2.0 dan perluasan infrastruktur charging akan membuat permintaan kembali stabil dan melonjak dalam beberapa bulan ke depan.
Langkah pemangkasan 100.000 karyawan BYD diharapkan perusahaan tidak lagi sekadar mengejar kuantitas tenaga kerja, melainkan bertransformasi menjadi organisasi yang lebih ramping, efisien secara biaya, dan sangat agresif dalam penguasaan teknologi tingkat tinggi.